Antara Ahli Taurat dan Janda Miskin

Antara Ahli Taurat dan Janda Miskin

Belum ada komentar 701 Views

Bacaan Injil kita minggu ini menghadirkan dua sosok berbeda: ahli Taurat (Mrk. 12:38-40) dan seorang janda miskin (Mrk. 12:41-44). Yang pertama orang terpandang, yang dengan jubah panjangnya dikagumi banyak orang di keramaian, sedang yang kedua tak terkenal, atau malah tak dikenal sama sekali. Yang pertama suka berdoa, bahkan dengan doa yang panjang-panjang, sedang yang kedua mungkin tak punya cukup waktu untuk berdoa karena keletihannya mencari sesuap nasi. Dengan mata telanjang kita bisa membuat perbandingan di atas. Namun, agaknya, dibutuhkan sebuah mata lain, mata ketiga, mata belarasa yang bening, untuk mampu melihat lebih dari itu. Yesus dengan jeli menunjukkan, bahwa yang para ahli Taurat itu suka “menelan rumah janda-janda,” sedang si janda miskin itu “memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Ketika Yesus berbicara tentang yang pertama, para ahli Taurat, ada kilatan kegeraman di matanya, disertai kepedihan, menyaksikan ketidakadilan sosial yang muncul dari para pejabat agama itu. Resisten, kritis, profetis. Namun, mata yang sama memunculkan solidaritas dan rasa sayang, ketika menyaksikan dua peser uang dimasukkan ke peti persembahan oleh seorang janda, yang amat mungkin menjadi kurban kerakusan ahli-ahli Taurat.

Resistensi pada ketidakadilan, jika tidak disertai oleh solidaritas pada yang lemah, akan memunculkan kepahitan sosial yang tak jarang berujung pada kekerasan. Sebaliknya, solidaritas pada yang tertindas tanpa resistensi pada yang menindas, hanya akan berujung pada keputusasaan.

Gereja agaknya terlalu sering meromantisasi persembahan dua peser si janda miskin, namun gagal bertanya, mengapa si janda hanya mampu memberi dua peser uang dan mencela mereka yang mengakibatkan mengapa si janda hanya mampu memberi uang sekecil itu. Dua peser uang itu sekedar sebuah saksi, bahwa ketidakadilan sudah berlangsung. Namun, dua peser uang itu jugalah sebuah saksi, bahwa ketidakadilan tak mungkin bisa meniadakan rasa cinta pada Allah.

ja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...
  • Taat, Butuh Satu Tekad
    Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32
    Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah...
  • Anugerah yang Mengganggu
    Matius 20:1-16
    Pada umumnya kita ingin mendapat lebih banyak dari orang lain, apalagi kita bekerja lebih lama, lebih berat dari yang...
  • MENGAMPUNI TANPA KENDALI
    Matius18:21-35
    “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Sebuah pertanyaan...