Menurut Kamu, Siapakah Aku ini?

Menurut Kamu, Siapakah Aku ini?

2 Komentar 654 Views

Seorang pemuda mempunyai empat saudara laki-laki. Suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dan menikahinya. Sang pengantin wanita menjalani empat hari pertama perkawinannya untuk menyesuaikan diri. Pada hari kelima, ia memasak sepanci bubur. Sepiring bubur diberikan kepada suaminya dan empat piring bubur lainnya diantarnya kepada ipar-iparnya yang tinggal di rumah lain. Namun ipar-iparnya itu tidak mau makan bubur itu, kecuali ia dapat menyebutkan nama mereka. Sayang sekali perempuan itu tidak mengenalnya. Dengan terpaksa ia membawa kembali piring-piring berisi bubur tersebut pulang ke rumahnya dan menghabiskannya bersama suaminya.

Keesokan harinya hal yang sama terulang kembali. Perempuan itu lalu berpikir, “Bagaimana caranya aku mengenal nama ipar-iparku, sehingga mereka mau makan buburku?” Ketika matahari terbenam, ia mengambil ubi kayu untuk ditumbuk menjadi tepung. Ia menaruh ubi kayu itu di dalam lesung, lalu menumbuknya dengan alu. Seekor burung kecil terbang dan hinggap di sebatang pohon dekat tempat itu. Burung itu mulai bernyanyi:

“Ipar-iparmu, tidakkah engkau mengenal nama-nama mereka? Dengar, aku akan mengatakannya kepadamu! Ditumbuknya ubi kayu! Yang satu bernama Tumba Sikundu, yang lain bernama Tumba Sikundu Muna. Yang satu lagi bernama Tumba Kaulu, yang lainnya bernama Tumba Kaulu Muna. Dengar, aku telah mengatakannya padamu.”

Perempuan muda itu menghempaskan alunya ke tanah. Ia memungut sebuah batu untuk menghalau burung itu. “Berisik,” katanya. Burung kecil itupun terbang. Ketika tepung itu jadi, perempuan itu membawanya masuk ke rumah dan memasaknya menjadi sepanci bubur. Setelah masak, dibawanya beberapa piring kepada ipar-iparnya. Mereka berkata, “Sebutkanlah nama-nama kami.” Perempuan itu menjawab: “Aku tidak mengenal nama-nama kalian.” Mereka pun lalu berkata, “Bawalah kembali bubur ini.” Maka ia membawa bubur itu kembali ke rumahnya untuk dimakan bersama suaminya.

Keesokan harinya, ia kembali ke tempat penumbukan untuk menumbuk ubi kayu. Tatkala ia mulai menumbuk, burung kecil yang sama datang lagi untuk memberitahukan hal yang sama seperti yang disampaikannya kemarin. Burung itu kembali dihalaunya. Meskipun demikian, setelah burung itu pergi, perempuan itu sadar bahwa burung itu telah memberitahukan nama-nama iparnya kepadanya. “Sekarang aku mengerti,” pikirnya.

Ketika tepung itu jadi, ia memasaknya menjadi sepanci bubur dan membawanya kepada ipar-iparnya. Mereka berkata, “Kami akan makan bubur ini kalau engkau dapat menyebutkan nama-nama kami.” Perempuan itu berkata, “Yang satu bernama Tumba Sikundu, yang lain bernama Tumba Sikundu Muna, yang satunya lagi bernama Tumba Kaulu, dan yang lain bernama Tumba Kaulu Muna.” Ipar-iparnya tertawa. Mereka menerima bubur itu dan memakannya. (Cerita rakyat ini disadur dari buku C.S.Song “Sebutkanlah Nama-Nama kami”–Teologi cerita dari Perspektif Asia)

Cerita rakyat ini menggambarkan tentang apa yang harus dilakukan seseorang ketika akan memasuki suatu babak baru dalam kehidupannya, ketika ia memutuskan untuk masuk dalam suatu situasi atau tempat dengan budaya yang berbeda. Seperti cerita di atas, sang pengantin perempuan telah masuk ke dalam keluarga suaminya. Ia bukan lagi orang luar, melainkan orang dalam karena sudah memiliki hubungan dengan anggota-anggota keluarga lainnya. Ia bukan lagi tamu, tapi sudah menjadi anggota keluarga. Ia bukan lagi orang asing, tapi sudah menjadi warga setempat.

“Sebutkanlah nama-nama kami!” berkaitan dengan hubungan akar-akar budaya Anda dan saya, berkaitan dengan masa depan suatu persekutuan yang diperluas, diperkaya dan diperkuat.

Pengantin muda yang tidak dapat menyebutkan nama ipar-iparnya itu merupakan gambaran misi Kristen yang telah mengecewakan banyak orang dengan jawabannya, “Aku tidak mengenal Islammu, Hindumu, Kejawenmu, Dayakmu, Batakmu, Sumbamu. Aku tidak mengenal sejarah atau asal muasalmu dan aku tidak merasa perlu memperhatikan hal itu. Penderitaan dan pengharapanmu, tidak kupahami. Yang penting, kalian mengerti Injil/kabar baik untuk kalian dengar, iman untuk kalian miliki, para pemikir yang melebihi guru moral kalian. Dan yang paling penting, kalian harus menerima Yesus sebagai Juru Selamat kalian, sebagaimana yang kami mengerti dari Alkitab kami dan bukan seperti yang kalian pahami dari sejarah kalian.

Nama kalian begitu sulit didengar apalagi diucapkan, karena itu kami tidak perlu mengenal nama-nama kalian. Nama-nama itu kedengarannya sulit, aneh dan sedikit pun tidak kristiani. Kami mempunyai nama-nama yang lebih baik untuk kalian–nama-nama Kristen. Mulai sekarang kalian akan dipanggil Charles, Helen, Robert, Mary, Thomas.”

Mangombe adalah sebuah nama Afrika yang berarti “seorang yang mempunyai banyak ternak.” Ketika ia menjadi Kristen, ia diberi sebuah nama “Kristen,” yaitu Charles. Tapi apakah hubungan antara “Charles” dengan “Mangombe”? Sebagai Charles, Mangombe terputus hubungannya dengan asal-usul keluarganya. Ia tersisih dari suku, bangsa dan sejarahnya. Mangombe adalah seseorang, sedang Charles bukan siapa-siapa.

Inikah yang dikehendaki Yesus? Bukankah dalam pelayanan-Nya, Yesus disibukkan untuk mengubah “bukan siapa-siapa” menjadi “seseorang?” Segala sesuatu yang terkait dengan perbuatan keji dan menghancurkan orang lain dicela-Nya, tetapi Ia memberikan pujian pada kebaikan yang ada di dalam diri setiap orang. Kebaikan hati orang yang tersisihkan seperti orang Samaria, dipuji dan digunakan sebagai contoh perbuatan mulia yang berkenan di hadapan Tuhan (Luk.10:30-37). Demikian juga tindakan iman orang asing (non Yahudi) dalam diri perempuan Kanaan telah mengundang decak kagum dalam diri Yesus (Mat.15:21-31)

Pemberontakan terhadap Kekristenan sering kali bukan pemberontakan terhadap Yesus, melainkan terhadap jenis misi Kristen yang berusaha mengubah nama-nama pribumi dengan nama-nama Kristen (baca: barat), mengganti nilai-nilai budaya lain dengan nilai-nilai budaya Kristen (baca: barat). Injil, dan terlebih-lebih Khotbah di Bukit, telah menyentuh hati banyak orang Asia: salah satu yang paling terkenal adalah hati Mahatma Gandhi.

Mempertemukan seseorang dengan Yesus sendiri adalah tugas utama Pekabaran Injil. Pertanyaan yang menuntut pengakuan langsung dari setiap pribadi yang berjumpa dengan Yesus adalah: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawabannya bisa berbeda-beda tergantung pada refleksi teologis seseorang yang hidup dan berada dalam suatu budaya tertentu. Misalnya bagi Petrus, Yesus adalah Mesias dari Allah (Luk.9:20). Dalam budaya Yahudi, Mesias dipahami sebagai figur penyelamat yang dinanti-nantikan kedatangan-Nya.

Yesus sudah mendengar berbagai jawaban dari orang banyak, tapi Ia tetap melanjutkan pertanyaan-Nya (Luk.9: 18-19), sambil menantikan jawaban yang kontekstual, relevan dan kreatif; suatu jawaban yang berakar pada pergumulan konteks lokal atau setempat, karena itu tidak akan pernah hanya ada satu teologi (teologi dari barat), melainkan banyak teologi tergantung pada konteksnya masing-masing. Kita membayangkan bahwa Yesus pada masa lalu, sekarang dan yang akan datang senantiasa bertanya kepada semua orang di segala tempat, dan biarlah mereka menjawab dari dan di dalam konteks masing-masing tempat di mana mereka tinggal.

“Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Yesus berharap bahwa para murid memahami makna di balik nama-Nya, mereka harus mengenali nama-Nya, sebuah nama yang menopang kebenaran dan kasih. Karena itu pesan bagi kita di bulan Budaya 2011 ini ialah agar jemaat GKI Pondok Indah tidak hanya mempunyai kemampuan untuk memberi nama, melainkan juga kemampuan untuk mengenali nama. Bukan memaksa orang lain untuk memahami pemikirannya, melainkan juga mau memahami pemikiran yang lain. Bukan hanya mau supaya orang lain mengenal dan mengakuinya, tetapi juga mau menghargai keberadaan orang yang berbeda dengannya. Bukan hanya mau orang lain mengerti budayanya, tapi juga mau mengerti kebiasaan dan budaya orang lain. Dengan demikian terciptalah budaya GKI Pondok Indah sebagai sebuah jemaat yang hidup, terbuka, partisipatif dan peduli.

Pdt. Tumpal Tobing

2 Comments

  1. Yusuf Kurnianto

    sangat membangun iman dan memperluas pengetahuan kita akan Injil dan bagaimana kita hrus hidup dalam masyarakat yg berbeda kyalinan, dan kebudayaan.

  2. Ricko Nathanael

    Akhirnya terbentuklah kehidupan kekristenan yang dihayati dalam kehidupan sehari-hari dalam konteks negara Indonesia. Sehingga muncullah semangat hidup beriman kristen yang khas, “Dari Indonesia” bukan “Di Indonesia”. Pasti Pak Tumpal ingatkan ? 🙂 (Dari seorang murid yang pernah bapak didik dulu sewaktu di STT ABdiel Ungaran – Pdt. Ricko Nathanael) Salam kangen Pak Tumpal 🙂

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Teknologi dan Keluarga
    Sejak munculnya “Teori Generasi”, kita diperkenalkan dengan istilah generasi: ‘Baby Boomers’, ‘X’, ‘Y’, ‘Z’, ‘Alpha’. Perbedaan generasi tersebut tentu...
  • Berbeda itu Indah
    Sulit dibayangkan bila segala sesuatu dalam hidup ini seragam. Semua gunung sama bentuk dan tingginya. Pantai-pantai di Bali, di...
  • Bersyukur & Bersaksi
    Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa. (1 Tawarikh 16:8) Mengucap syukur sejatinya adalah sebuah kesaksian....
  • Menyongsong Fajar Kebangkitan
    Orang bilang bahwa dalam mempertimbangkan atau mengalami banyak hal, yang menentukan adalah “suasana hati.” Dalam pengalaman sehari-hari, memang kerap...
  • berbuah
    Pemimpin: Dari Hamba Ke Sahabat
    Kita sudah terlalu sering memakai kata “pelayan,” “pelayanan,” atau “melayani” untuk menunjuk pada karya dan kegiatan kristiani di dalam...
Kegiatan