KAMI SIAP BERUBAH Sesuai Kehendak Tuhan

Belum ada komentar 130 Views

Seorang anggota jemaat bertanya kepada saya tentang kehendak Tuhan untuk rumah tangga dan pekerjaannya. Spontan saya menjawab: “Saya tidak tahu.”

Jawaban saya membuatnya tidak puas.”Masakan seorang pendeta tidak tahu kehendak Tuhan untuk saya?” katanya.

Lalu saya melanjutkan, “Saudara ingin tahu kehendak Tuhan? Bertanyalah kepada-Nya, bukan kepada orang. Hanya relasi bersama Tuhan lewat doa dan Firman membawa kita memahami rencana-Nya bagi kita.”

Yesus adalah contoh terbaik bagi kita dalam mencari kehendak Tuhan, meskipun Dia menghadapi penderitaan dan kesakitan. Matius 26:39 berkata, “Maka Ia maju sedikit dan sujud dan berdoa, kata-Nya: ‘Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin biarlah cawan itu lalu daripada-Ku tapi janganlah seperti yang Kukehendaki melainkan seperti yang Engkau kehendaki.‘”

Kita cenderung tergoda mencari pemecahan sendiri berdasarkan keinginan pribadi atau keinginan orang lain saat kita mengalami penderitaan dan pergumulan panjang yang tak kenal waktu, seperti sakit yang tak kunjung sembuh, sulit memperoleh pekerjaan mapan, kesulitan ekonomi, atau belum menemukan pasangan hidup.

Tema besar Paska tahun ini adalah, “Kami Siap.” Siap apa? Siap melakukan perubahan dalam hidup, siap melakukan Firman Tuhan. Siap berubah sesuai kehendak Tuhan, bukan berdasarkan keinginan dan pendapat orang lain tentang hidup, rumah tangga dan pelayanan kita. Menurut Rasul Paulus, ‘berubah’ terkait erat dengan mengetahui rencana Tuhan.

Surat Rasul Paulus dalam Roma 12:1-2 berkata, “Karena itu saudara-saudara demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Jangan kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Dalam menemukan rencana Tuhan dalam hidup, ada 3 poin yang perlu kita perhatikan:

1. Mempersembahkan Tubuh Sebagai Persembahan yang Hidup Kepada Tuhan
Ada begitu banyak anggota jemaat yang bertanya tentang bagaimana memberi persembahan yang benar. Rasul Paulus berkata, “Persembahkanlah tubuh= seluruh hidup (pikiran, perasaan dan perbuatan) kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup. Bukan persembahan yang mati.” Pada zaman Rasul Paulus, pengorbanan selalu berarti pembunuhan. Kristus telah melakukannya untuk kita dengan mengorbankan diri-Nya dan mati. Dengan demikian persembahan kita bukan lagi sebuah pengorbanan, tapi ucapan syukur atas kehidupan yang dianugerahkan Tuhan. Maka sepantasnya kita memberi persembahan tubuh dengan suka cita, bukan dengan sedih hati atau paksaan (2 Korintus 9:8).

Mempersembahkan tubuh kepada Tuhan tidak memperhitungkan berapa usia kita, atau seberapa sibuknya kita, tapi berlaku sepanjang hayat. Tatkala Tuhan masih memberi kita hidup, maka kita harus memuliakan nama Tuhan. Surat Paulus kepada jemaat Korintus menolong kita untuk mengerti, mengapa kita harus mempersembahkan tubuh kepada Tuhan.

1 Korintus 6:19-20, “Atau tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Alllah,- Dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu.”

Tentu kita masih ingat salah satu ucapan Yesus di kayu salib, “Sudah selesai,” yang dalam bahasa Yunani disebut Tetelestai. Secara harfiah, artinya: dibayar lunas, dibatalkan. Di atas kayu salib, Yesus telah membayar lunas semua dosa-dosa kita, karena itu kita bukan milik kita lagi tapi milik Tuhan.

Bagaimana jika kita mempertahankan tubuh kita sebagai milik kita? Pertama, Rencana Tuhan tidak akan kita ketahui dalam hidup kita. Kedua, predikat kita bukan sebagai orang benar tapi orang fasik (Mazmur 37:21). Sebaliknya, jikalau seorang Kristen secara serius menyerahkan tubuhnya, maksudnya seluruh perbuatan tangan, mata, telinga, mulut dan sebagainya kepada Tuhan, maka ia akan bertemu dengan kehendak Tuhan dalam hidupnya.

Hidup kita adalah pinjaman dari Tuhan. Sebagai orang benar, kita mengembalikan hidup kepada Tuhan sebagai Pemiliknya, dengan ucapan syukur dan—meminjam istilah perbankan—membayar bunga atas kehidupan yang Tuhan anugerahkan. Yang saya maksudkan dengan ‘bunga’ di sini adalah harta benda yang kita miliki, bakat dan kemampuan untuk melayani Tuhan dan sesama, seperti yang disaksikan oleh jemaat perdana manakala persembahan dianggap sebagai suatu diakonia (Kis. 4:32-37). Jadi konklusinya, sebelum kita memahami rencana Tuhan dalam hidup kita, Tuhan ingin kita menyerahkan diri kepada-Nya sebagai milik-Nya.

2. Serupa Dengan Kristus
Rasul Paulus berkata, “Jangan menjadi serupa dengan dunia ini.” Dalam versi The New Testament in Modern English: “Jangan biarkan dunia memeras Anda dalam cetakannya…” Maksudnya, kita jangan mengasingkan diri dari dunia atau memusuhi dunia yang juga adalah ciptaan dan milik Tuhan, tapi kita harus menghindar dari nilai sistem dunia yang dangkal, yang mengutamakan materi, sensualitas, dan pola hidup instan sebagai jalan kebahagiaan. Orang Kristen seharusnya mengubah dunia serupa dengan Kristus, bukan sebaliknya diubah menjadi serupa dengan dunia ini, walaupun ia selalu diperhadapkan pada persimpangan pilihan yang sulit antara yang duniawi atau yang diperkenan Allah.

Kunci untuk memeriksa adalah motif kita. Seperti yang diucapkan oleh JP Morgan: “Manusia selalu memiliki dua alasan untuk melakukan sesuatu. Yakni alasan yang baik dan alasan yang sebenarnya.” Situasi kadang-kadang menyulitkan kita, tapi pilihan dari keputusan yang kita ambil haruslah jelas. Apakah kita mencoba menyenangkan diri sendiri, kelompok tertentu, orang banyak, atau kita dipanggil sebagai orang percaya yang hidup untuk menyenangkan Tuhan? Setiap hari kita hidup dalam dunia, tapi tidak serupa dengan dunia. Seperti ikan yang hidup di air laut dan tidak menjadi asin. Mengapa? Konon, ikan mempunyai kemampuan mencegah mineral garam laut menyerap ke dalam tubuhnya dan ia juga memiliki penyaringan yang baik. Bagaimana dengan kita yang telah memperoleh “kuasa “ lewat kebangkitan Tuhan?

3. Aku Siap Berubah
Pada era tahun 90-an, serial animasi Kesatria Baja Hitam dan Power Rangers sangat terkenal di kalangan anak-anak. Tokoh-tokoh dalam serial-serial ini dapat berubah dalam sekejap dan dapat kembali ke bentuk semula juga dalam sekejap. Namun bukan perubahan seperti ini yang dimaksudkan dalam Alkitab, melainkan seperti yang dimaksudkan Rasul Paulus dalam Roma 12:2, “…Berubahlah…” dari kata Yunani Metamorphoo. Jadi, bukan perubahan sementara dari suatu sifat, tapi benar-benar berubah dari keadaan sebelumnya. Seperti ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. Bentuk dan karakter ulat tidak ada lagi di dalam kepompong, dan sifat dan karakter kepompong tidak terdapat di dalam kupu-kupu.

Perubahan hidup yang dikehendaki Tuhan berkenaan dengan respons kita atas karya dan penebusan Kristus. Rasul Paulus menyatakan dalam 2 Korintus 7:14, ”Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang”.

Paska tahun ini kembali mengingatkan kita: “Sejauh mana kita mengalami perubahan hidup di dalam Kristus yang bangkit?” Rasul Paulus menganjurkan kita untuk menjadi seorang Kristen yang memiliki pribadi baru dalam segala perbuatan dan pikiran kita. Kita tidak lagi membalas kejahatan dengan kejahatan, tidak mudah tersinggung dan menyimpan kesalahan orang lain, tapi hidup di dalam kasih dan kemurahan Allah, seperti yang sudah Kristus lakukan untuk kita.

» Pdt. Luisye Sia Panjaitan

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Berbeda itu Indah
    Sulit dibayangkan bila segala sesuatu dalam hidup ini seragam. Semua gunung sama bentuk dan tingginya. Pantai-pantai di Bali, di...
  • Bersyukur & Bersaksi
    Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa. (1 Tawarikh 16:8) Mengucap syukur sejatinya adalah sebuah kesaksian....
  • Menyongsong Fajar Kebangkitan
    Orang bilang bahwa dalam mempertimbangkan atau mengalami banyak hal, yang menentukan adalah “suasana hati.” Dalam pengalaman sehari-hari, memang kerap...
  • berbuah
    Pemimpin: Dari Hamba Ke Sahabat
    Kita sudah terlalu sering memakai kata “pelayan,” “pelayanan,” atau “melayani” untuk menunjuk pada karya dan kegiatan kristiani di dalam...
  • Walau Ditolak …
    Pernahkah Anda ditolak? Jelas bukan pengalaman yang menyenangkan. Ketika permintaan Anda ditolak oleh seseorang, Anda masih dapat mengatakan kepada...
Kegiatan