Hati yang Cinta Damai

Hati yang Cinta Damai

Belum ada komentar 136 Views

Pada saat makan malam bersama dalam suatu keluarga, seorang anak berumur 6 tahun tiba-tiba bertanya pada orangtuanya: “ayah, tadi dalam cerita Natal diberitahukan bahwa Allah telah turun ke dunia untuk menebus dosa-dosa manusia, kalau Allah turun ke dunia dan meninggalkan Surga, lalu siapa yang tinggal di sana ya ?”, ayahnya tidak dapat menjawab dan berkata: “ sudah lah makannya diselesaikan dulu, setelah itu kita nonton film seri Flipper bersama ya“. Sambil nonton film bersama, sang ayah pun masih terus merenungkan pertanyaan anaknya yang tak pernah terpikir olehnya.

Pertanyaan sederhana tapi kritis ini sebenarnya memberikan makna yang sangat mendalam. Betapa Allah sangat prihatin pada situasi manusia sehingga Ia perlu mewujudkan karya keselamatan di dunia ini, meskipun harus meninggalkan Surga. Hal ini sekaligus mengingatkan bagi mereka yang mencari Surga agar lebih memfokuskan diri menyatakan kepeduliannya terhadap sesamanya.

Dalam merealisasikan karyaNya ini Allah memilih jalan damai dengan hadir dalam sosok seorang bayi yang mungil, yang tidak akan pernah membahayakan dan mengancam siapapun. Sebaliknya kehadiran seorang bayi selalu memancarkan harapan, sukacita dan kedamaian. Jalan yang dipilih Allah untuk menyelamatkan dan membebaskan manusia dari belenggu kuasa dosa ini mencerminkan karakter Allah yang rendah hati tanpa menonjolkan kekuasaan mutlak yang dimiliki Allah.

Karena itu menjadi tugas panggilan kita, berangkat dari hati yang cinta damai, melakukan “pelayanan pendamaian” dimana ada perpecahan: dalam keluarga, dalam komunitas, dalam masyarakat dimanapun kita ditempatkan oleh Tuhan. Sebab perpecahan adalah tanda yang amat menyedihkan dari keadaan umat manusia yang jauh dari Allah.

(TT)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Ketika Iman Menuntut Bukti
    Kisah Para Rasul 4:32-35; Mazmur 133; 1 Yohanes 1:1 -2:2: Yohanes 20:19-31
    Saudara, manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup tanpa rasa percaya. Setiap hal yang kita lakukan, selalu berdasar pada...
  • Kebangkitan
    Yohanes 20:1-18
    Para murid dalam duka mendalam setelah melihat Sang Guru mati disalibkan, memilih jalan masing-masing, menyibukan diri demi menghilangkan rasa...
  • Pengosongan Diri
    Filipi 2:5-11, Markus 11:1-11
    Yesus memasuki Yerusalem dengan kesadarannya akan jalan sengsara-Nya, menyambut sengsara itu dengan tangan terbuka. Kesaksian penulis injil Markus, menunjukan...
  • Pemberitaan
    Yeremia 31:31-34; Mazmur 51:2-13; Ibrani 5:5-10; Yohanes 12:20-33
    Pemberitaan apa yang menurut Saudara paling heboh akhir-akhir ini? Vaksin? Varian baru Covid 19? Atau berita tentang KLB Partai...
  • Pemberian
    Di Minggu ini, kita akan bersama diajak untuk merenungkan satu tema, yaitu Makna dalam Peristiwa Pemberian. Kisah percakapan antara...