Hati yang Cinta Damai

Hati yang Cinta Damai

Belum ada komentar 37 Views

Pada saat makan malam bersama dalam suatu keluarga, seorang anak berumur 6 tahun tiba-tiba bertanya pada orangtuanya: “ayah, tadi dalam cerita Natal diberitahukan bahwa Allah telah turun ke dunia untuk menebus dosa-dosa manusia, kalau Allah turun ke dunia dan meninggalkan Surga, lalu siapa yang tinggal di sana ya ?”, ayahnya tidak dapat menjawab dan berkata: “ sudah lah makannya diselesaikan dulu, setelah itu kita nonton film seri Flipper bersama ya“. Sambil nonton film bersama, sang ayah pun masih terus merenungkan pertanyaan anaknya yang tak pernah terpikir olehnya.

Pertanyaan sederhana tapi kritis ini sebenarnya memberikan makna yang sangat mendalam. Betapa Allah sangat prihatin pada situasi manusia sehingga Ia perlu mewujudkan karya keselamatan di dunia ini, meskipun harus meninggalkan Surga. Hal ini sekaligus mengingatkan bagi mereka yang mencari Surga agar lebih memfokuskan diri menyatakan kepeduliannya terhadap sesamanya.

Dalam merealisasikan karyaNya ini Allah memilih jalan damai dengan hadir dalam sosok seorang bayi yang mungil, yang tidak akan pernah membahayakan dan mengancam siapapun. Sebaliknya kehadiran seorang bayi selalu memancarkan harapan, sukacita dan kedamaian. Jalan yang dipilih Allah untuk menyelamatkan dan membebaskan manusia dari belenggu kuasa dosa ini mencerminkan karakter Allah yang rendah hati tanpa menonjolkan kekuasaan mutlak yang dimiliki Allah.

Karena itu menjadi tugas panggilan kita, berangkat dari hati yang cinta damai, melakukan “pelayanan pendamaian” dimana ada perpecahan: dalam keluarga, dalam komunitas, dalam masyarakat dimanapun kita ditempatkan oleh Tuhan. Sebab perpecahan adalah tanda yang amat menyedihkan dari keadaan umat manusia yang jauh dari Allah.

(TT)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • pemulihan telah dinyatakan
    Pemulihan Telah Dinyatakan, Sambutlah!
    Yesaya 65:17-25; Lukas 24:1-12
    Pada waktu renungan ini saya susun, pemilihan umum belum terjadi. Apapun hasilnya dan siapapun yang terpilih, sebuah pertanyaan besar...
  • Menyatu Bersama Kristus
    Filipi 2:5-11; Lukas 22:14-23:56
    Kita itu berbeda. Cara pikir kita beda. Karakter beda. Dan banyak perbedaan lainnya. Itulah yang disebut ‘unik’. Manusia itu...
  • Terarah pada kristus
    Terarah pada Kristus
    Fil. 3:4-14; Yoh. 12:1-8
    Bagaimana memahami kata ‘terarah pada Kristus’? Syukurlah rasul Paulus membantu kita. Dalam Filipi 3:7 rasul Paulus menceritakan bagaimana keterarahannya...
  • Berdamai dengan Allah dan Sesama
    Luk. 15:1-3, 11-32
    Apakah yang melegakan seseorang untuk dapat menikmati hidupnya? Dibebaskan dari rasa bersalah dan merasakan bahwa Allah memperkenankan dirinya. Rasa...
  • dengarkanlah
    DENGARKANLAH DIA dan IA MEMBIMBINGMU
    Yes. 55:1-9; Mzm. 63:2-9; 1Kor. 10:1-13; Luk. 13:1-9
    Mendengarkan adalah tindakan yang membutuhkan perhatian untuk membuka diri memahami apa yang dimaksud. Tindakan ini tidak mudah. Pertama-tama kita...
Kegiatan