Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai ke perjamuan kawin itu. (Matius 22:8-9)
Bayangkan seandainya kita menyelenggarakan sebuah pesta. Hidangan sudah dipersiapkan, tetapi ternyata orang-orang yang kita undang, dengan berbagai alasan, menolak untuk hadir. Bagaimana perasaan kita? Apa yang akan kita lakukan?
Demikianlah Yesus menggambarkan Kerajaan Surga. Kedatangan Yesus menandai kehadiran Kerajaan Surga, yaitu keadaan ketika Allah sungguh-sungguh diakui kehadiran-Nya sebagai satu-satunya Raja yang berkuasa. Keadaan ketika shalom (damai sejahtera) terwujud nyata. Kerajaan Surga seperti itu digambarkan sebagai perjamuan kawin. Orang-orang yang pertama diundang ke perjamuan itu adalah orang-orang Yahudi sebagai kelanjutan Israel, umat pilihan. Namun, mereka menolak undangan itu. Ironis, tetapi itulah kenyataannya: umat pilihan justru menolak undangan untuk masuk ke dalam perjamuan surgawi. Oleh karena itu, undangan dialihkan kepada bangsa-bangsa lain, termasuk kepada kita. Kitalah yang sekarang diundang ke dalam “perjamuan kawin” itu, menjadi warga Kerajaan Surga.
Betapa beruntungnya kita mendapat undangan untuk menjadi warga Kerajaan Surga. Jika kita mau menyambut undangan tersebut, maka sudah sepatutnya kita bersikap dan berlaku sebagaimana layaknya warga Kerajaan Surga, yaitu menjalani hidup yang menunjukkan kesungguhan pengakuan dan ketaatan kita kepada Allah, Raja Semesta Alam. [Pdt. Em. Ronny Nathanael]
DOA:
Bapa di surga, terima kasih kami diundang masuk ke dalam Kerajaan-Mu. Tolong kami untuk hidup sebagaimana layaknya warga Kerajaan Surga. Amin.
Ayat Pendukung: Yes. 24:17-23; Mzm. 23; Mrk. 2:18-22
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.