Antara Ahli Taurat dan Janda Miskin

Antara Ahli Taurat dan Janda Miskin

Belum ada komentar 323 Views

Bacaan Injil kita minggu ini menghadirkan dua sosok berbeda: ahli Taurat (Mrk. 12:38-40) dan seorang janda miskin (Mrk. 12:41-44). Yang pertama orang terpandang, yang dengan jubah panjangnya dikagumi banyak orang di keramaian, sedang yang kedua tak terkenal, atau malah tak dikenal sama sekali. Yang pertama suka berdoa, bahkan dengan doa yang panjang-panjang, sedang yang kedua mungkin tak punya cukup waktu untuk berdoa karena keletihannya mencari sesuap nasi. Dengan mata telanjang kita bisa membuat perbandingan di atas. Namun, agaknya, dibutuhkan sebuah mata lain, mata ketiga, mata belarasa yang bening, untuk mampu melihat lebih dari itu. Yesus dengan jeli menunjukkan, bahwa yang para ahli Taurat itu suka “menelan rumah janda-janda,” sedang si janda miskin itu “memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Ketika Yesus berbicara tentang yang pertama, para ahli Taurat, ada kilatan kegeraman di matanya, disertai kepedihan, menyaksikan ketidakadilan sosial yang muncul dari para pejabat agama itu. Resisten, kritis, profetis. Namun, mata yang sama memunculkan solidaritas dan rasa sayang, ketika menyaksikan dua peser uang dimasukkan ke peti persembahan oleh seorang janda, yang amat mungkin menjadi kurban kerakusan ahli-ahli Taurat.

Resistensi pada ketidakadilan, jika tidak disertai oleh solidaritas pada yang lemah, akan memunculkan kepahitan sosial yang tak jarang berujung pada kekerasan. Sebaliknya, solidaritas pada yang tertindas tanpa resistensi pada yang menindas, hanya akan berujung pada keputusasaan.

Gereja agaknya terlalu sering meromantisasi persembahan dua peser si janda miskin, namun gagal bertanya, mengapa si janda hanya mampu memberi dua peser uang dan mencela mereka yang mengakibatkan mengapa si janda hanya mampu memberi uang sekecil itu. Dua peser uang itu sekedar sebuah saksi, bahwa ketidakadilan sudah berlangsung. Namun, dua peser uang itu jugalah sebuah saksi, bahwa ketidakadilan tak mungkin bisa meniadakan rasa cinta pada Allah.

ja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • berdosa
    Aku lah yang paling berdosa
    I Timotius 1: 12-17
    Baru-baru ini banyak orang dikejutkan oleh berita media sosial yang mengungkap tentang seorang sarjana S2 dari perguruan tinggi negeri...
  • Madu atau Racun ?
    Ulangan 30: 15-20
    Dalam perjalanan umat Tuhan memasuki “tanah perjanjian” Musa mengingatkan bahwa mereka sedang dihadapkan pada sebuah pilihan kehidupan atau kematian,...
  • Semakin serupa seperti Kristus
    Thomas Kempis dalam bukunya “Imitatio Christi”, memulai dengan mengutip Yoh.8:12 “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan...
  • sambut
    Sambutlah Sesamamu
    Lukas 13:10-17
    Setelah mengalami pembuangan, Bangsa Israel hidup kembali di Palestina dan Yerusalem. Nubuat dalam Kitab Yesaya ini memberi pengharapan akan...
  • lemah
    Sambutlah Yang Lemah
    Ibrani. 11:29-12:2
    Saya pernah dipukul oleh kakak pertama saya pada waktu saya kecil. “Kamu pikir saya sansak?” Dia bukan marah atau...
Kegiatan