Pemberian

Belum ada komentar 41 Views

Di Minggu ini, kita akan bersama diajak untuk merenungkan satu tema, yaitu Makna dalam Peristiwa Pemberian. Kisah percakapan antara Yesus dan Nikodemus menjadi latar belakang dari permenungan kita akan makna sebuah pemberian.

Ketika berbicara tentang pemberian, ada banyak pertanyaan yang mungkin terlintas dalam benak kita. “Apa yang diberikan?”, “Siapa yang memberi?”, “Mengapa ia memberi?”, “Siapa yang menerima pemberian itu?”, serta berbagai macam pertanyaan lainnya. Ketika kita membaca bagian dari kisah ini, kita akan menemukan satu ayat yang begitu terkenal dan populer di kalangan orang Kristen, Yohanes 3:16.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga la telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Membaca satu ayat ini, kita dapat segera menebak, bahwa IA lah yang Allah berikan bagi dunia. Namun jangan berhenti di sini, mari kita coba dalami bagian dari teks ini.

Yohanes ingin menekankan kepada pembaca, bahwa pemberian Allah bagi dunia, yaitu Yesus Kristus, harus ditinggikan. la mengingatkan pembaca mengenai kisah yang begitu melekat di hati orang Israel pada saat itu, yaitu mengenai ular tedung yang diangkat oleh Musa (Bilangan 21:4-9). Kala itu, dalam perjalanan di padang gurun, bangsa Israel mengeluh dan menyesal bahwa mereka telah keluar dari tanah Mesir. Meskipun di tanah mesir status mereka adalah orang jajahan, tetapi tetap saja mereka berlimpah susu dan madu, jelas berbeda dengan situasi tak menentu di padang gurun. Untuk menghukum bangsa ini, Allah kemudian mengirimkan malapetaka ular-ular tedung yang mematikan. Banyak orang yang digigit oleh ular ini, dan sakit bahkan mati. Bangsa ini pun kemudian bertobat dan memohon belas kasih Allah. Melihat hal itu, Allah memerintahkan Musa untuk membuat seekor ular buatan dan mengangkatnya tinggi-tinggi di tengah-tengah perkemahan. Barangsiapa memandang ular buatan itu, mendapatkan kesembuhan. Cerita itu sangat berkesan di dalam hati orang Israel.

Ular tembaga itu kemudian menjadi benda pujaan, yang pada masa raja Hizkia harus dihancurkan sebab orang-orang Israel menyembah benda tersebut (2 Raj 18:4). Sebetulnya, orang Yahudi pun bingung dengan peristiwa itu. Mereka dilarang untuk membuat gambaran/ukiran tetnag Allah yang mereka sembah. Untuk menjawab kebingungan itu, para Rabi pun menuturkan, “Bukanlah ular itu yang memberi hidup. Selama Musa mengangkat ular tembaga itu, mereka percaya kepada Dia yang telah memerintahkan Musa untuk melakukan hal itu. Allah sendirilah yang menyembuhkan mereka”. Singkatnya, para Rabi menekankan, bahwa kuasa penyembuhan itu tidak terletak pada ular tembaga tersebut. Ular tembaga itu hanya simbol saja untuk mengarahkan pikiran-pikiran mereka kepada Allah. Dan jika itu yang mereka lakukan, maka mereka akan sembuh.

Menurut Barclay, Yohanes memakai cerita tua itu sebagai semacam perumpamaan dari Yesus. Yesus seolah berkata: “Ular itu ditinggikan; orang-orang memandangnya; pikiran mereka terarahkan kepada ALIah; dan dengan kuasa Allah yang mereka percaya itu mereka disembuhkan. Demikian jugalah dengan Yesus; Yesus harus ditinggikan; dan kalau orang mengarahkan pikirannya kepada Dia, serta percaya kepada-Nya, mereka juga akan memperoleh hidup yang kekal.”

Dengan demikian, Yohanes ingin menunjukkan bahwa pemberian Allah, yaitu hadimya la sebagai manusia di tengah dunia, dimaksudkan agar orang yang mengarahkan pikirannya kepada Dia bisa memperoleh hidup yang kekal. Bagi kita pembaca saat ini, kisah ini nampak klasik dan wajar-wajar saja. Kita memahami bahwa Allah itu penuh kasih, pengampun, pemberi dan sebagainya. Namun bagi pembaca pada saat itu, ini merupakan kisah yang di luar bayangan mereka. Sulit bagi orang Yahudi untuk mempercayai kisah ini. Kala itu, orang Yahudi melihat Allah sebagai tokoh yang memaksakan hukum-Nya kepada umat-Nya serta menghukum mereka kalau mereka melanggar hukum yang Allah tetapkan. Orang Yahudi melihat Allah sebagai hakim, dan manusia sebagai tertuduh yang diperhadapkan dalam pengadilan-Nya. Orang Yahudi melihat Allah sebagai sosok yang selalu meminta korban bagi orang-orang yang ingin datang menghadap-Nya. Itu mengapa mereka membawa korban bakaran ke Bait Suci pada momen-momen tertentu. Selalu ada harga yang harus manusia bayar kepada Allah. Maka sulit sekali bagi orang Yahudi untuk melihat Allah sebagai hakim yang sedang tidak memberi vonis, tetapi justru memberi Yesus yang mengampuni manusia. Ini pemberian yang tidak masuk akal bagi orang Yahudi. Lihatlah bagaimana di ayat 17 Yohanes menekankan kepada pembaca bahwa Yesus diutus Allah bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyelamatkan.

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Dengan perspektif semacam itu, bahwa ada harga yang harus manusia bayar kepada Allah, wajar jika dalam benak orang Israel bertanya-tanya, “Apa yang harus kita berikan agar diselamatkan?”. Yohanes pun menegaskan dengan menunjukkan perkataan Yesus yang menyatakan bahwa percaya kepada Dia membuat orang tidak dihukum. Mudah bukan? Tetapi Yesus kemudian menegaskan bahwa manusia lebih senang dengan kegelapan dibandingkan terang. la yang adalah terang akan menyingkapkan segala perbuatan-perbuatan yang biasanya disembunyikan dalam kegelapan. Kini, sang Terang membuat hal yang tersembunyi itu, terungkap. Lihatlah bagaimana korelasi dengan permenungan kita di Minggu yang lalu. Kehadiran Yesus di Bait Suci, menyingkapkan apa yang selama ini ‘tersembunyi’. Praktik kotor, ketidakadilan, IA bongkar dan tunggang balikkan. Itu lah yang akan terjadi ketika Sang Terang itu hadir. Dengan demikian, mudah kita memahami ayat 19-20. Mereka yang menyimpan kejahatan dalam hati yang gelap, tentu tidak akan menerima dan percaya pada Yesus Sang Terang yang Allah karuniakan/berikan kepada Dunia.

Siapkah Saudara dan saya menerima PEMBERIAN Allah, yaitu Sang Terang, dalam hidup kita? Jika Ya, bersiaplah untuk membuka hati selebar-lebarnya, agar la bisa menerangi hati kita. Tuhan memberkati.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Iman Yang Membebaskan
    Markus 7: 24-37
    Kebebasan adalah hal yang mendasar dalam kehidupan manusia dan seharusnya mencirikan martabat manusia yang bertanggung jawab dalam menentukan dirinya...
  • Hidup Dalam Dia, Cukuplah
    Ulangan 4:1-2, 6-9; Mzmur 15; Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-8,14-15,21-23
    Mengenal firman dan menghidupi firman menjadi cara kita hidup di dalam Dia. Hidup di dalam Dia bukan hanya ditandai...
  • Pemeliharaan Allah, Cukuplah
    Yosua 24:1-2,14-18; Mazmur 34:16-23; Efesus 6:10-20; Yohanes 6:56-69
    Berjalan bersama, mengalami bersama adalah cara kita membuktikan kasih penyertaan Tuhan dalam hidup. Peristiwa demi peristiwa baik di saat...
  • Hidup Berhikmat, Cukuplah
    Yohanes 6:51-58
    Bagaimana kamu hidup? Pernahkah kita memperhatikan bagaimana kita hidup, mencermati, mengevaluasi dan merefleksikannya? Bagaimana kita telah mempergunakan waktu yang...
  • Roti Hidup
    1 Raja-raja 19:4-8; Mazmur 34:2-9; Efesus 4:25-5:2; Yohanes 6:35, 41-51
    Roti adalah salah satu jenis makanan yang dapat membuat manusia bertahan hidup, jika dalam kebiasaan bangsa lain bisa nasi,...