Hati yang Cinta Damai

Hati yang Cinta Damai

Belum ada komentar 16 Views

Pada saat makan malam bersama dalam suatu keluarga, seorang anak berumur 6 tahun tiba-tiba bertanya pada orangtuanya: “ayah, tadi dalam cerita Natal diberitahukan bahwa Allah telah turun ke dunia untuk menebus dosa-dosa manusia, kalau Allah turun ke dunia dan meninggalkan Surga, lalu siapa yang tinggal di sana ya ?”, ayahnya tidak dapat menjawab dan berkata: “ sudah lah makannya diselesaikan dulu, setelah itu kita nonton film seri Flipper bersama ya“. Sambil nonton film bersama, sang ayah pun masih terus merenungkan pertanyaan anaknya yang tak pernah terpikir olehnya.

Pertanyaan sederhana tapi kritis ini sebenarnya memberikan makna yang sangat mendalam. Betapa Allah sangat prihatin pada situasi manusia sehingga Ia perlu mewujudkan karya keselamatan di dunia ini, meskipun harus meninggalkan Surga. Hal ini sekaligus mengingatkan bagi mereka yang mencari Surga agar lebih memfokuskan diri menyatakan kepeduliannya terhadap sesamanya.

Dalam merealisasikan karyaNya ini Allah memilih jalan damai dengan hadir dalam sosok seorang bayi yang mungil, yang tidak akan pernah membahayakan dan mengancam siapapun. Sebaliknya kehadiran seorang bayi selalu memancarkan harapan, sukacita dan kedamaian. Jalan yang dipilih Allah untuk menyelamatkan dan membebaskan manusia dari belenggu kuasa dosa ini mencerminkan karakter Allah yang rendah hati tanpa menonjolkan kekuasaan mutlak yang dimiliki Allah.

Karena itu menjadi tugas panggilan kita, berangkat dari hati yang cinta damai, melakukan “pelayanan pendamaian” dimana ada perpecahan: dalam keluarga, dalam komunitas, dalam masyarakat dimanapun kita ditempatkan oleh Tuhan. Sebab perpecahan adalah tanda yang amat menyedihkan dari keadaan umat manusia yang jauh dari Allah.

(TT)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • REKONSILIASI KEMANUSIAAN
    Rekonsiliasi Kemanusiaan
    Yeremia 23:1-6; Mazmur 23; Efesus 2:11-22; Markus 6:30-34, 53-56
    Dunia kita adalah dunia yang terpecah-belah. Karena kita selalu menekankan identitas primordial. Apalagi diperkuat dengan politik identitas. Di tengah...
  • sukacita
    Menjalani Hidup Beriman Dengan Sukacita
    Amos 7:7-15; Mazmur 85:8-13; Efesus 1:3-14; Markus 6:14-29
    Renungan: Apalagi selain sukacita dan syukur, ketika kita menyadari kebaikan Allah yang sejak awal mengasihi kita dan menyelamatkan kita....
  • kekuatan dalam kelemahan
    Kekuatan dalam Kelemahan
    Yehezkiel 2:1-5; Mazmur123; 2 Korintus 12:2-10; Markus 6:1-13
    Renungan: Kekuatan dan kelemahan, mungkinkah bersatu? Nampaknya tidak, karena mereka saling bertentangan. Ada benarnya, jika kita hanya melihat ke...
  • sudah dimulai
    Menyelesaikan Yang Sudah Dimulai
    Ratapan 3:22-33; Mazmur 30; 2 Korintus 8:7-15; Markus 5:21-43
    Ada orang yang bisa memulai dengan baik, tetapi tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Lalu bagaimana dengan kita? GKI PI...
  • Setelah Badai Berlalu
    Markus 4:35-41
    Kisah angin ribut diredakan dalam injil Markus, merupakan sebuah pengalaman spektakuler bagi murid-murid Yesus yang berada di dalam perahu....
Kegiatan