Menguak Keterasingan, Membangun Relasi

Menguak Keterasingan, Membangun Relasi

Belum ada komentar 28 Views

Kisah orang samaria adalah sebuah kisah yang amat populer bagi orang Kristen. Kisah ini sudah puluhan (mungkin ratusan kali) dijadikan contoh untuk membuka keterasingan dan membangun relasi. Orang samaria yang sudah terbiasa diasingkan justru menjadi orang pertama yang berinisiatif untuk membuka diri terhadap penderitaan orang lain. Orang samaria yang biasa dianggap sebagai masyarakat kelas dua kini berinisitif untuk meruntuhkan pembatasan. Ia mengulur tangannya dan memberikan pertolongannya.

Sikap orang samaria adalah sikap yang mendobrak keterasingan (bandingkan dengan sikap imam, orang Lewi yang hanya melewati orang yang terkapar hampir mati). Ia tidak merasa terlalu jijik atau najis untuk menjamahnya. Ia tidak merasa direpotkan untuk merawat dan menjaminnya. Ia tidak berfikir matematis untuk pertolongan yang diberikannya. Dasar dari semua tindakannya itu semata-mata karena kasih. Kasih yang menguak keterasingan dan kasihlah menjadi satu-satunya dasar untuk membangun relasi. Tindakan pertolongan yang diberikannya tuntas hingga korban pulih dan dapat melanjutkan kehidupannya. Pertolongannya bukan saja memulihkan kesehatannya tetapi memberi ruang untuk mandiri. Kesehatan yang dipulihkan menjadi kekuatan baru untuk menata hidupnya kembali, berkerja keras untuk setiap hal yang ia butuhkan. Ia yang hampir mati kini dapat menjalani hidup yang hampir terampas karena keegoisan dan kejahatan orang lain karena tindakan kasih dari seorang samaria yang melewati jalan itu.

Di akhir bulan peduli ini, marilah kita membangun persekutuan kita di tengah dunia seperti sikap orang samaria. Setiap orang terpanggil untuk menguak, membongkar dan meruntuhkan keterasingan dan setiap orang menjadi pionir untuk membangun relasi. Setiap orang adalah sahabat dalam pergumulan di dunia. Membangun sikap seperti orang samaria menjadi relevan di tengah situasi dunia yang penuh dengan keegoisan dan persaingan yang justru menempatkan sesama sebagai lawan bukan kawan. Mari bangun relasi dengan menguak keterasingan. Ini panggilan yang tidak pernah berakhir, sebuah panggilan di sepanjang hidup dan kehadiran kita di dunia.

 

dva

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...
  • Taat, Butuh Satu Tekad
    Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32
    Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah...
  • Anugerah yang Mengganggu
    Matius 20:1-16
    Pada umumnya kita ingin mendapat lebih banyak dari orang lain, apalagi kita bekerja lebih lama, lebih berat dari yang...
  • MENGAMPUNI TANPA KENDALI
    Matius18:21-35
    “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Sebuah pertanyaan...