Antara Ahli Taurat dan Janda Miskin

Antara Ahli Taurat dan Janda Miskin

Belum ada komentar 311 Views

Bacaan Injil kita minggu ini menghadirkan dua sosok berbeda: ahli Taurat (Mrk. 12:38-40) dan seorang janda miskin (Mrk. 12:41-44). Yang pertama orang terpandang, yang dengan jubah panjangnya dikagumi banyak orang di keramaian, sedang yang kedua tak terkenal, atau malah tak dikenal sama sekali. Yang pertama suka berdoa, bahkan dengan doa yang panjang-panjang, sedang yang kedua mungkin tak punya cukup waktu untuk berdoa karena keletihannya mencari sesuap nasi. Dengan mata telanjang kita bisa membuat perbandingan di atas. Namun, agaknya, dibutuhkan sebuah mata lain, mata ketiga, mata belarasa yang bening, untuk mampu melihat lebih dari itu. Yesus dengan jeli menunjukkan, bahwa yang para ahli Taurat itu suka “menelan rumah janda-janda,” sedang si janda miskin itu “memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Ketika Yesus berbicara tentang yang pertama, para ahli Taurat, ada kilatan kegeraman di matanya, disertai kepedihan, menyaksikan ketidakadilan sosial yang muncul dari para pejabat agama itu. Resisten, kritis, profetis. Namun, mata yang sama memunculkan solidaritas dan rasa sayang, ketika menyaksikan dua peser uang dimasukkan ke peti persembahan oleh seorang janda, yang amat mungkin menjadi kurban kerakusan ahli-ahli Taurat.

Resistensi pada ketidakadilan, jika tidak disertai oleh solidaritas pada yang lemah, akan memunculkan kepahitan sosial yang tak jarang berujung pada kekerasan. Sebaliknya, solidaritas pada yang tertindas tanpa resistensi pada yang menindas, hanya akan berujung pada keputusasaan.

Gereja agaknya terlalu sering meromantisasi persembahan dua peser si janda miskin, namun gagal bertanya, mengapa si janda hanya mampu memberi dua peser uang dan mencela mereka yang mengakibatkan mengapa si janda hanya mampu memberi uang sekecil itu. Dua peser uang itu sekedar sebuah saksi, bahwa ketidakadilan sudah berlangsung. Namun, dua peser uang itu jugalah sebuah saksi, bahwa ketidakadilan tak mungkin bisa meniadakan rasa cinta pada Allah.

ja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • pengharapan
    ALLAH Trinitas dan Pengharapan Masa Depan
    Roma 5:1-5, Yohanes 16:12-15
    Alkitab menyatakan bahwa menjadi Kristen dan beriman kepada Allah Trinitas tidaklah mudah. Penolakan, pengucilan dan hal-hal yang buruk mungkin...
  • persekutuan
    Kesatuan Gerejawi : Refleksi Allah Persekutuan
    Yohanes 17:20-26
    Rambut sama hitam tapi pikiran berbeda. Pepatah ini mengungkapkan masing-masing orang mempunyai pendapat yang berbeda-beda satu sama lain. Bagaimana...
  • ketaatan
    Iman dan Ketaatan yang Teruji
    Yohanes 14: 23-29
    “Tak kenal maka tak sayang” begitu kata pepatah. “Tak sayang, maka tak mungkin percaya dan menjalin relasi” demikian logikanya....
  • baru
  • Kemenangan Kristus
    Merayakan Kemenangan Kristus
    Wahyu 7:9-17
    Cara manusia menangkap kehadiran dan kuasa Tuhan sangat beragam. Ada yang menangkap hadirnya Tuhan melalui alam, melalui pengalaman saling...
Kegiatan