Memeluk dan Menyambut

Memeluk dan Menyambut

2 Komentar 420 Views

Ironis sekali! Sementara Yesus dengan penuh pilu di dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem mulai mewartakan penderitaan-Nya (sejak Mrk. :31), menuruni lereng curam ke lembah maut, para murid justru berdesakan menaiki bukit kehormatan, “mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka” (ay. 34).

Lantas, itu sebabnya, Yesus memakai cara yang lebih radikal dari sekadar berbicara dan mengajar para murid yang bebal itu. Ia mengambil seorang bocah, sosok yang kerap paling direndahkan di dalam tata sosial saat itu, memeluknya dan menyatakan sebuah inspirasi spiritual yang luar biasa: Menyambut orang kecil sama dengan menyambut Yesus, menyambut Yesus sama dengan menyambut Sang Bapa (ay. 37).

Ada dua hal yang mendasar hendak Yesus katakan. Pertama, Yesus menolak gaya hidup yang berpusat pada diri sendiri (self-centered), sebagaimana dipertontonkan oleh para murid. Libido kekuasaan kerap menjauhkan kita dari Allah, sesama dan dunia, karena “aku” menjadi pusat semesta. Kedua, Yesus mengundang semua murid-Nya—termasuk Anda dan saya—untuk memasuki sebuah model kemanusiaan baru yang mendekat pada Allah, dengan cara mendekat pada kehidupan Yesus, yang pada gilirannya dilakukan justru dengan cara mendekat—memeluk dan menyambut—mereka yang terkecil di dalam tata sosial. Itulah satu-satunya cara untuk menghayati kedekatan hidup dengan Allah. Menjadi pemimpin besar justru penuh dengan jebakan yang melemparkan kita dari lingkaran kedekatan pada Dia yang justru senantiasa mendekatkan diri pada yang terkecil.

joas

2 Comments

  1. endiyas

    Trima kasih atas Firman Tuhan yang begitu indah..dan menjadi berkat bagi saya., “Tanggapan saya “: kembali dasar pada sifat manusia, selalu ego…ego pada diri sendiri ego pada keluarga, ego pada golongannya, ego pada Gerejanya…dll….apalagi kalau berbicara masalah kekuasaan …kekuasaan yang ada didalam keluarga , lembaga, Gereja..dll, stiap penjabatnya kadang2 lupa diri…bahkan tak terkecuali yg namanya pendeta, rohaniawan…dll tidak merasa…bahwa yg dilakukannya adalah kasih yang tidak seimbang, karena yang paling besar dan yg ditonjolkannya adalah mengasihi diri sendiri (ego),melupakan dan mengabaikan Hukum Kasih yg mendasari bagi stiap orang yg percaya kepada Kristus Yesus, yaitu kasihilah sesamamu… dan yang paling utama Kasihilah Tuhan Allahmu…….(Matius 22 : 37 – 39 ). Dan saya sering menemui…bahwa pemimpin2 besar yg berpredikat rohaniawan atau yg berkecimpung dalam pelayanan Tuhan acap-kali mirip dengan perbuatan murid2 Yesus (Markus 9:33-37) dan ahli2 Taurat (yg munafik), sehingga seringkali membuat hati ini menjadi kecewa. Dan mohon maaf atas tanggapan dan komentar saya yang tidak berkenan. Tuhan memberkati.

  2. endiyas

    Terimakasih atas Firman Tuhan yg begitu indah dan menjadi berkat buat saya. Tanggapan saya : begitulah kehidupan dunia….sebagian besar manusia selalu berpusat pada ego…ego pada diri sendiri, pada keluarga, pada golongan, pada Gereja…dll, palagi kalau berbicara tentang kekuasaan…baik didalam rumah tangga/keluarga, lembaga, pemerintahan, ataupun di Gereja…yg namanya pejabat…apapun itu…termasuk yang namanya pendeta, atau rohaniawan….seringkali menonjolkan keakuannya yg tinggi…seolah-olah hukum kasih yg dimengerti hanya pada “mengasihi diri sendiri (ego)” dan melupakan serta mengabaikan ” kasihilah sesamamu…. dan yang terutama ” kasihilah Tuhan Allahmu…( Matius 22 : 37-39), dan akhirnya perbuatannya mirip dengan perbuatan murid2 Kristus (Markus 9: 33 -37) dan bahkan mirip dengan ahli2 Taurat yg penuh dengan kemunafikan. Dan semuanya itu sering kali terjadi baik dalam Gereja atau lembaga2 Kristen yang katanya sebagai orang2 Kristen…anak2 dan pelayan Allah, yg menteladani dan berpegang teguh pada Kasih Tuhan Yesus Kristus. Dan usulan bila diterima, Firman Tuhan diatas mohon ditambahkan “kalau mau jadi pemimpin besar harus mau menguasai Hukum Kasih dulu….hehehe. Terima-kasih dan Mohon maaaf atas tanggapan dan komentar saya. Tuhan memberkati.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...
  • Taat, Butuh Satu Tekad
    Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32
    Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah...
  • Anugerah yang Mengganggu
    Matius 20:1-16
    Pada umumnya kita ingin mendapat lebih banyak dari orang lain, apalagi kita bekerja lebih lama, lebih berat dari yang...
  • MENGAMPUNI TANPA KENDALI
    Matius18:21-35
    “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Sebuah pertanyaan...