Tetap mengasihi walau ditolak

Tetap mengasihi walau ditolak

Belum ada komentar 59 Views

Kata orang cinta romantik amatlah berbeda dengan cinta sejati. Cinta romantik adalah cinta yang menginginkan diri orang yang dicintai. Apa pun yang ada pada diri orang itu, bahkan perasaannya, mimpinya, sejarahnya, waktunya, ingin dimiliki sepenuhnya. Sedangkan cinta sejati adalah cinta yang menginginkan yang terbaik bagi orang yang dicintai. Apa pun adalah demi orang itu, bahkan ketika itu berarti yang terburuk bagi diri sendiri. Cinta sejati yang seperti itu sangatlah ideal. Lebih mudah menekadkannya, apalagi sekadar mengatakannya, ketimbang memraktikkannya. Dan halnya menjadi kritikal ketika terjadi penolakan.

Bayangkan, orang yang kita cintai, dan yang kita yakini mencintai kita, tiba-tiba berhenti mencintai kita. Di samping itu ia memberikan kesan yang amat kuat bahwa ia kini membenci kita. Apa pun yang kita lakukan dan katakan, salah di matanya. Bahkan rasanya menatap kita pun ia enggan. Celakanya kita tidak bisa berhenti memikirkannya. Karena biar pun ia telah berhenti mencintai kita, bahkan membenci kita, kita tidak bisa berhenti mencintainya. Pada satu sisi hati kita remuk-redam, pada sisi lain hati kita adalah persemaian cinta yang niscaya tetap hijau baginya. Dan lambat laun, seiring dengan pupusnya harapan untuk mendapatkan kembali cinta yang hilang itu, dari persemaian hijau itu tumbuh sebuah doa, agar orang yang kita cintai itu mendapatkan yang terbaik.

Begitulah kasih Yesus bagi Yerusalem, bagi umat Bapa-Nya, Israel, bahkan bagi segenap ciptaan. Betapa pun IA ditolak, betapa pun IA meratap, IA tidak menyurutkan tekad-Nya untuk memeluk Yerusalem dan dunia dengan kasih dan pengorbanan-Nya di kayu salib. Inilah kasih yang sejati. Yang bahkan jauh melebihi cinta sejati di atas. Karena kasih Kristus bukan cuma menginginkan yang terbaik bagi Yerusalem dan segenap ciptaan, tetapi memberikan yang terbaik. Yaitu diri-Nya sendiri, seutuhnya.

Bagaimanakah dengan kasih kita? Terhadap Tuhan? Terhadap sesama?

PWS

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Kesalehan yang Berbahaya
    Sasaran kritik Yesus yang paling tajam bukanlah orang yang tidak beragama, melainkan orang beragama, tepatnya para pemimpin agama. Bacaan...
  • Rumah Tanpa Alibi
    Matius 22:34-46
    Dalam bacaan ini, Yesus menghadapi pertanyaan dari orang-orang Farisi dan kemudian bertanya tentang identitas Mesias. Percakapan tersebut mengajak kita...
  • RUMAH TANPA KEMUNAFIKAN
    Matius 22:15-22
    Dalam Matius 22:15-22, orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus melalui pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Mereka memuji Yesus seolah-olah tulus,...
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...