#menjadimuridKristus

Belum ada komentar 59 Views

Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. (Matius 28:17)

Paul Tillich, seorang teolog sohor, pernah berujar, “Doubt is not the opposite of faith; it is one element of faith.” Keraguan bukanlah lawan dari iman; ia adalah satu unsur dari iman. Ucapan Tillich ini penting bagi setiap orang Kristen, setiap murid Kristus, yang tak pernah lepas dari keraguan. Ternyata keraguan tak harus disikapi secara negatif. Hanya orang yang serius imannya yang pernah mengalami keraguan iman.

Di akhir Injil Matius, dikisahkan perutusan yang Yesus berikan kepada para murid-Nya. Secara jujur, penulis injil ini menampilkan beberapa murid yang menjadi ragu ketika berjumpa (kembali) dengan Kristus yang bangkit. Matius 28:17 mencatat, “Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.” Tetapi, Yesus seolah-olah tidak merisaukan keraguan mereka. Ia mendekati mereka … Tindakan ini sendiri mengisyaratkan penerimaan Yesus pada para murid-Nya, termasuk mereka ragu. Alih-alih mengolah keraguan mereka, Yesus malah memberikan mandat kepada semua muridnya—sebuah mandat yang sangat terkenal … pergilah dan muridkanlah semua bangsa.

Apa yang dapat kita petik dari narasi ini? Untuk menjadi murid yang bersaksi, kita mungkin saja masih terus bergumul dengan iman kita. Iman tak pernah amin, alias selesai. Ia berproses terus. Dalam salah satu elemen dari proses beriman justru adalah keraguan. Bahkan kesaksian seorang murid yang menggumuli keraguannya bisa jadi akan tampil otentik. Orang lain akan melihat bagaimana ia sangat serius dengan imannya. Sebab, kita tak perlu bergumul dalam keraguan jika apa yang kita gumuli itu tak penting dan serius. Justru karena iman itu sungguh serius, kita menggumulinya … dalam keraguan, kadang.

Maka, rengkuhlah keraguanmu. Bertanyalah terus, dan carilah jawabnya di dalam Kristus yang terus mendekatimu dan menugasimu untuk mempersaksikan Sang Kebangkitan itu. Izinkan orang lain melihat keraguanmu, sebab melalui dan di dalamnya semoga orang melihat Kristus. Criss Jami, seorang pujangga, pernah berkata, “Doubt is a question mark; faith is an exclamation point. The most compelling, believable, realistic stories have included them both.” Keraguan merupakan sebuah tanda tanya; iman merupakan sebuah tanda seru. Kisah-kisah yang paling meyakinkan, dapat dipercaya, dan realistis memasukkan keduanya. Amin.

ja

 

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Keadilan Tuhan Dinyatakan
    Mikha 3:5-12; Mazmur 43; 1 Tesalonika 2:9-13; Matius 23:1-12
    Mengapa Tuhan Yesus pada akhir hidup-Nya di Kayu Salib berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa...
  • Luka di Hati, Bukan Prasasti
    Imamat 19:1-2, 15-18; Mazmur 1; 1 Tesalonika 2:1-8; Matius 22:34-46
    Siapa yang tidak tahu tentang luka? Kerusakan yang terjadi pada diri sendiri dan seringkali akan menimbulkan rasa sakit. Rasa...
  • Schooling Fish
    Yesaya 45:1-7; Mazmur 96:1-9; 1 Tesalonika 1:1-10; Matius 22:15-22
    Bayangkan saja kalau kita menjadi seekor ikan kecil. Kalau saja kita diberikan pilihan untuk hidup di akuarium atau di...
  • Rasa Haus
    Air menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan. Banyak hal membutuhkan air. Mulai dari tubuh manusia sebagian besar terdiri...
  • Apa yang kita letakkan pertama?
    Yesaya 5:1-7; Mazmur 80:8-16; Filipi 3:4-14; Matius 21:33-46
    “Selalu ada yang pertama untuk segalanya.” Apa anda pernah mendengar kalimat tersebut? Ya, sebagian besar dari kita tentu akan...
Kegiatan