Mengikut Yesus

Belum ada komentar 56 Views

Momen itu adalah momen berharga bagi Petrus. Setelah sebelumnya Yesus memuji Petrus karena Allah telah menyatakan siapa Yesus sesungguhnya kepada Petrus, juga diikuti dengan berkat serta kepercayaan yang ia terima dari Yesus, kini konsep dan pemahamannya diuji kembali.

Yesus dan para Murid kini telah mengetahui bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Namun kisah selanjutnya, pemahaman mereka diuji dan terbukti tidak sejalan dengan apa yang Allah kehendaki.

Bagi Petrus dan mungkin juga murid lainnya, Yesus adalah Mesias yang akan membebaskan mereka. Maka dari itu, seorang Mesias tidak boleh menderita dan berakhir dibunuh. Itu mengapa Petrus menarik Yesus dan menegornya. Di posisi ini, Petrus merasa konsep pemahamannya tentang Mesias benar. Itu mengapa ia berani ‘meluruskan’ pandangan Yesus mengenai diriNya yang akan menderita dan mati dibunuh. Namun apa yang terjadi? Yesus berpaling kepada Petrus dan mengatakan, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Yesus menyebut Petrus dengan istilah Iblis. Ungkapan ini mungkin nampak kasar bagi sebagian orang. Namun Yesus merujuk pada cara pandang Petrus yang tidak sejalan dengan apa yang Allah kehendaki. Itu mengapa istilah Iblis yang dipakai. Iblis akan menggoda siapapun yang berupaya untuk melakukan apa yang Allah kehendaki. Dan kali ini, Petrus membiarkan dirinya dikuasai oleh cara pikir yang tidak sejalan dengan kehendak Allah.

Dapat dipahami alasan Petrus menegor Yesus. Konsep Mesias yang sudah dipegang dan diturunkan dari generasi ke generasi tentu sudah melekat dengan kuat di benak Petrus. Namun itu pula yang menjadi bukti, bahwa apa yang Allah kehendaki belum tentu selaras dengan apa yang satu orang, bahkan satu bangsa kehendaki.

Mengecil kah nyali Petrus setelah mengetahui bahwa Mesias yang selama ini ia ikuti akan menjalani akhir hidup dengan derita dan kematian karena dibunuh? Urung kah niatnya mengikuti Yesus setelah mengetahui bahwa ekspektasinya pada Yesus tidak sesuai dengan realita yang akan terjadi? Kita tahu, Petrus menyangkal Yesus di momen penuh kengerian di hadapan Mahkamah Keagamaan. Namun setelahnya, kita juga sama-sama tahu, bahwa para murid yang takut bahkan lari meninggalkan Yesus di saat mengerikannya itu pun akhirnya tetap menyebarkan ajaran Yesus hingga banyak orang percaya akan KebenaranNya.

Namun yang menjadi pertanyaan, maukah Saudara dan saya tetap setia mengikut Yesus bahkan ketika harapan kita tak sesuai dengan kehendak Allah?

Mari kita renungkan bersama, dan mengambil keputusan iman.

Tuhan Yesus memberkati.

| ASC

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • TOHU WABOHU
    Kejadian 1:1-5 dan Markus 1:4-11
    Dengan apik penulis Injil Markus menuliskan sebuah keterangan bahwa seruan pertobatan Yohanes Pembaptis justru disampaikan di tengah padang gurun...
  • Sang Kekal Diam Bersama Kita
    Yohanes 1:14
    Seorang sastrawan bernama Goenawan Moehamad menulis sebuah catatan, “Selalu ada yang bisa mengerikan dalam hubungan dengan sejarah. Tapi pada...
  • Simeon: Siap Mati dan Berani Hidup
    Lukas 2:29-30
    Salah satu sisi kelam dari pandemi Covid-19 yang paling mendukakan kita semua adalah terenggutnya kehidupan orang-orang yang kita kasihi...
  • Beroleh Kasih Karunia Allah
    Beroleh Kasih Karunia Allah
    Lukas 1:30
    ”Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (Luk. 1:30). Demikian ujar malaikat saat menjumpai...
  • Allah Berkenan dan Merahmati Kita!
    Yesaya 61: 1-4, 8-11
    Jika kita membaca Yesaya 61:1-4, dengan cepat kita akan mengingat ucapan Yesus di dalam Lukas 4:18-19. Ternyata, Yesus mengutip...