#menjadimuridKristus

Belum ada komentar 68 Views

Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. (Matius 28:17)

Paul Tillich, seorang teolog sohor, pernah berujar, “Doubt is not the opposite of faith; it is one element of faith.” Keraguan bukanlah lawan dari iman; ia adalah satu unsur dari iman. Ucapan Tillich ini penting bagi setiap orang Kristen, setiap murid Kristus, yang tak pernah lepas dari keraguan. Ternyata keraguan tak harus disikapi secara negatif. Hanya orang yang serius imannya yang pernah mengalami keraguan iman.

Di akhir Injil Matius, dikisahkan perutusan yang Yesus berikan kepada para murid-Nya. Secara jujur, penulis injil ini menampilkan beberapa murid yang menjadi ragu ketika berjumpa (kembali) dengan Kristus yang bangkit. Matius 28:17 mencatat, “Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.” Tetapi, Yesus seolah-olah tidak merisaukan keraguan mereka. Ia mendekati mereka … Tindakan ini sendiri mengisyaratkan penerimaan Yesus pada para murid-Nya, termasuk mereka ragu. Alih-alih mengolah keraguan mereka, Yesus malah memberikan mandat kepada semua muridnya—sebuah mandat yang sangat terkenal … pergilah dan muridkanlah semua bangsa.

Apa yang dapat kita petik dari narasi ini? Untuk menjadi murid yang bersaksi, kita mungkin saja masih terus bergumul dengan iman kita. Iman tak pernah amin, alias selesai. Ia berproses terus. Dalam salah satu elemen dari proses beriman justru adalah keraguan. Bahkan kesaksian seorang murid yang menggumuli keraguannya bisa jadi akan tampil otentik. Orang lain akan melihat bagaimana ia sangat serius dengan imannya. Sebab, kita tak perlu bergumul dalam keraguan jika apa yang kita gumuli itu tak penting dan serius. Justru karena iman itu sungguh serius, kita menggumulinya … dalam keraguan, kadang.

Maka, rengkuhlah keraguanmu. Bertanyalah terus, dan carilah jawabnya di dalam Kristus yang terus mendekatimu dan menugasimu untuk mempersaksikan Sang Kebangkitan itu. Izinkan orang lain melihat keraguanmu, sebab melalui dan di dalamnya semoga orang melihat Kristus. Criss Jami, seorang pujangga, pernah berkata, “Doubt is a question mark; faith is an exclamation point. The most compelling, believable, realistic stories have included them both.” Keraguan merupakan sebuah tanda tanya; iman merupakan sebuah tanda seru. Kisah-kisah yang paling meyakinkan, dapat dipercaya, dan realistis memasukkan keduanya. Amin.

ja

 

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Kerajaan Allah: Bukan Lokasi dan Situasi
    Lukas 4:16-21, Lukas 11:11-13
    Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Lk. 4:21) Kerajaan Allah...
  • Kembali ke Kilometer Nol
    Yeremia 6:16, Yohanes 3:5-8
    Beginilah firman TUHAN: “Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik,...
  • (Tak) ‘Ku Tahu ‘Kan Hari Esok
    1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52
    Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan...
  • Melampaui Usia, Menggugah Karya
    1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52
    Tahukah Saudara arti kata ageisme? Ageisme atau ageism (dibaca : agis) adalah diskriminasi berdasarkan usia. Mungkin kita tidak familier...
  • Melampaui Stigma, Mencipta Persahabatan
    Setiap perjumpaan selalu melahirkan kesan baik yang positif maupun negatif. Kesan-kesan itu berkumpul, berkelindan, dan melekat sedemikian rupa sehingga...