Dipanggil, Dibentuk dan Diutus

Dipanggil, Dibentuk dan Diutus

Belum ada komentar 430 Views

Jika Anda sempat berkunjung ke kota New York, janganlah lupa mengunjungi jembatan terkenal yang bernama Brooklyn Bridge. Jika Anda kagum dengan keindahannya, Anda perlu berterima kasih kepada keluarga Roebling.

Pada tahun 1883, seorang insinyur cerdas bernama John Roebling tertantang untuk membangun jembatan spektakuler yang dapat menghubungkan kota New York dan Long Island. Banyak ahli pada zaman itu yang merasa ide itu terlalu gila dan meminta John untuk melupakannya. Namun John Roebling tidak peduli karena visi itu begitu jelas di dalam pikirannya. John sangat yakin bahwa jembatan itu dapat terwujud dan ia berhasil meyakinkan anaknya yang bernama Washington untuk membantunya menyelesaikan proyek maha karya itu.

Pembangunan proyek dimulai dengan mulus dan setiap anggota tim begitu bersemangat mengerjakannya. Namun setelah beberapa bulan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa John, sang ayah, sedangkan Washington terluka dan mengalami kerusakan pada otaknya yang menyebabkan ia tidak mampu berkata-kata dan tidak mampu berjalan, bahkan sekadar untuk bergerak pun ia tak sanggup. Kolega-kolega yang dulu mengejek mereka memberikan komentar yang menjadi-jadi. Kata mereka, “Kita telah memberi tahu dia jauh sebelum dia mulai membangun… Mereka hanyalah orang gila dengan impian yang gila.”

Walaupun tergeletak di atas ranjang, Washington tetap memiliki keinginan yang membara untuk mewujudkan impiannya. Pada suatu hari, ia memanggil istrinya dan ia mampu mengajar istrinya hanya dengan menggunakan bahasa isyarat dengan satu jarinya. Ia meminta istrinya menjelaskan kepada para insinyur lainnya langkah-langkah berikutnya. Washington menjalankan dengan sabar selama 13 tahun dengan memberikan instruksi isyarat kepada istrinya dan disampaikan kepada para insinyur sampai akhirnya jembatan itu mampu berdiri dengan megah.

Sikap pantang menyerah dari Washington Roebling mampu mengalahkan kondisi terburuk sekalipun yang ia alami. Tanpa keyakinan dan keinginan yang menggebu-gebu, tidak mungkin jembatan Brooklyn dapat terwujud (dari buku Champion).

Tuhan Membangun “Jembatan”

Juga karena merasa tertantang untuk menyelamatkan umat manusia, maka tak henti-hentinya Tuhan membangun “jembatan” demi “jembatan” untuk menghubungkan diri-Nya dengan segala bangsa di dunia. Jembatan yang tidak terbuat dari beton dan besi, melainkan manusia, yaitu para nabi, para rasul, umat-Nya dan setiap orang yang beriman, yang bersedia menjadi hamba-Nya.

Kalau begitu setiap orang berpeluang menjadi “jembatan” Tuhan, menjadi hamba-Nya, meskipun tidak berjabatan sebagai pendeta atau penatua. Itulah maha karya Allah yang tidak boleh dipandang ringan, sebab Tuhan tidak memaksakan kehendak-Nya. Dan manusia sering berani menolak panggilan Tuhan, karena lebih mendahulukan kepentingan sendiri.

Jika Manusia Bersedia Menjadi Hamba Tuhan

Jika ada yang bersedia menerima panggilan Tuhan, menjadi hamba-Nya, maka Tuhan akan sangat berkenan. Orang yang bersedia menjadi hamba Tuhan dengan segala kerelaan dan kesungguhan hatinya, dapat memiliki keyakinan bahwa sejak dari kandungan ibunya, ia sudah dipanggil oleh Tuhan.

Memercayai hal itu tanpa rasa sesal, akan mendatangkan rasa syukur yang sangat mendalam. Sebab baginya, Tuhan adalah segala-galanya. Dengan demikian menjadi hamba Tuhan mendatangkan kepuasan batiniah sebab merasakan bahwa hidupnya bermakna. Maka dorongan untuk memperkenalkan diri kepada lingkungan yang luas bukanlah merupakan suatu kesombongan, sebab dengan demikian justru sedang merendahkan diri sebagai hamba yang siap melayani (Yesaya 49:1). Sebenarnya Tuhan menghendaki bangsa Israel menjadi hamba-Nya yang dengan rendah hati mau merangkul bangsa-bangsa di dunia, tapi mereka menyalah-gunakan kasih pemilihan Tuhan sebagai alasan untuk meninggikan diri, merendahkan bangsa-bangsa yang lain.

Hubungan Akrab Sudah Terjalin Dengan Tuhan Sedini Mungkin

Hubungan yang sangat pribadi dengan Tuhan terlukis dalam firman-Nya yang indah. Yang pertama kali memanggil nama kita masing-masing, sesungguhnya adalah Tuhan, sebab Dia yang paling mengenal kita. Tuhan dapat mengenal dengan sangat jelas sebab Dialah yang mencipta dan menghadirkan kita ke dalam dunia ini. Dia merasa perlu secara terus menerus membentuk kita, supaya dapat menjadi seperti yang diharapkan untuk mewujudkan rencana dalam Kerajaan-Nya. Pengutusan menjadi tujuan utama dalam diri setiap hamba-Nya. Sekaligus pengutusan menjadi bukti yang mengharukan bahwa Dia bisa mempercayakan tugas penting kepada orang-orang, yang pada dasarnya sangat rapuh.

Hal ini mengingatkan kita kepada yang disebut sebagai “Tumit Akhiles.” Dalam Mitologi Yunani ada cerita tentang seorang ibu yang bernama Tetis. Ia mempunyai seorang putra tunggal yang masih kecil bernama Akhiles. Suatu hari Akhiles dibawa ke tepi sungai Stiks di Hades yang konon airnya berkasiat membuat orang menjadi kebal terhadap senjata. Setelah dewasa, ternyata Akhiles tetap bisa mati oleh panah beracun yang mengenai tumitnya, karena ibunya memegang tumit Akhiles ketika membenamkannya ke dalam sungai Stiks, sehingga hanya bagian tubuh itu saja yang tidak terkena air.

Cerita ini mengingatkan kita bahwa setiap hamba Tuhan pasti mempunyai kelemahan tertentu dalam dirinya, yang harus selalu disadari dan diwaspadai, supaya dapat menjadi utusan Tuhan yang tidak mengecewakan.

Tapi kita tidak perlu terlalu berkecil hati sebab Tuhan menunjukkan tanggung jawab-Nya yang besar, tatkala dikatakan bahwa mulut hamba-Nya akan dijadikan sebagai pedang yang tajam. Perkataan Tuhan sendiri yang membuat mulut kita tidak direndahkan oleh setiap pendengar. Keberadaan kita juga akan menjadi seperti anak panah yang runcing. Itu adalah anak panah yang lurus dan tajam. Kita diharapkan Tuhan memiliki hati yang lurus; jujur kepada diri sendiri, kepada sesama dan Tuhan. Memiliki pengetahuan yang tajam tentang kehendak Tuhan merupakan keharusan seorang hamba Tuhan. Semua itu yang membuat seorang hamba Tuhan memiliki kelebihan yang mendatangkan rasa kagum banyak orang. Bukan karena ketampanan, apalagi kekayaan materinya.

Yesus, Hamba Yang Sejati

Setiap hamba Allah harus mengakui Yesus sebagai Hamba yang sejati. Mengapa demikian? Karena Ia memang dipanggil dan diutus, tetapi tidak perlu dibentuk atau diperlengkapi apapun, oleh siapa pun, karena kesempurnaan-Nya sebagai Anak Allah dan Anak Manusia. Yesus juga Hamba yang sejati sebab sebagai Tuhan sudah rela menghampakan diri sama dengan manusia demi melaksanakan tugas pengutusan dari Bapa-Nya. Yohanes Pembaptis menyebut-Nya sebagai Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Inilah satu kalimat pendek yang dapat menjelaskan tugas besar Yesus Kristus.

Yohanes Pembaptis Membuka Jalan Bagi Yesus, dan Yesus Bagi Kita

Dengan telunjuknya Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus kepada setiap orang yang dijumpainya. Dengan air sungai Yordan ia membaptis Yesus untuk menggenapi kehendak Allah. Tetapi Yesus Kristus membuka jalan keselamatan bagi kita melalui kucuran darah-Nya yang kudus. Selanjutnya Dia juga membuka jalan penginjilan yang harus kita tempuh dengan berbagai kegiatan gerejawi serta macam-macam kesibukan kesaksian di semua aspek kehidupan ini. Dia menyiapkan para rasul, para pengikut-Nya tempo dulu, dan tongkat estafet itu sekarang ada di tangan kita! Apa kata rasul Paulus tentang memberitakan Injil? “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (1 Korintus 9:16).

Ada satu cerita tentang kebodohan yang sangat merugikan. Konon ada seorang janda yang sangat miskin, takut dikunjungi oleh pemilik rumah yang biasa datang untuk menagih sewa rumah. Ia mengunci pintu rumahnya dan memasang palangnya. Ketika ia mendengar pintunya diketuk orang dari luar, ia tidak mau menjawab. Padahal yang mengetuk pintu itu seorang temannya yang membawa uang untuk membayar utangnya. Tujuan orang itu bukanlah menagih, melainkan memberi. Pemberitaan Injil juga seperti itu. Tapi jangan mudah berputus asa jika kegiatan dan maksud baik kita sering disalah-pahami orang.

Apa Yang Paling Menarik Pada Paulus?

Saya pilih: Panggilannya! Menarik karena disertai peristiwa yang sangat menggetarkan. Berlanjut dengan kasih Paulus yang terus bertumbuh! “Hanya dengan mengasihi Kristus kita sebagai hamba Tuhan akan dapat bertahan.” demikian kata Hudson Taylor penginjil yang melayani Cina itu.

Kita boleh terpanggil menjadi hamba Tuhan secara kolektif, dalam suatu kebersamaan, tetapi pada akhirnya panggilan secara pribadi tidak bisa ditawar-tawar lagi. Itu sebabnya dalam menghimpun para rasul, termasuk Paulus, Tuhan Yesus melakukan panggilan secara pribadi.

Pdt. David Sudarta dalam Renungan “Wasiat” berkisah tentang seorang perenang loncat-indah, yang dibesarkan sebagai seorang ateis. Ketika mau berlatih, malam itu semua lampu kolam tidak ada yang dinyalakan. Hanya karena ada atap tembus pandang maka cahaya bulan bisa menjadi penerangnya. Saat ia berada di ujung papan yang tertinggi, ia melakukan gerakan sebelum terjun. Ketika ia membentangkan kedua tangannya, terlihatlah bayangannya sendiri di dinding dalam bentuk salib.Untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa sangat tersentuh, serta membuatnya teringat kepada Yesus Kristus seperti yang sering diceritakan oleh temannya. “Yesus mengasihi siapa saja, termasuk kau,” itulah yang pernah dikatakan temannya. Pemuda ateis itu diliputi rasa haru, tersungkur dan menangis, mohon ampun kepada Tuhan Yesus yang selama ini disangkalnya.

Tiba-tiba lampu kolam hidup, karena dinyalakan oleh seorang petugas. Alangkah kaget dan terharunya dia ketika melihat ke bawah, ternyata kolam itu sedang dikeringkan!

“Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya Tuhan, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami” (Mazmur 40:6a)

Pdt Em. Daud Adiprasetya

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Berbeda itu Indah
    Sulit dibayangkan bila segala sesuatu dalam hidup ini seragam. Semua gunung sama bentuk dan tingginya. Pantai-pantai di Bali, di...
  • Bersyukur & Bersaksi
    Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa. (1 Tawarikh 16:8) Mengucap syukur sejatinya adalah sebuah kesaksian....
  • Menyongsong Fajar Kebangkitan
    Orang bilang bahwa dalam mempertimbangkan atau mengalami banyak hal, yang menentukan adalah “suasana hati.” Dalam pengalaman sehari-hari, memang kerap...
  • berbuah
    Pemimpin: Dari Hamba Ke Sahabat
    Kita sudah terlalu sering memakai kata “pelayan,” “pelayanan,” atau “melayani” untuk menunjuk pada karya dan kegiatan kristiani di dalam...
  • Walau Ditolak …
    Pernahkah Anda ditolak? Jelas bukan pengalaman yang menyenangkan. Ketika permintaan Anda ditolak oleh seseorang, Anda masih dapat mengatakan kepada...
Kegiatan