Menjadi Anak-anak Bapa

Menjadi Anak-anak Bapa

Belum ada komentar 4 Views

Suatu kali anak saya datang dengan penuh penyesalan karena telah memberikan gelangnya kepada teman bermainnya. Saya bertanya kepadanya, “Mengapa kamu memberikan gelangmu kepada dia?” Dengan penuh penyesalan karena masih menyukai gelangnya, ia berkata, “Aku harus memilih, menjadi teman terbaiknya dengan memberikan gelangku atau kehilangan dia.”

Tekanan sosial yang kita alami rupanya mendorong kita untuk memilih antara pilihan yang buruk atau lebih buruk. Bagi seorang anak berusia 6 tahun, berdamai dengan temannya dengan cara memberikan barang kesayangannya merupakan pilihan yang lebih baik daripada mempertahankan barang kesayangan tetapi kehilangan teman “baik”nya.

Melalui bacaan Matius 5:38-48 hari ini, kita diingatkan untuk memiliki batasan yang jelas sehingga kita dapat mengambil keputusan di tengah dilema sosial yang kita hadapi. Batasan yang ditawarkan oleh Yesus melalui Injil Matius adalah memilih untuk tetap menjadi anak-anak Bapa.

Kalau melihat perikop lainnya di dalam kitab Matius, kita akan menjumpai peran Sang Bapa yang sangat dekat dengan kita. Bapa digambarkan sebagai seorang Bapa yang penuh kasih, mendengarkan doa, mengampuni dan memenuhi kebutuhan hidup kita. Konsekuensi dari memiliki Bapa seperti itu, tentu saja kita juga mengimitasi sikap Sang Bapa, yang juga penuh kasih, mengampuni.

Kembali ke kasus anak saya, apakah berarti anak saya harus memberikan gelangnya demi memertahankan sebuah pertemanan? Bukan jawaban yang mudah tentunya. Apalagi jika pilihan itu dia ambil berdasarkan pilihan yang lebih membawa damai sejahtera. Namun PR (pekerjaan rumah) bagi kami, tentu juga bagi kita, adalah memiliki batasan nilai-nilai yang jelas, bagaimana kita seharusnya bersikap sebagai anak-anak Bapa saat menghadapi berbagai tantangan dan tekanan sosial di sekitar kita.

Pertanyaannya:

  • Apakah kita bertekad untuk mengetahui batasan-batasan itu sebagai anak-anak Bapa?
  • Apakah kita mau belajar menjadi anak-anak Bapa dengan bersikap seperti yang Dia kehendaki?

[Riajos]

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • sekolah kehidupan
    Sekolah Kehidupan: Tuhanlah Gembalaku!
    Mazmur 23:1 Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
    Apakah saudara pernah merasa sendirian dan kesepian? Daud pernah mengalaminya. Hal yang paling tidak mudah dilalui oleh seorang adalah...
  • pulihkan
    Sekolah Kehidupan: Tuhan Pulihkanku!
    Mazmur 80:3
    Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat. Bagaimana mungkin wajah Tuhan bersinar kepada kita jika...
  • sekolah kehidupan
    Keluarga: SEKOLAH KEHIDUPAN
    Filipi 2:5
    hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Bagaimana mungkin kita dapat...
  • allah menyesal
    Allah Menyesal
    Yun. 3:10-4:11; Mzm. 145:1-8; Flp. 1:21-30; Mat. 20:1-16
    Apabila ada salah seorang dari saudara kita yang berdosa kemudian bertobat dan Tuhan mengampuninya, bagaimana kah sikap kita, senang...
  • Mengampuni itu Indah
    Kejadian 50: 15-21, Mazmur 103: 1-13; Roma 14: 1-12; Matius 18: 21-35
    Seorang ibu dari Afrika Selatan, Joyce Ledwaba mengampuni pembunuh anaknya – Samuel yang berusia 17 tahun – Samuel menghilang...
Kegiatan