Laodikia: suam-suam kuku

Laodikia: suam-suam kuku

Belum ada komentar 143 Views

Leo Tolstoy, seorang pengarang Rusia yang terkenal, mengarang sebuah cerita tentang rencana iblis mengubah orang murah hati menjadi kikir. Dipilih seorang petani miskin yang sedang bekerja di ladang.

Langkah pertama, iblis mencuri bekal makanan milik petani itu. Pada waktu makan siang tiba, petani itu mencari-cari bekalnya, dan ia merasa heran. “Aneh, tadi kutaruh di sini. Kok sekarang tidak ada.” Wah, ia pasti akan merasa lapar sepanjang hari itu. Pikir iblis itu. Tetapi petani itu berkata di dalam hatinya, “Nggak pa pa, lah. Mungkin yang mencuri membutuhkan makanan itu daripada diriku.”

Karuan saja iblis merasa heran melihat reaksi petani itu. Makanannya hilang, kok iklas dan damai. Rencana si iblis gagal total. Dengan lesu ia melapor pada iblis lain. Dan mendapat saran “Kalau mau membuat seseorang kikir dan serakah, jangan jadikan ia miskin. Jadikan dia kaya.”

Jemaat Laodikia kaya, memperkaya diri dan tidak kekurangan apa-apa. Tetapi Tuhan menilai mereka melarat, malang, miskin, buta dan telanjang. Bahkan Tuhan menegur mereka karena suam-suam kuku, tidak panas dan tidak dingin, mereka akan dimuntahkan. Apa maksudnya?

Suam-suam kuku berhubungan dengan Air. Laodikia tidak memiliki sumber air, hanya menerima Air panas dari Hieropolis yang dapat di minum sebagai obat dan air dingin, sejuk yang menyegarkan dari Kolose. Sayangnya, Air dari Sumber mata air yang baik justru menjadi air yang tidak menyehatkan di Laodikia. Penelitian menemukan bahwa air seperti itu justru menimbulkan penyakit perut, dan membuat mual, seperti sikap Yesus terhadap jemaat di Laodikia.

Alkitab King James Version (KJV) menerjemahkannya tidak panas dan tidak dingin dengan ‘lukewarm‘. Secara figuratif kata ini bermakna tidak punya hasrat untuk membantu atau melawan.

Teguran ini relevan juga bagi kita, apakah sebagai gereja kita sudah menjalankan fungsi dengan baik? Menjadi air yang menyejukkan atau obat yang menyembuhkan bagi sesama?

Siapa bertelinga hendaklah, ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat (ayat22) .

*LS

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Memperjuangkan Keadilan
    Am. 5:6-7, 10-15 dan Mark. 10:17-31
    Pemulihan yang diharapkan datang dari Allah untuk umat Israel diberitakan dengan menyerukan perubahan sikap hidup. Amos mengkritisi perilaku tidak...
  • Memperjuangkan Kesetaraan
    Kej. 2:18-24 dan Mark. 10:2-16
    Karya penciptaan yang Allah kerjakan bagi dunia adalah karya penciptaan yang membangun relasi ketergantungan satu dengan yang lain. Ketergantungan...
  • Kerajaan Allah di bumi
    Sungguh, Kerajaan Allah Di Bumi Tak Kalah
    Bilangan 11:4-6, 10-16, 24-29; Mazmur 19:7-14; Yakobus 5:13-20; Markus 9:38-50
    “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (ay. 40) adalah prinsip dasar yang tampaknya perlu kita berlakukan...
  • Piramida Sungsang
    Piramida Sungsang
    Yeremia 11:18-20; Mazmur 54; Yakobus 3:13-4:3, 7-8; Markus 9:30-37
    “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” (ay. 33). Itu pertanyaan yang Yesus ajukan ke para murid. Kedua...
  • Yesus dan Petrus
    Ketika Yesus dan Petrus (dan kita) Saling Menghardik
    Yes. 50:4-9; Mzm. 116:1-9; Yak. 3:1-12; Mark. 8:27-38
    Percakapan dimulai dengan sangat indah. Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?” Lantas para murid mengajukan...
Kegiatan