Si Sulung atau Si Bungsu

Lukas 15:1-3, 11-32

Belum ada komentar 179 Views

Sejak saya kanak-kanak, Si Bungsu merupakan aktor paling ter kenal sebagai kambing hitam dari kisah seorang tua yang susah hati. “Pulanglah hai anakku, ada ampun Bapa bagimu…” demikian lagu yang kami nyanyikan di Sekolah Minggu.

Baru di dekade ini ada tafsiran yang juga menzoom Si Sulung sebagai anak hilang yang tinggal di dalam rumah Sang Bapa. Ternyata Si Sulung juga mengabdi kepada ayahnya dengan giat karena ujung-ujungnya duit (UUD).

Kedua sikap inilah yang biasa ada dalam diri seorang Kristen: percaya Yesus demi berbagai keuntungan atau percaya Yesus dengan segala tuntutannya. Bagaimana mengatasinya? Sengaja pencerita mengangkat tokoh lain yaitu para hamba yang tidak dikenal maupun tidak tampak berarti. Tokoh sempalan dari kisah ini yang muncul hanya sekadar disuruh-suruh oleh Sang Bapa.

Herannya, Si Bungsu justru mengalami yang buruk dari itu: yaitu orang upahan di ayat 15 dimana orang upahan posisinya lebih rendah dari hamba pada zaman itu, untuk mengurus makanan babi. Rupanya ini ‘Model Pendidikan Yesus’ bagi para murid-Nya, “Kalau tidak bisa bersyukur sebagai anak, alami dulu jadi orang upahan!” Alhasil Si Bungsu sadar dan kembali pulang.

Pertanyaannya:

  1. Apakah saat kita memposisikan diri sebagai anak Tuhan, kita bersikap seperti Si Bungsu atau Si Sulung sehingga perlu mengalami ‘Model Pendidikan Yesus’ agar sikap hati berubah?
  2. Dalam Pra-Paska IV ini sikap hati seperti apa yang perlu perbaiki?
    1. Dalam memandang sesama ciptaan Tuhan
    2. Dalam memandang harta milik dari Tuhan

Riajos

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Memilih Menyuarakan Kebenaran
    Markus 8:27-38
    Siapa sih di dunia ini yang ingin mendengarkan kebohongan atau mendengarkan sesuatu yang tidak sebenarnya? Rasanya setiap kita ingin...
  • Iman Yang Membebaskan
    Markus 7: 24-37
    Kebebasan adalah hal yang mendasar dalam kehidupan manusia dan seharusnya mencirikan martabat manusia yang bertanggung jawab dalam menentukan dirinya...
  • Hidup Dalam Dia, Cukuplah
    Ulangan 4:1-2, 6-9; Mzmur 15; Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-8,14-15,21-23
    Mengenal firman dan menghidupi firman menjadi cara kita hidup di dalam Dia. Hidup di dalam Dia bukan hanya ditandai...
  • Pemeliharaan Allah, Cukuplah
    Yosua 24:1-2,14-18; Mazmur 34:16-23; Efesus 6:10-20; Yohanes 6:56-69
    Berjalan bersama, mengalami bersama adalah cara kita membuktikan kasih penyertaan Tuhan dalam hidup. Peristiwa demi peristiwa baik di saat...
  • Hidup Berhikmat, Cukuplah
    Yohanes 6:51-58
    Bagaimana kamu hidup? Pernahkah kita memperhatikan bagaimana kita hidup, mencermati, mengevaluasi dan merefleksikannya? Bagaimana kita telah mempergunakan waktu yang...