Engkau menghanyutkan manusia dalam tidurnya, di pagi hari mereka seperti rumput yang akan binasa, di waktu pagi bersemi dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu. (Mazmur 90:5-6)
Ada orang yang menjalani kehidupan sedemikian rupa seakan-akan hidupnya abadi. Sepertinya, tidak terpikir olehnya untuk bertobat dan menjalani hidup yang benar karena merasa selalu masih akan memiliki kesempatan.
Mazmur 90 mengingatkan kita bahwa hidup yang kita jalani di dunia ini fana: dapat rusak, lenyap, bersifat sementara, bahkan segera berlalu. Salah satu gambaran yang digunakan adalah tentang rumput yang bersemi dan tumbuh pada waktu pagi, tetapi pada waktu petang menjadi lisut dan layu. Oleh karena singkat dan fananya hidup ini, pemazmur memohon agar diberi hati yang bijaksana dalam menjalaninya—tidak menyia-nyiakan hidup yang singkat ini, serta mampu memilih dan memprioritaskan apa yang terpenting. Untuk itulah pemazmur berdoa, “Kenyangkanlah kami pada waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita sepanjang hidup kami.”
Hanya ketika dipenuhi oleh kasih setia Tuhan, hidup menjadi sungguh-sungguh bermakna. Hanya ketika kita mau menjalani hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan, kita dapat bersukacita sepanjang hidup. Ketika kemurahan Allah meneguhkan apa yang kita perbuat, kita tetap dimampukan untuk bersukacita. Kita bisa dan harus memilih: apakah kita mau menyia-nyiakan hidup yang fana ini atau menjalaninya dengan penuh makna agar beroleh hidup yang kekal. Semoga kita tidak salah memilih. [Pdt. Em. Ronny Nathanael]
DOA: Bapa di surga, tolong kami agar tidak menyia-nyiakan kehidupan yang fana di dunia ini. Amin.
Ayat Pendukung: Ul. 32:1-14, 18; Mzm. 90:1-6, 13-17; Tit. 2:7-8, 11-15
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.