Membebaskan yang Tertindas

Belum ada komentar 187 Views

Membaca perikop Yesus menyucikan bait Allah (Yoh 2:13-25) memang selalu menarik. Dalam lingkungan masyarakat Yahudi seseorang dapat memiliki strata sosial tinggi karena beberapa hal : memiliki harta, jabatan/kekuasaan, terlebih lagi jika ia dekat dengan lingkungan bait suci. Karenanya imam besar dan orang Lewi sebagai pengelola bait suci mendapat tempat yang tinggi dalam tatanan masyarakat saat itu. Mereka dihormati, dihargai juga dipercaya sebagai pemimpin spiritual masyarakat yang berperan menyelenggarakan ibadah, melindungi dan mengayomi masyarakat lemah & miskin.

Namun praktek jual beli hewan korban di bait suci justru bertentangan dari prinsip tersebut. Dengan motif meraup keuntungan, para imam menetapkan agar setiap orang yang datang beribadah dan hendak mempersembahkan korban harus membeli hewan kurban yang disediakan oleh para pedagang di pelataran bait suci. Hewan-hewan tersebut sangat mahal, hanya orang kaya saja yang mampu membeli dan mempersembahkan korban. Sedang hewan yang dibawa oleh umat seberapapun baiknya dinyatakan tidak layak dijadikan korban. Belum lagi masalah mata uang yang dibawa oleh umat dari berbagai tempat (Roma, Yunani, Mesir, Tyrus, Sidon, dsb) harus ditukar dengan mata uang shekel Galilea / shekel Bait Allah. Semua peraturan tersebut adalah upaya manipulatif para pemimpin agama untuk meraup keuntungan dari peribadahan umat. Fungsi kepemimpinan rohani berubah menjadi sosok penindas bagi orang-orang miskin.

Dalam situasi tersebut, Yesus berani menegakkan kebenaran. Ia berupaya mengembalikan fungsi peribadahan ke tempat seharusnya. Ia ingin mengembalikan fungsi kepemimpinan yang tidak diskriminatif, yang justru memberi tempat terhormat bagi orang-orang yang terpinggirkan : orang miskin, kaum perempuan dan anak, pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Mereka semua orang yang mendapat tempat di hati Allah dan berhak mempersembahkan korban juga.

Dalam hidup ini, kita tentu dipercayakan oleh Tuhan dalam sebuah kepemimpinan tertentu. Sebagai seorang atasan, kepala rumah tangga, istri/suami, ibu rumah tangga, orang tua, seorang kakak, dsb. Sudahkah kita menggunakan kepemimpinan, kepercayaan dari Tuhan tersebut untuk kebaikan dan kesejahteraan orang banyak? Mari kita menghayati kepemimpinan yang melayani, yang mendahulukan kebaikan orang lain di atas kebaikan dan keuntungan diri sendiri. Berorientasi pada orang lain, pada bawahan, pada orang-orang miskin, tertindas & terpinggirkan. Karena itulah yang ditunjukkan Yesus untuk kita teladani.

GPP

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • allah menyesal
    Allah Menyesal
    Yun. 3:10-4:11; Mzm. 145:1-8; Flp. 1:21-30; Mat. 20:1-16
    Apabila ada salah seorang dari saudara kita yang berdosa kemudian bertobat dan Tuhan mengampuninya, bagaimana kah sikap kita, senang...
  • Mengampuni itu Indah
    Kejadian 50: 15-21, Mazmur 103: 1-13; Roma 14: 1-12; Matius 18: 21-35
    Seorang ibu dari Afrika Selatan, Joyce Ledwaba mengampuni pembunuh anaknya – Samuel yang berusia 17 tahun – Samuel menghilang...
  • besar hati
    Allah yang Besar Hati
    Yehezkiel 33:7-11; Mazmur 119:33-40; Roma 13:8-14; Matius 18:15-20
    Alih-alih menghendaki hal buruk (kematian) terjadi kepada orang berdosa, Allah lebih berkenan agar pertobatan terjadi dalam hidup mereka (Yehezkiel...
  • Kasih itu tidak Berpura-pura
    Yeremia 15:15-21; Mazmur 26:1-8; Roma. 12:9-21; Matius 16:21-28
    Kalimat ‘Hendaklah kasih itu jangan pura-pura’ (Roma 12:9). Dalam International Standard Version ditulis demikian: “Your love must be without...
  • Peduli : Mengutamakan Kepentingan Orang Lain
    Lukas 10:25-37
    Si ahli Taurat bertanya: ‘Siapa sesamaku’? Yesus bertanya: ‘Siapa sesamanya’? Kelihatannya sama, tetapi jauh berbeda. Yang satu tertutup (sesamaku)...
Kegiatan