Beberapa Wacana dalam Menggunakan Istilah yang Baik dan Benar

Beberapa Wacana dalam Menggunakan Istilah yang Baik dan Benar

Komentar ditutup 16 Views

Pak Pendeta, saya memiliki pergumulan yang hingga kini masih belum menemui titik terang. Mohon penjelasan Bapak sehingga iman saya kepada Tuhan menjadi lebih mantap.

  1. Kita sering mendengar umat Kristiani menyebut Tuhan dengan nama ALLAH YANG MAHA ESA. Apakah ini benar? Apabila iman Kristiani mengaku Allah sebagai TRI TUNGGAL, maka sebutan ALLAH YANG MAHA ESA bagi umat Kristiani rasanya tidak tepat, sebab sebutan ini menunjuk pada SATU yang teramat solid. Bukan KESATUAN melainkan betul-betul SATU, atau TUNGGAL. Tidak ada lagi oknum Bapa, oknum Anak dan oknum Roh Kudus, yang ketiganya merupakan suatu kesatuan. Mungkin di dalam bahasa Inggris, istilah YANG MAHA ESA itu dapat diterjemahkan dengan ABSOLUTELY ONE, mutlak satu.
  2. Sering juga umat Kristiani berdoa dengan “… kami PANJATKAN doa ini ke hadapan hadiratMu…” Apakah ini benar? Doa merupakan suatu privilege. Setelah umat Kristiani mendapat anugerah karena diangkat sebagai anak-anak Allah melalui pengorbanan Kristus, mereka mendapat privilege untuk berkomunikasi secara intim dengan Allah, yaitu yang kita kenal sebagai doa. Tetapi Allah juga tetap menyatakan diriNya sebagai YANG MAHA TINGGI, MAHA KUASA, MAHA SUCI, dll. Oleh sebab itu, kita yang mendapat privilege ini perlu tetap menyadari kerendahan diri kita di hadapan Allah, selaku hamba yang tak bernilai jasa sama sekali. Dalam konteks ini, kata-kata yang paling tepat untuk doa adalah dipersembahkan kepada Allah, bukan seperti informasi yang dikirim atau disampaikan dari satu orang ke orang lain. Dengan demikian, istilah “dipanjatkan” rasanya tidak tepat, bahkan terdengar “lucu”, seperti yang pernah dikomentari oleh seorang teman, “Doa kok dipanjatkan sih, emangnya monyet?”
  3. ALLAH YANG MAHA BESAR lebih besar daripada surga. Seyogyanya surga ada di dalam Allah dan bukan sebaliknya, sebab Allah tidak dibatasi oleh apa pun juga. Jadi bagaimana dengan istilah dalam doa “Bapa kami yang ada di dalam surga?” Apakah tidak lebih sesuai bila dikatakan “Bapa kami yang bertahta di surga?” Tuhan Yesus berkata, “KerajaanKu bukan dari dunia ini.” Yesus tidak mau bertahta di dunia, melainkan di surga saja, jadi sebaiknya dikatakan, “Yang bertahta di surga.

Atas penjelasan Bapak saya ucapkan terima kasih.

X di Jakarta

Pdt. Rudianto Djajakartika:

Saudara X, yang pemerhati istilah,

Memang sebaiknya kalau kita mengungkapkan sesuatu dengan bahasa atau ungkapan yang jelas. Istilah yang tidak jelas dan bias memang bisa ditangkap berbeda oleh orang lain. Tetapi ketika kita berbicara tentang Allah, persoalannya menjadi tidak mudah.

Dalam pertanyaan anda, justru anda mengakui keberadaan Allah yang Maha besar dan Maha kuasa. Justru di sinilah masalahnya. Dalam kebesaranNya, maka keberadaan Allah tidak dapat dikunci atau dijelaskan dengan bahasa manusia manapun yang justru punya banyak keterbatasan. Karena itu, yang paling tepat ya kita mengikuti saja apa yang Alkitab telah ungkapkan mengenai Allah, termasuk istilah yang dipakai oleh Alkitab itu sendiri. Di sinipun sebenarnya masih ada masalah, karena bahasa asli Alkitab adalah bahasa Yunani dan Ibrani, serta sedikit Aram. Alkitab bahasa Indonesia adalah sebuah terjemahan dari bahasa aslinya. Persoalannya, istilah bahasa Indonesia kerap tidak bisa mengungkapkan secara persis seperti yang dimaksud bahasa aslinya. Tetapi karena kita orang Indonesia, ya kita ikuti saja Alkitab bahasa Indonesia, tentu dengan sedikit penjelasan.

Berdasarkan pemahaman ini, saya akan menjawab pertanyaan anda:

  1. Ungkapan Allah Yang Maha Esa adalah ungkapan Alkitab (Ul. 6:4). Bahasa aslinya adalah Ehad yang berarti satu atau yang pertama. Memang tidak ada istilah yang paling tepat untuk mengungkapkan realitas Allah Trinitas. Tetapi dalam segala keterbatasan itu, kata Esa saya kira cukup tepat. Esa tidak berarti satu yang solid, sulit mencari padanannya yang tepat, tetapi sampai sekarang saya belum menemukan kata yang lebih tepat.
  2. Kata ‘memanjatkan doa’ memang kurang tepat secara kaidah bahasa, tetapi ‘mempersembahkan doa’ juga bukan berarti yang paling tepat. Kita memang harus menghargai Allah, tetapi juga jangan menghilangkan keakraban kita dengan Nya. Bukankah Dia adalah Bapa kita? Jadi, ya berkomunikasi seperti seorang anak kepada Bapanya, hormat tetapi juga akrab. Lalu istilah apa yang sebaiknya dipakai untuk doa yang kita bawa pada Allah? Karena doa ini sifatnya hubungan pribadi seperti anda nyatakan dalam pertanyaan anda, maka biarlah tiap-tiap orang datang kepada Allah dengan istilahnya masing-masing. Bukankah Tuhan tidak pernah mempersoalkannya? Yang penting, saya setuju dengan anda, harus ada nuansa hormat namun jangan kehilangan nuansa akrab.
  3. Istilah ‘Bapa kami yang di Sorga’ (Mat. 6:9) saya kira sudah tepat. Merujuk kepada sebuah tempat keberadaan Allah. Apakah tempat itu lalu membatasi ‘kebesaran Allah’, tentu tidak. Allah adalah Roh, Ia bisa berada di mana saja. Tetapi untuk ‘menyatakan alamat’ saya kira harus dipilih sebuah istilah yang menyatakan tempat, dan surga adalah ‘alamat’ yang paling tepat. Bagaimana kalau istilah ‘Bapa kami yang bertahta di Sorga’? Saya kira ‘tahta’ bukan alamat, jadi lebih tepat sorga.

Demikian jawaban saya, semoga membantu menyelesaikan pergumulannya ya.


Arsip kategori Pastoralia
  • Kerajaan Maut
    Anugerah Keselamatan
    Pak Pendeta yang budiman, Saya sudah termasuk lansia dan dibaptis sekian puluh tahun yang lalu. Buku pedoman katekisasi yang...
  • upacara gereja
  • Kerajaan Maut
    Samakah Arti Neraka dan Kerajaan Maut?
    Pak Pendeta yang budiman, Mohon pencerahan mengenai beberapa hal: Samakah arti Neraka dan Kerajaan Maut; dan siapakah yang menciptakannya,...
  • ALLAH Sang Sutradara?
    Bapak Pendeta Yth. Saya sedang membaca kitab Yehezkiel dan di sana terdapat banyak segala nubuatan, baik bagi bangsa Israel,...
  • Manusia Purba
    Pak Pdt. yang baik, Bolehkah saya meminta penjelasan tentang pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, yang mengusik hati saya: Siapakah manusia...
Kegiatan