Yang Sudah Tersimpan di dalam Yang Belum

Yesaya 40:1-11

Belum ada komentar 49 Views

Apa yang membuat janji Allah sungguh dapat diharapkan? Berbeda dari janji manusia, janji Allah adalah janji dari Dia yang datang dari masa depan yang memasuki masa kini. Allah kita adalah Allah yang berjanji dari masa depan. Ia membukakan masa kini untuk memasuki masa depan yang telah dirancang-Nya. Yesaya 40 menunjukkan  hal ini. Perikop ini ditulis pada saat bangsa Israel masih berada di dalam pembuangan. Mereka belum mengalami pembebasan. Akan tetapi, ayat 2 menandaskan,  “tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni.” Yang sudah tersimpan di dalam yang belum. Mata telanjang manusia memang belum melihat berlangsungnya pembebasan itu, namun mata iman memampukan orang percaya untuk meyakini bahwa Allah sudah bertindak.

Secara indah, prinsip “yang-sudah-tersimpan-di-dalam-yang-belum” ini diungkapkan di dalam kidung berjudul Hymn of Promise yang kerap dinyanyikan pada masa Advent. Di bait pertama dikatakan, “Di dalam kuncup, ada sebuah bunga / di  dalam benih, adalah sebuah pohon apel ? di dalam kepompong, ada sebuah janji tersembunyi / kupu-kupu akan segera terbebas.” Indah sekali, bukan? Bahkan, seluruh baitnya berbicara tentang janji yang sama. Dan, setiap bait tersebut selalu ditutup dengan sebuah penegasan iman, “Tak disibakkan hingga masanya / Sesuatu yang hanya dapat dilihat oleh Allah sendiri.”

Mata iman dengan demikian adalah memungkinkan kita melihat realitas dengan cara yang sama dengan Allah melihatnya. Pada titik ini, janji Allah mengikat  pengharapan dan iman menjadi satu. Dan tertinggallah satu sisi lain yang tak kalah penting, jika tidak malah paling penting, yaitu cintakasih (bdk. 1Kor. 13:13). Hanya orang-orang yang hidup dalam pengharapan dan imanlah yang mampu mengasihi di tengah situasi yang masih “belum” itu. Dan, saya percaya, itulah yang harus menjadi panggilan Adven di tengah pandemi ini—panggilan untuk terus mencinta. Mencinta sebagai ekspresi pengharapan; mencinta sebagai pewartaaan iman. Dan justru dengan mencinta, kita mengambil bagian ke dalam gerak Allah untuk menghadirkan ”yang sudah” ke dalam realitas “yang belum“ itu.

ja

#YangSudahTersimpandidalamYangBelum

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • The Power of Empathy
    Seorang profesor di sebuah universitas di hari pertama perkualiahan, berdiri dengan tegak di depan mahasiswanya dan memberikan sebuah pendahuluan...
  • Harta Paling Berharga
    Pada umumnya orang merasa bahwa harta yang paling berharga adalah uang. Dengan uang, mereka akan dapat membeli apa pun...
  • Bebaskan Aku Dari Yang Tidak Kusadari
    Bilangan 11:4-6,10-16,24-29
    Kesadaran adalah hal yang biasa kita dengar. Namun biasa didengar bukan berarti mudah untuk dilakukan. Kerapkali dalam melakukan hal...
  • Tidak Mengerti Namun Segan Menanyakannya
    Markus 9:30-37
    Bertanya adalah bagian dari proses belajar. Dengan bertanya kita membuka ruang untuk berdialog, membagi dan mendapat pengertian yang baru....
  • Memilih Menyuarakan Kebenaran
    Markus 8:27-38
    Siapa sih di dunia ini yang ingin mendengarkan kebohongan atau mendengarkan sesuatu yang tidak sebenarnya? Rasanya setiap kita ingin...