Lihatlah Manusia itu

Lihatlah Manusia itu

Belum ada komentar 63 Views

‘Menjadi manusia’ adalah pergumulan umat manusia sepanjang sejarahnya. Dosa memang sudah menyeret manusia dari kemanusiaannya. Lihatlah, Kain membunuh adiknya Habel.
Sejak saat itu, wajah kemanusiaan semakin bengis. Lamekh membunuh seorang muda karena memukulnya. Pembalasan buat Lamekh haruslah tujuh puluh tujuh kali lipat! (Kej. 4:23-24).

Tetapi ‘Sang Manusia itu’, Yesus Kristus, mengajarkan sebaliknya. Alih-alih membalas, kita malahan diajar untuk mengampuni sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali! (Mat. 18:21-22). Ketika Lamekh membawa kita semakin jauh dari kemanusiaan, maka Yesus menarik kita balik pada kemanusiaan.

Apakah berarti persoalan ‘menjadi manusia’ lalu selesai? O, tidak! Bahkan ‘Sang Manusia itu’ menjadi korban kebiadaban sesamanya.

Pilatus mencoba untuk ‘menyentuh kemanusiaan’ orang banyak. Ia menampilkan Yesus dengan wajah yang memelas. Mahkota duri dan luka sesahan mengalirkan rona merah di wajah dan tubuh-Nya. “Lihatlah Manusia itu!” Para pemuka agama dan penjaga melihat-Nya. Maka berteriaklah mereka dalam kebencian: “Salibkan Dia!” (Yoh. 19:5-6). Agama dengan para pemukanya, yang diharapkan membawa manusia kepada kemanusiaannya, malahan tampil dalam wajah bengis dan brutal. Bukankah sampai sekarang hal semacam itu masih terjadi di sekitar kita? Bagaimana dengan Pilatus? Sang pemimpin pun cuci tangan atas kebrutalan dan kebengisan yang terjadi. Ia harus tetap tampil suci.

Pencitraan pemimpin memang harus seperti itu. Tetapi di tangannya mengalir darah ‘Sang Manusia itu’.

“Lihatlah Manusia itu!” Sang Manusia itu, tidak pernah berhenti untuk membawa manusia pada kemanusiaannya. Di puncak derita-Nya, Ia menitipkan ibu-Nya pada Yohanes. Ia mengajarkan manusia untuk menerima sesamanya (Yoh. 19:25-27). Di kayu salib, Sang Manusia itu mengakhiri hidupnya. Alam semesta gelap pekat. Iblis pun tertawa. Angkara murka merajalela. Tetapi tiga hari kemudian, Sang Manusia itu bangkit dari kematian-Nya. Ia menang! Dan karena itu, manusia selalu mendapat jalan untuk kembali pada kemanusiaannya.

“Lihatlah Manusia itu!” Sang Manusia itu adalah contoh teladan kemanusiaan kita. Ketika kita tidak dapat lagi menemukan teladan kemanusiaan bahkan dalam wajah agama dan para tokohnya. Ketika para pemimpin tidak mampu membawa kita kembali pada kemanusiaan, maka kita diajak untuk melihat sekali lagi kepada Sang Manusia itu! Ialah teladan sempurna kemanusiaan kita. Dalam Dia, kita kembali belajar menerima sesama. Dalam Dia kita kembali belajar apa artinya maaf dan pengampunan. Dalam Dia kita kembali belajar mengasihi dengan kasih sejati. Semoga Paskah tahun ini, membawa kita kembali pada wajah kemanusiaan sejati. Tuhan memberkati!

Pdt. Rudianto Djajakartika

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Kebangkitan
    Kebangkitan-Nya Memulihkan
    Baru-baru ini kami sangat sedih mendengar kabar bahwa sahabat kami sakit. Suatu hari, kami mengunjunginya. Ia sedang berada dalam...
  • Memilih Dengan Bijak
    Setiap orang memiliki sifat alamiah untuk memilih yang terbaik, namun hal itu tidak selalu mudah. Apalagi memilih pemimpin bagi...
  • Keajaiban Natal
    “Waktu kecil kita merindukan Natal, hadiah yang indah dan menawan, namun tak menyadari seorang Bayi t’lah lahir, bawa kes’lamatan...
  • Dari Keluarga Kepada Dunia
    Keluarga Milenial Pada umumnya, sebuah keluarga terdiri atas orangtua, anak, menantu, cucu, mertua, besan. Dalam kehidupan bersama ini, masing-masing...
  • keberagaman
    Menghidupi Keberagaman
    Kemajemukan, dalam sejarahnya, telah menjadi mimpi besar para bapa gereja Gereja Kristen Indonesia (GKI). GKI semula (secara mayoritas) adalah...
Kegiatan