Menjadi Gereja Responsif

Kisah Para Rasul 6: 1-7

Belum ada komentar 80 Views

Seorang ibu pernah bercerita mengenai pengalamannya melahirkan anak pertama. Ketika proses kelahiran usai, respon awal sang bayi adalah hal yang penting. Hal ini menjadi tanda bahwa ada kehidupan dalam dirinya. Dari sini kita melihat bahwa respon itu penting, bahkan kita butuh direspon sebagai wujud nyata dari kepedulian baik bagi sesama maupun kepedulian akan keadaan. Namun yang tak kalah penting adalah belajar untuk menjadi responsif. Begitu pula dalam kehidupan bergereja.

Gereja mula-mula telah memberikan teladan bagi gereja masa kini untuk menjadi responsif. Di Awal pelayanan mereka salah satu tantangan yang mereka hadapi tidak hanya masalah pengabaran injil, tetapi juga persoalan sosial yang dialami orang yahudi masa itu khususnya orang yahudi yang berbahasa Yunani. Memang orang Yahudi yang tinggal di Mediterania artinya di luar Palestina menggunakan bahasa Yunani. Mereka yakni orang Yahudi Diaspora banyak yang kembali ke Yerusalem untuk tinggal, beberapa dari mereka ada pula yang kemudian menjadi anggota gereja. Karena perbedaan yang ada, hal ini menimbulkan ketidakadilan sosial yakni perlakuan terhadap janda. Gereja saat itu bisa saja menutup mata terhadap persoalan yang ada dengan dalil persoalan gereja tentang mengabarkan injil bukan mengurusi persoalan sosial seperti yang terjadi. Tetapi sebaliknya gereja segera merespon persoalan itu dengan sungguh-sungguh melalui tuntunan Roh Kudus. Gereja memilih diaken sebagai bentuk kepedulian mereka. Respon gereja masa itu menjadi tanda bahwa Firman Tuhan itu merangkul manusia tidak hanya secara rohani tetapi mencakup kehidupan holistic manusia, kehidupan yang utuh. Peristiwa ini memberi dampak yang positif dimana pelayanan injil berkembang lebih luas.

Saudara, meski tahu bahwa respon adalah hal yang penting dan dibutuhkan, tetapi tak jarang kita hanya menuntut untuk mendapat respon tanpa belajar untuk memberikan respon. Maka hari ini kita belajar sebagai gereja baik komunitas maupun perorangan, kita diundang untuk menjadi gereja yang responsif. Tidak hanya dalam kehidupan gereja saja, tetapi kita juga diajak merespons hal-hal yang berkaitan dengan sosial, dengan masyarakat, persoalan kesehatan dll. Sebab Firman Tuhan peduli dan berbicara dalam segala aspek kehidupan, maka menjadi gereja yang responsif adalah undangan untuk peduli pada setiap aspek sebagai wujud pernyataan Firman Allah. Maka marilah senantiasa belajar menjadi responsif dengan memegang Firman Tuhan sebagai dasarnya dan tuntunan Roh Kudus sebagai sang pemberi hikmat, agar setiap respons kita dapat memancarkan kasih dan kebenaran Allah.

SA

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Bertobatlah!
    Matius 3:1-12
    Adven adalah moment yang mengingatkan kita untuk menanti kedatangan Kristus Kembali. Ada beragam cara untuk memersiapkan diri. Namun semua...
  • Bersiaplah
    Matius 24: 36 – 44
    Tersembunyinya waktu dan tidak terduganya kedatangan Tuhan Yesus, menyebabkan orang percaya mengalami kesulitan dalam mempersiapkan diri. Kita sebagai orang...
  • Mencintai dalam kerapuhan
    Filipi 2:5-11
    “Rendah hati” merupakan kata kunci tulisan Rasul Paulus pada jemaat di gereja Filipi, nilai tersebut diikuti dengan contoh konkret...
  • MENGHADIRKAN ALLAH SANG CINTA
    1Yohanes 4:8-16 (10)
    Di dalam diri Tuhan Yesus, kita mengenal Allah dan kasih-Nya. Alih alih mengajar dan berbicara tentang kasih, Ia menghidupi...
  • Kehadiran Yang Setia
    Matius 5:13-16
    Setelah lebih dari 2 tahun dunia dilanda badai pandemik, semua sisi kehidupan mulai beradaptasi dan melakukan berbagai perubahan (adaptif...