Great Is The Lord

Great Is The Lord

Belum ada komentar 89 Views

Penulis ingat bahwa pada tahun 2002, dalam persekutuan wilayah di Bintaro, beberapa kali dicetuskan gagasan untuk memerluas pertemuan-yang biasanya hanya dihadiri oleh para orang tua-dengan persekutuan anak-anak. Salah satu media yang dirasa paling strategis adalah pembentukan ensambel musik anak-anak/remaja.

Dengan berbekal iman dan doa terbentuklah ensambel tersebut sekitar bulan September 2002 dengan nama “Imago Dei”. Walaupun bukan pengurus ensambel, namun penulis mengetahui bahwa dengan banyak pengorbanan, kesabaran, ketekunan dan fasilitas terbatas ensambel “Imago Dei” berkembang pesat. Kalau tadinya penampilan pelayanan mereka hanya berupa instrumental, maka sekali-sekali ensambel tersebut digabungkan dengan paduan suara wilayah Bintaro “Agape”.

Pada perayaan pengucapan syukur HUT ke-III “Imago Dei” bulan September 2005 di lantai 3 Gedung Pertemuan GKI Pondok Indah, lagu “Great is the Lord” dikumandangkan secara instrumental sebagai pembuka dan penutup acara. Pujian tersebut telah diaransemen kembali dan penyelenggaraannya dipimpin oleh Thomas Suharja.

Michael W. Smith berasal dari kota kecil Kenova, di negara bagian Virginia Barat. Ayahnya seorang pekerja penyuling minyak dan katering. Ketika Michael berumur 10 tahun, ia mengikuti kegiatan gereja namun setelah menamatkan SMA ia terperosok ke dalam minuman keras dan narkoba. Kemudian ia pindah ke kota Nashville Tennessee dan bergabung dengan band biasa di tempat itu serta masih terus menjalani gaya hidupnya yang berantakan.

Pada saat berusia 20 tahun, ia mengalami puncak kehancuran dan Tuhan menyentuh hidupnya sehingga ia bertobat dan memerbaharui penyerahan dirinya kepada Yesus Kristus. Perubahan yang drastis ini terjadi berkat kontaknya dengan para musisi Kristen. Sejak itu ia mulai menggubah lagu-lagu Kristiani.

Satu peristiwa yang sangat berarti bagi hidupnya dialami ketika ia melihat seorang gadis di perusahaan rekaman. Menurut Michael, itulah cinta pada pandangan pertama dan ia bergegas memerkenalkan dirinya. Pada waktu itu ia sudah sepenuhnya memusatkan diri di bidang musik Kristiani namun belum menyadari bahwa Debbie, wanita yang Tuhan sediakan baginya itu, akan menulis lirik-lirik lagu yang digubahnya. Debbie memberinya 5 anak dan setia mendampinginya sebagai istri dan ibu yang sangat baik bagi anak-anak mereka.

Michael dan istrinya secara penuh waktu melayani Tuhan melalui musik di seluruh Amerika Serikat. Mereka merekam lagu-lagu mereka dan beberapa di antaranya menjadi lagu yang sangat disenangi oleh jemaat.

Debbie bercerita bahwa mereka berdua biasa menulis dan memersiapkan pelayanan musik mereka pada malam hari. Nampaknya inspirasi musik Michael mencapai puncaknya pada saat-saat itu sehingga seringkali mereka mengerjakannya dengan penerangan lilin (itulah sebabnya lagu-lagu ciptaan mereka disebut “writing songs by candlelight”). Sebelum menulis sebuah lagu, mereka selalu berdoa bersama dan membaca Firman Allah yang memberikan ilham kepada mereka.

Mereka mengungkapkan bahwa mereka sungguh mengalami sukacita setiap kali menciptakan lagu. Walaupun tidak semua lagu yang mereka ciptakan diperdengarkan kepada orang lain.

Pada suatu malam hari tahun 1982, Allah menuntun pasangan itu untuk membaca sebuah bagian Alkitab yang mengilhami mereka untuk menyusunnya menjadi sebuah lagu yang sangat indah. Debbie menulis syairnya dan Michael menggubah musiknya, sehingga kedua-duanya menyelesaikan lagu “Great Is The Lord” pada saat yang sama. Pasangan ini sangat bersukacita atas pemberian Allah tersebut dan Michael tergerak untuk memerkenalkan lagu tersebut kepada jemaat gerejanya yaitu Belmont Church Nashville.

Dalam pelayanannya, Michael sering memimpin pujian di jemaatnya. Pada saat ia mengajarkan lagu baru itu kepada mereka, jemaat sangat tergerak oleh lirik lagu tersebut yang menyebutkan jati diri Allah:

  • Suci dan adil
  • Setia dan benar
  • Patut dimuliakan
  • Patut dipuji

Lagu yang sangat terkenal ini diakhiri dengan seruan “Lift up (our) voice because our Lord is great.” (Angkatlah suaramu, sebab Allah kita itu besar).

Michael mengungkapkan pengalamannya: “Saya teringat bahwa saya begitu terharu ketika jemaat mengumandangkan lagu itu. Lagu yang mereka nyanyikan bagaikan paduan suara yang akbar dan saya sungguh merasa diberkati.”

Setelah peristiwa itu, Michael membuat album lagu-lagu pujian dan memasukkan “Great is The Lord” sebagai salah satu lagu di dalam kompilasi tersebut. Segera lagu itu tersebar ke seluruh dunia dan hingga kini menjadi salah satu lagu favorit di gereja-gereja Amerika Serikat

Inilah lirik selengkapnya:

Great is the Lord

Great is the Lord,

He is holy and just;

By His power we trust in His love,

Great is the Lord,

He is faithful and true;

By His mercy He proves

He is love.

Great is the Lord

and worthy of glory!

Great is the Lord

and worthy of praise.

Great is the Lord;

now lift up your voice,

Now lift up your voice:

Great is the Lord!

Great is the Lord!

Sampai di sini penulis memikirkan kelanjutan ensambel “Imago Dei” yang para pemainnya sekarang sudah banyak yang menginjak usia dewasa muda sehingga memerlukan bentuk persekutuan dan instrumen musik yang lebih sesuai dengan umur mereka. Ensambel Imago Dei merupakan inisiatif lokal (menurut informasi sekarang anggotanya tidak terbatas dari wilayah Bintaro).  (Baca: Ayub 5:9, Masmur 96:4, Masmur 145:3, Roma 11:33)

Disadur secara bebas dari The Sacrifice of Praise (Intergrity Publisher) dan Hymns Tyndale Publishers, Inc.

Nono Purnomo


Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Madah
Kegiatan