Dosa Warisan

Dosa Warisan

Komentar ditutup 869 Views

Pak Rudi yang terhormat, saya ingin bertanya mengenai dosa asal/dosa warisan. Saya pernah mendengar adanya pemikiran bahwa sebenarnya hal yang “diwariskan” oleh Adam kepada manusia bukanlah dosa yang diperbuat Adam, melainkan kecenderungan untuk berbuat dosa dan kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri. Apa benar demikian, Pak?

Akan tetapi saya juga pernah mendengar pemikiran bahwa Adam memang “mewariskan” dosa yang diperbuatnya. Nah, jika benar demikian, Pak, bukankah itu menjadi tidak adil, karena wong Adam yang berbuat salah, tetapi koq, semua manusia jadi ikutan berdosa.

Bukan berarti saya menganggap bahwa kalau saya ada di tempatnya Adam saya pasti nggak akan jatuh dalam dosa lho, Pak. Mungkin malah saya nggak hanya makan buahnya, tapi sampai ke akar-akarnya juga. He… he… he… bercanda koq, Pak. Intinya saya tahu bahwa saya nggak lebih baik dari Adam. Mohon penjelasan Bapak mengenai hal ini. Sebelumnya terima kasih atas perhatian dan jawaban dari Pak Pendeta.

Alexandra – Jakarta


Pdt. Rudianto Djajakartika:

Sandra yang baik,
Untuk menjawab pertanyaanmu, saya perlu menjelaskan terlebih dahulu perbedaan antara ‘dosa’ dengan ‘perbuatan dosa’.

Dosa, adalah suatu keadaan di mana manusia memberontak kepada Allah. Sering digambarkan seperti orang yang ‘balik badan’. Dulunya ‘menghadap Allah’ sekarang ‘membelakangi Allah’. Keadaan ini yang kamu sebutkan sebagai ‘kecenderungan untuk berbuat dosa’.

Tetapi saya lebih senang memakai istilah ‘keadaan berdosa’ manusia, bukan ‘kecenderungan’. Sebab kata ‘kecenderungan’ punya konotasi belum berdosa kalau belum melakukan, padahal kesaksian Alkitab menunjukkan bahwa manusia ‘sudah berdosa’ sejak ia dilahirkan (Mz. 51:7). Keberdosaan manusia ini mirip dengan ‘cacat genetik’ yang ada pada setiap keturunan manusia setelah Adam. Hanya darah Yesus yang dapat menyembuhkan ‘cacat genetik’ ini.

Sedangkan ‘perbuatan dosa’ adalah perilaku yang dilakukan manusia sebagai akibat dari pemberontakannya pada Allah. Perilaku itu bisa berbeda-beda. Yang satu mencuri, yang lain membunuh, bisa berdusta termasuk apa yang dilakukan Adam yaitu ‘makan buah terlarang’.

Nah, yang diwariskan oleh Adam tentu bukan perilakunya, tetapi keberdosaannya. Tiap orang bisa melakukan perbuatan dosa yang berbeda, bahkan tiap hari kita juga melakukan perbuatan dosa yang berbeda-beda. Semua itu akibat keberdosaan yang kita warisi dari Adam sejak kita dilahirkan di dunia ini.

Kalau jawaban yang lebih serius begini,
Adam, dalam bahasa Ibrani artinya ‘manusia’. Jadi kitab kejadian sebenarnya ingin menyaksikan bukan hanya Adam sebagai sebuah pribadi tetapi Adam sebagai manusia (mewakili kita semua).

Ketika Adam berdosa, maka yang mau disaksikan adalah bukan hanya Adam sebagai pribadi saja yang berdosa tetapi seluruh umat manusia yang berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Di dalam Adam kita melihat manusia termasuk diri kita.

Dalam kerangka berpikir semacam ini, orang kadang lalu melihat bahwa yang makan buah terlarang itu bukan hanya Adam sebagai pribadi tetapi manusia secara keseluruhan. Apapun itu, yang diwariskan tetap adalah keberdosaannya bukan perbuatan dosanya. Perbuatan dosa adalah akibat dari keberdosaan itu.

Apakah cara pandang pewarisan ini adil? Saya katakan ya.

Dulunya Adam (sebagai pribadi) adalah warganegara Surga. Kemudian karena berdosa ia pindah menjadi warganegara Neraka. Nah, anak-anaknya ikut warga negara orangtuanya bukan? Apapun itu, yang mau disaksikan oleh Alkitab sebenarnya bukan soal waris mewarisi tetapi sebuah keadaan di mana manusia semuanya sudah berdosa dan butuh pertolongan Allah.

Karena itu saya lebih senang melihat Adam bukan sebagai pribadi tetapi mewakili manusia secara keseluruhan. Dalam Adam kita melihat diri kita yang sudah berdosa dari sono-nya, entah dari mana itu.

Nah, semoga jawaban ini memuaskan Sandra. Saya senang dengan pernyataanmu bahwa kamu tidak lebih baik dari Adam. Ini sebuah pernyataan yang penting. Karena sebuah pertobatan selalu berawal dari kesadaran diri bahwa saya tidak baik. Bagaimana mungkin saya memperbaiki kesalahan kalau saya tidak tahu bahwa saya salah? Justru pernyataanmu itu meyakinkan saya bahwa kamu sungguh adalah orang yang baik.

Arsip kategori Pastoralia
  • Persembahan Bagi Tuhan
    Yth. Pak Pendeta, Mengapakah ragi dan madu dilarang digunakan bangsa Israel pada saat membakar hewan-hewan korban di Kemah Suci,...
  • upacara gereja
  • Kerajaan Maut
    Samakah Arti Neraka dan Kerajaan Maut?
    Pak Pendeta yang budiman, Mohon pencerahan mengenai beberapa hal: Samakah arti Neraka dan Kerajaan Maut; dan siapakah yang menciptakannya,...
  • ALLAH Sang Sutradara?
    Bapak Pendeta Yth. Saya sedang membaca kitab Yehezkiel dan di sana terdapat banyak segala nubuatan, baik bagi bangsa Israel,...
  • Manusia Purba
    Pak Pdt. yang baik, Bolehkah saya meminta penjelasan tentang pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, yang mengusik hati saya: Siapakah manusia...
Kegiatan