Hidup Yang Berjahit

Hidup Yang Berjahit

Belum ada komentar 18 Views

Hidup yang berjahit adalah: inkonsistensi etika kehidupan yang mewujud dalam perilaku yang tentu juga inkonsisten. Karena bentuknya adalah inkonsistensi, maka kehidupan semacam ini lalu menjadi sebuah kehidupan yang nampak tidak utuh, terkoyak atau bahkan tercabik dan karena itu perlu dijahit agar setidaknya menjadi lebih utuh.

Dalam bacaan kita hari ini, ‘hidup yang berjahit’ ini nampak dalam diri orang-orang yang menyambut Yesus. Mereka mengharapkan agar Yesus segera membebaskan mereka dari penindasan Roma. Namun ketika Yesus tidak memenuhi harapan mereka, maka mereka justru menindas Yesus dan menyalibkan-Nya.

Dalam kehidupan masa kini, ‘hidup yang berjahit’ itu juga bisa menjadi kehidupan kita. Kita memperjuangkan kebebasan beragama tetapi kita menolak keberadaan agama tertentu. Kita memperjuangkan kehidupan tetapi senang ketika para teroris dihukum mati. Pada dasarnya ‘hidup yang berjahit’ itu selalu bisa muncul dalam diri siapapun, sepanjang kehidupan itu selalu kita lihat hanya dari sisi kita dan bukan dari sisi sesama kita.

Kebalikan dari ‘hidup yang berjahit’ adalah ‘hidup yang tak berjahit’. Hidup yang utuh dan penuh, ada konsistensi etika kehidupan. Karena utuh dan penuh maka tak perlu dijahit. Inilah hidup Yesus. Yesus selalu konsisten dengan kasih-Nya yang bermuara pada salib-Nya. Ketika Ia masuk Yerusalem dan disambut orang banyak, sesungguhnya ini merupakan kesempatan bagi-Nya untuk keluar dari jalan salib. Menjadi pahlawan, mengusir Roma dan menjadi raja! Tetapi Yesus tetap konsisten dengan jalan salibNya. Apakah Yesus tidak pernah memandang hidup dari sisi diri-Nya? Tentu pernah, salah satu contoh di taman Getsemani. Ia berdoa, jika boleh biarlah cawan (salib) itu lalu. Namun pada akhirnya Ia tetap melihat hidup bukan hanya dari sisi diriNya tetapi dari sisi Bapa-Nya dan manusia yang amat dicintai-Nya. Karena itulah Ia berkata: “Jangan kehendak-Ku tetapi kehendak-Mu yang jadi”.

Hidup Yesus lalu menjadi patron buat hidup kita yang kadang terkoyak. Mari menjahit hidup kita sehingga setidaknya menjadi lebih utuh dengan patron hidup Yesus. Biarlah kita berkata bersama Paulus: “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal. 2:20 a).

[RDj]

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...
  • Taat, Butuh Satu Tekad
    Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32
    Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah...
  • Anugerah yang Mengganggu
    Matius 20:1-16
    Pada umumnya kita ingin mendapat lebih banyak dari orang lain, apalagi kita bekerja lebih lama, lebih berat dari yang...
  • MENGAMPUNI TANPA KENDALI
    Matius18:21-35
    “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Sebuah pertanyaan...