Laodikia: suam-suam kuku

Laodikia: suam-suam kuku

Belum ada komentar 128 Views

Leo Tolstoy, seorang pengarang Rusia yang terkenal, mengarang sebuah cerita tentang rencana iblis mengubah orang murah hati menjadi kikir. Dipilih seorang petani miskin yang sedang bekerja di ladang.

Langkah pertama, iblis mencuri bekal makanan milik petani itu. Pada waktu makan siang tiba, petani itu mencari-cari bekalnya, dan ia merasa heran. “Aneh, tadi kutaruh di sini. Kok sekarang tidak ada.” Wah, ia pasti akan merasa lapar sepanjang hari itu. Pikir iblis itu. Tetapi petani itu berkata di dalam hatinya, “Nggak pa pa, lah. Mungkin yang mencuri membutuhkan makanan itu daripada diriku.”

Karuan saja iblis merasa heran melihat reaksi petani itu. Makanannya hilang, kok iklas dan damai. Rencana si iblis gagal total. Dengan lesu ia melapor pada iblis lain. Dan mendapat saran “Kalau mau membuat seseorang kikir dan serakah, jangan jadikan ia miskin. Jadikan dia kaya.”

Jemaat Laodikia kaya, memperkaya diri dan tidak kekurangan apa-apa. Tetapi Tuhan menilai mereka melarat, malang, miskin, buta dan telanjang. Bahkan Tuhan menegur mereka karena suam-suam kuku, tidak panas dan tidak dingin, mereka akan dimuntahkan. Apa maksudnya?

Suam-suam kuku berhubungan dengan Air. Laodikia tidak memiliki sumber air, hanya menerima Air panas dari Hieropolis yang dapat di minum sebagai obat dan air dingin, sejuk yang menyegarkan dari Kolose. Sayangnya, Air dari Sumber mata air yang baik justru menjadi air yang tidak menyehatkan di Laodikia. Penelitian menemukan bahwa air seperti itu justru menimbulkan penyakit perut, dan membuat mual, seperti sikap Yesus terhadap jemaat di Laodikia.

Alkitab King James Version (KJV) menerjemahkannya tidak panas dan tidak dingin dengan ‘lukewarm‘. Secara figuratif kata ini bermakna tidak punya hasrat untuk membantu atau melawan.

Teguran ini relevan juga bagi kita, apakah sebagai gereja kita sudah menjalankan fungsi dengan baik? Menjadi air yang menyejukkan atau obat yang menyembuhkan bagi sesama?

Siapa bertelinga hendaklah, ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat (ayat22) .

*LS

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • sukacita
    Menjalani Hidup Beriman Dengan Sukacita
    Amos 7:7-15; Mazmur 85:8-13; Efesus 1:3-14; Markus 6:14-29
    Renungan: Apalagi selain sukacita dan syukur, ketika kita menyadari kebaikan Allah yang sejak awal mengasihi kita dan menyelamatkan kita....
  • kekuatan dalam kelemahan
    Kekuatan dalam Kelemahan
    Yehezkiel 2:1-5; Mazmur123; 2 Korintus 12:2-10; Markus 6:1-13
    Renungan: Kekuatan dan kelemahan, mungkinkah bersatu? Nampaknya tidak, karena mereka saling bertentangan. Ada benarnya, jika kita hanya melihat ke...
  • sudah dimulai
    Menyelesaikan Yang Sudah Dimulai
    Ratapan 3:22-33; Mazmur 30; 2 Korintus 8:7-15; Markus 5:21-43
    Ada orang yang bisa memulai dengan baik, tetapi tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Lalu bagaimana dengan kita? GKI PI...
  • Setelah Badai Berlalu
    Markus 4:35-41
    Kisah angin ribut diredakan dalam injil Markus, merupakan sebuah pengalaman spektakuler bagi murid-murid Yesus yang berada di dalam perahu....
  • penabur dan benih
    Hidup Sebagai Penabur dan Benih
    Markus 4 : 26-34
    Injil Markus berbicara tentang Kerajaan Allah seperti benih yang tumbuh. Konsep ini berbeda dengan paham Kerajaan Allah dalam masyarakat...
Kegiatan