Memeluk dan Menyambut

Memeluk dan Menyambut

2 Komentar 257 Views

Ironis sekali! Sementara Yesus dengan penuh pilu di dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem mulai mewartakan penderitaan-Nya (sejak Mrk. :31), menuruni lereng curam ke lembah maut, para murid justru berdesakan menaiki bukit kehormatan, “mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka” (ay. 34).

Lantas, itu sebabnya, Yesus memakai cara yang lebih radikal dari sekadar berbicara dan mengajar para murid yang bebal itu. Ia mengambil seorang bocah, sosok yang kerap paling direndahkan di dalam tata sosial saat itu, memeluknya dan menyatakan sebuah inspirasi spiritual yang luar biasa: Menyambut orang kecil sama dengan menyambut Yesus, menyambut Yesus sama dengan menyambut Sang Bapa (ay. 37).

Ada dua hal yang mendasar hendak Yesus katakan. Pertama, Yesus menolak gaya hidup yang berpusat pada diri sendiri (self-centered), sebagaimana dipertontonkan oleh para murid. Libido kekuasaan kerap menjauhkan kita dari Allah, sesama dan dunia, karena “aku” menjadi pusat semesta. Kedua, Yesus mengundang semua murid-Nya—termasuk Anda dan saya—untuk memasuki sebuah model kemanusiaan baru yang mendekat pada Allah, dengan cara mendekat pada kehidupan Yesus, yang pada gilirannya dilakukan justru dengan cara mendekat—memeluk dan menyambut—mereka yang terkecil di dalam tata sosial. Itulah satu-satunya cara untuk menghayati kedekatan hidup dengan Allah. Menjadi pemimpin besar justru penuh dengan jebakan yang melemparkan kita dari lingkaran kedekatan pada Dia yang justru senantiasa mendekatkan diri pada yang terkecil.

joas

2 Comments

  1. endiyas

    Trima kasih atas Firman Tuhan yang begitu indah..dan menjadi berkat bagi saya., “Tanggapan saya “: kembali dasar pada sifat manusia, selalu ego…ego pada diri sendiri ego pada keluarga, ego pada golongannya, ego pada Gerejanya…dll….apalagi kalau berbicara masalah kekuasaan …kekuasaan yang ada didalam keluarga , lembaga, Gereja..dll, stiap penjabatnya kadang2 lupa diri…bahkan tak terkecuali yg namanya pendeta, rohaniawan…dll tidak merasa…bahwa yg dilakukannya adalah kasih yang tidak seimbang, karena yang paling besar dan yg ditonjolkannya adalah mengasihi diri sendiri (ego),melupakan dan mengabaikan Hukum Kasih yg mendasari bagi stiap orang yg percaya kepada Kristus Yesus, yaitu kasihilah sesamamu… dan yang paling utama Kasihilah Tuhan Allahmu…….(Matius 22 : 37 – 39 ). Dan saya sering menemui…bahwa pemimpin2 besar yg berpredikat rohaniawan atau yg berkecimpung dalam pelayanan Tuhan acap-kali mirip dengan perbuatan murid2 Yesus (Markus 9:33-37) dan ahli2 Taurat (yg munafik), sehingga seringkali membuat hati ini menjadi kecewa. Dan mohon maaf atas tanggapan dan komentar saya yang tidak berkenan. Tuhan memberkati.

  2. endiyas

    Terimakasih atas Firman Tuhan yg begitu indah dan menjadi berkat buat saya. Tanggapan saya : begitulah kehidupan dunia….sebagian besar manusia selalu berpusat pada ego…ego pada diri sendiri, pada keluarga, pada golongan, pada Gereja…dll, palagi kalau berbicara tentang kekuasaan…baik didalam rumah tangga/keluarga, lembaga, pemerintahan, ataupun di Gereja…yg namanya pejabat…apapun itu…termasuk yang namanya pendeta, atau rohaniawan….seringkali menonjolkan keakuannya yg tinggi…seolah-olah hukum kasih yg dimengerti hanya pada “mengasihi diri sendiri (ego)” dan melupakan serta mengabaikan ” kasihilah sesamamu…. dan yang terutama ” kasihilah Tuhan Allahmu…( Matius 22 : 37-39), dan akhirnya perbuatannya mirip dengan perbuatan murid2 Kristus (Markus 9: 33 -37) dan bahkan mirip dengan ahli2 Taurat yg penuh dengan kemunafikan. Dan semuanya itu sering kali terjadi baik dalam Gereja atau lembaga2 Kristen yang katanya sebagai orang2 Kristen…anak2 dan pelayan Allah, yg menteladani dan berpegang teguh pada Kasih Tuhan Yesus Kristus. Dan usulan bila diterima, Firman Tuhan diatas mohon ditambahkan “kalau mau jadi pemimpin besar harus mau menguasai Hukum Kasih dulu….hehehe. Terima-kasih dan Mohon maaaf atas tanggapan dan komentar saya. Tuhan memberkati.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • sukacita
    Menjalani Hidup Beriman Dengan Sukacita
    Amos 7:7-15; Mazmur 85:8-13; Efesus 1:3-14; Markus 6:14-29
    Renungan: Apalagi selain sukacita dan syukur, ketika kita menyadari kebaikan Allah yang sejak awal mengasihi kita dan menyelamatkan kita....
  • kekuatan dalam kelemahan
    Kekuatan dalam Kelemahan
    Yehezkiel 2:1-5; Mazmur123; 2 Korintus 12:2-10; Markus 6:1-13
    Renungan: Kekuatan dan kelemahan, mungkinkah bersatu? Nampaknya tidak, karena mereka saling bertentangan. Ada benarnya, jika kita hanya melihat ke...
  • sudah dimulai
    Menyelesaikan Yang Sudah Dimulai
    Ratapan 3:22-33; Mazmur 30; 2 Korintus 8:7-15; Markus 5:21-43
    Ada orang yang bisa memulai dengan baik, tetapi tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Lalu bagaimana dengan kita? GKI PI...
  • Setelah Badai Berlalu
    Markus 4:35-41
    Kisah angin ribut diredakan dalam injil Markus, merupakan sebuah pengalaman spektakuler bagi murid-murid Yesus yang berada di dalam perahu....
  • penabur dan benih
    Hidup Sebagai Penabur dan Benih
    Markus 4 : 26-34
    Injil Markus berbicara tentang Kerajaan Allah seperti benih yang tumbuh. Konsep ini berbeda dengan paham Kerajaan Allah dalam masyarakat...
Kegiatan