Menguak Keterasingan, Membangun Relasi

Menguak Keterasingan, Membangun Relasi

Belum ada komentar 14 Views

Kisah orang samaria adalah sebuah kisah yang amat populer bagi orang Kristen. Kisah ini sudah puluhan (mungkin ratusan kali) dijadikan contoh untuk membuka keterasingan dan membangun relasi. Orang samaria yang sudah terbiasa diasingkan justru menjadi orang pertama yang berinisiatif untuk membuka diri terhadap penderitaan orang lain. Orang samaria yang biasa dianggap sebagai masyarakat kelas dua kini berinisitif untuk meruntuhkan pembatasan. Ia mengulur tangannya dan memberikan pertolongannya.

Sikap orang samaria adalah sikap yang mendobrak keterasingan (bandingkan dengan sikap imam, orang Lewi yang hanya melewati orang yang terkapar hampir mati). Ia tidak merasa terlalu jijik atau najis untuk menjamahnya. Ia tidak merasa direpotkan untuk merawat dan menjaminnya. Ia tidak berfikir matematis untuk pertolongan yang diberikannya. Dasar dari semua tindakannya itu semata-mata karena kasih. Kasih yang menguak keterasingan dan kasihlah menjadi satu-satunya dasar untuk membangun relasi. Tindakan pertolongan yang diberikannya tuntas hingga korban pulih dan dapat melanjutkan kehidupannya. Pertolongannya bukan saja memulihkan kesehatannya tetapi memberi ruang untuk mandiri. Kesehatan yang dipulihkan menjadi kekuatan baru untuk menata hidupnya kembali, berkerja keras untuk setiap hal yang ia butuhkan. Ia yang hampir mati kini dapat menjalani hidup yang hampir terampas karena keegoisan dan kejahatan orang lain karena tindakan kasih dari seorang samaria yang melewati jalan itu.

Di akhir bulan peduli ini, marilah kita membangun persekutuan kita di tengah dunia seperti sikap orang samaria. Setiap orang terpanggil untuk menguak, membongkar dan meruntuhkan keterasingan dan setiap orang menjadi pionir untuk membangun relasi. Setiap orang adalah sahabat dalam pergumulan di dunia. Membangun sikap seperti orang samaria menjadi relevan di tengah situasi dunia yang penuh dengan keegoisan dan persaingan yang justru menempatkan sesama sebagai lawan bukan kawan. Mari bangun relasi dengan menguak keterasingan. Ini panggilan yang tidak pernah berakhir, sebuah panggilan di sepanjang hidup dan kehadiran kita di dunia.

 

dva

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Luka di Hati, Bukan Prasasti
    Imamat 19:1-2, 15-18; Mazmur 1; 1 Tesalonika 2:1-8; Matius 22:34-46
    Siapa yang tidak tahu tentang luka? Kerusakan yang terjadi pada diri sendiri dan seringkali akan menimbulkan rasa sakit. Rasa...
  • Schooling Fish
    Yesaya 45:1-7; Mazmur 96:1-9; 1 Tesalonika 1:1-10; Matius 22:15-22
    Bayangkan saja kalau kita menjadi seekor ikan kecil. Kalau saja kita diberikan pilihan untuk hidup di akuarium atau di...
  • Rasa Haus
    Air menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan. Banyak hal membutuhkan air. Mulai dari tubuh manusia sebagian besar terdiri...
  • Apa yang kita letakkan pertama?
    Yesaya 5:1-7; Mazmur 80:8-16; Filipi 3:4-14; Matius 21:33-46
    “Selalu ada yang pertama untuk segalanya.” Apa anda pernah mendengar kalimat tersebut? Ya, sebagian besar dari kita tentu akan...
  • Hidup Dalam Keramahan Dan Cinta
    Yehezkiel 18: 1-4, 25-32 Mazmur 25: 1-9 Filipi 2: 1-13. Matius 21: 23-32
    Perubahan ke arah yang lebih baik adalah dambaan semua orang. Saya yakin dan percaya bahwa semua orang, tanpa kecuali...
Kegiatan