Antara Ahli Taurat dan Janda Miskin

Antara Ahli Taurat dan Janda Miskin

Belum ada komentar 192 Views

Bacaan Injil kita minggu ini menghadirkan dua sosok berbeda: ahli Taurat (Mrk. 12:38-40) dan seorang janda miskin (Mrk. 12:41-44). Yang pertama orang terpandang, yang dengan jubah panjangnya dikagumi banyak orang di keramaian, sedang yang kedua tak terkenal, atau malah tak dikenal sama sekali. Yang pertama suka berdoa, bahkan dengan doa yang panjang-panjang, sedang yang kedua mungkin tak punya cukup waktu untuk berdoa karena keletihannya mencari sesuap nasi. Dengan mata telanjang kita bisa membuat perbandingan di atas. Namun, agaknya, dibutuhkan sebuah mata lain, mata ketiga, mata belarasa yang bening, untuk mampu melihat lebih dari itu. Yesus dengan jeli menunjukkan, bahwa yang para ahli Taurat itu suka “menelan rumah janda-janda,” sedang si janda miskin itu “memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Ketika Yesus berbicara tentang yang pertama, para ahli Taurat, ada kilatan kegeraman di matanya, disertai kepedihan, menyaksikan ketidakadilan sosial yang muncul dari para pejabat agama itu. Resisten, kritis, profetis. Namun, mata yang sama memunculkan solidaritas dan rasa sayang, ketika menyaksikan dua peser uang dimasukkan ke peti persembahan oleh seorang janda, yang amat mungkin menjadi kurban kerakusan ahli-ahli Taurat.

Resistensi pada ketidakadilan, jika tidak disertai oleh solidaritas pada yang lemah, akan memunculkan kepahitan sosial yang tak jarang berujung pada kekerasan. Sebaliknya, solidaritas pada yang tertindas tanpa resistensi pada yang menindas, hanya akan berujung pada keputusasaan.

Gereja agaknya terlalu sering meromantisasi persembahan dua peser si janda miskin, namun gagal bertanya, mengapa si janda hanya mampu memberi dua peser uang dan mencela mereka yang mengakibatkan mengapa si janda hanya mampu memberi uang sekecil itu. Dua peser uang itu sekedar sebuah saksi, bahwa ketidakadilan sudah berlangsung. Namun, dua peser uang itu jugalah sebuah saksi, bahwa ketidakadilan tak mungkin bisa meniadakan rasa cinta pada Allah.

ja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • dosa
    Tidak Berdosa Lagi
    Kisah Para Rasul 3:12-19; Mazmur 4; 1 Yohanes 3:1-7; Lukas 24:36-48
    Manusia kenal dosa sejak ia jatuh ke dalam dosa. Keinginan untuk berbuat dosa dan harapan untuk meninggalkan dosa bagaikan...
  • damai sejahtera
    Damai Sejahtera Bagi Kamu!
    Kisah Para Rasul 4:32-35; Mazmur 133; 1 Yohanes 1:1-2:2; Yohanes 20:19-31
    Istilah hoax semakin tenar beberapa tahun belakangan ini. Arti hoax adalah berita bohong atau malicious deception, kebohongan yang dibuat...
  • Hilanglah Cemasku!
    Yesaya 25:6-9; Mazmur 118:1-2, 14-24; Kisah Para Rasul 10:34-43; Markus 16:1-8
    Kecemasan dapat menyerang siapa saja ketika rasa aman terampas, ketidak mengertian menyelimuti pikiran, dan menghadapi situasi yang tidak terduga....
  • cari selamat
    Cari Selamat?
    Markus 15:6-15
    Sejak kecil kecenderungan kita, memang cari selamat. Supaya tidak dimarahi karena menjatuhkan piring kesayangan ibunya, seorang anak sembunyi tangan....
  • segenap hati
    Dengan Segenap Hati?
    Yohanes 12:20-33
    Saat saya studi, saya bertemu dengan seorang pemimpin aliran UU. “Jadi, siapa Tuhan Yesus menurut aliranmu?” “Yesus itu, Guru...
Kegiatan