Bacaan kita hari ini mengisahkan janji Allah kepada Abraham terkait keturunan dan tanah perjanjian, sebuah janji yang diwujudkan melalui ritual perjanjian yang khidmat. Dalam perjanjian itu, dua pihak berkomitmen dengan kejujuran dan kesetiaan yang mendalam. Hal ini mengajarkan bahwa setiap perjanjian—baik antar sesama maupun antara manusia dengan Allah—harus didasari oleh kepercayaan, integritas, dan komitmen yang tulus. Allah, yang tak pernah ingkar janji, memberikan contoh sempurna bahwa janji-Nya adalah janji yang abadi dan tidak pernah berubah.
Hidup dalam perjanjian dengan Allah tidak hanya tersaji melalui simbol-simbol keagamaan, seperti baptisan, tetapi juga sebagai undangan untuk memasuki ikatan transformatif. Baptisan bukan sekadar ritual seremonial, melainkan panggilan untuk hidup dalam hubungan yang penuh makna, di mana kita dipanggil untuk meneladani ketaatan, kesetiaan, dan kasih Allah. Dengan memasuki perjanjian ini, kita diundang untuk menghidupi cara hidup baru yang radikal, mengutamakan kejujuran dan kepercayaan dalam setiap aspek kehidupan.
Perjalanan hidup dalam perjanjian tentu menghadirkan tantangan. Saat keraguan, ketakutan, dan godaan menghampiri, iman yang teguh menjadi tumpuan. Penantian penggenapan janji Allah kerap dipenuhi ketidakpastian, namun keyakinan bahwa Allah selalu setia memberikan kekuatan untuk bertahan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajarkan untuk terus memelihara hubungan yang harmonis dengan sesama dan menyebarkan kasih dalam setiap perbuatan. Marilah kita terus menghidupi perjanjian dengan sepenuh hati, menjaga setiap janji sebagai cerminan iman, dan membuktikan bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Amin.
Setiap langkah kecil dalam ketaatan menciptakan dampak besar, menyemai benih harapan yang membawa terang dalam kegelapan dunia. (tt)
Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.