(Tak) ‘Ku Tahu ‘Kan Hari Esok

1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52

Belum ada komentar 6 Views

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yer. 29:11)

Salah satu ciri manusia sebagai ciptaan adalah keterbatasannya secara temporal. Artinya, manusia yang terikat oleh waktu itu tak dapat mengubah masa silam dan tak mengetahui masa depan. la hanya dapat menghidupi masa kini. Semakin cepat kita berdamai dengan kenyataan ini, semakin mudah pula ia merayakan kehidupan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Akan tetapi, manusia tercipta senantiasa dalam relasi dengan Allah yang kekal, yang melampaui masa silam, masa kini, dan masa depan. Bagi Allah, ketiga dimensi waktu tersebut terangkul di dalam kemahatahuan dan kemahakuasaan-Nya. Kita mempercayai bahwa cara Allah mengolah sejarah ini selalu dengan dorongan cintakasih yang selalu terarah pada ciptaan yang dicintai-Nya.

Dalam pengertian ini, di satu sisi, kita tidak tahu masa depan kita sebagai ciptaan yang terbatas. Di sisi lain, sebagai makhluk yang selalu bergantung pada Allah, kita tahu bahwa Allah mengetahui dan menguasai masa depan. Bukan hanya itu, Allah merancang masa depan kita. Dengan cara yang apik, nabi Yeremia menggambarkannya sebagai rancangan (kata Ibrani: mahasaba). Kata ini tidak sekadar berarti rencana yang terinci dan jelas. Kata “rancangan” lebih berarti desain yang mungkin kabur namun pasti. Sama seperti seorang arsitek merancang sebuah rumah, rancangan tersebut tidak sangat terinci, namun tanpanya tidak akan muncul sebuah rumah yang konkret dan indah.

Rancangan Allah adalah sebuah cetak-biru, sebuah blueprint, yang biarlah tetap kabur bagi kita, namun pasti. Artinya, kita tidak perlu mengetahui sejelas mungkin agar kita dapat percaya. Cukup bagi kita untuk percaya di dalam ketidaktahuan kita, sebab dengan itu kita justru senantiasa harus bergantung dan memercayakan diri kepada Allah. Yang pasti, rancangan Allah bagi kita akan menuntun kita dari hari ke hari menuju “hari depan yang penuh harapan.” Selamat memasuki masa depan yang kabur itu, bersama dengan rancangan Allah yang menguasai masa depan hidupmu.

ja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Kerajaan Allah: Bukan Lokasi dan Situasi
    Lukas 4:16-21, Lukas 11:11-13
    Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Lk. 4:21) Kerajaan Allah...
  • Kembali ke Kilometer Nol
    Yeremia 6:16, Yohanes 3:5-8
    Beginilah firman TUHAN: “Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik,...
  • Melampaui Usia, Menggugah Karya
    1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52
    Tahukah Saudara arti kata ageisme? Ageisme atau ageism (dibaca : agis) adalah diskriminasi berdasarkan usia. Mungkin kita tidak familier...
  • Melampaui Stigma, Mencipta Persahabatan
    Setiap perjumpaan selalu melahirkan kesan baik yang positif maupun negatif. Kesan-kesan itu berkumpul, berkelindan, dan melekat sedemikian rupa sehingga...
  • Melampaui Ritualisme, Membangun Makna
    Ritualisme secara sederhana dapat diartikan mengerjakan rutinitasnya tetapi kehilangan tujuan dan maknanya. Seseorang memiliki kecenderungan membangun pola perilaku yang...