Mengapa Bertengkar

Belum ada komentar 49 Views

Menilik peristiwa yang terjadi sehari-hari dalam kehidupan kita, ada kecenderungan setiap orang untuk menjadikan diri sendiri sebagai pusat dan bahkan ingin menjadi yang terbesar dan berkuasa melebihi orang lain disekitarnya. Akibatnya, seperti yang terjadi pada para murid Yesus, mereka tidak tersentuh dengan pergumulan dan keprihatinan sesamanya. Bahkan tanpa rasa malu mereka akan secara terbuka mempertengkarkan ambisi dan agenda pribadinya.

“Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran  di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? (Yak.4:1-2).

Ternyata ketika seseorang menginginkan banyak hal, pola hidupnya dikuasai oleh hawa nafsu dan apabila yang diinginkan tidak terpenuhi, kemudian ia akan menjadi gusar dan cenderung menciptakan pertengkaran dengan yang lain. Yakobus menasehati supaya para pengikut Kristus tidak melandasi kehidupannya pada hikmat dari dunia yang hanya mampu menyebarkan luka-luka batin kepada banyak orang, melainkan pada hikmat yang dari atas yang senantiasa berupaya menyembuhkan setiap luka-luka batin dari sesama yang sedang menderita.

Hidup menurut hikmat Allah atau hikmat yang dari atas adalah hidup yang senantiasa menghadirkan damai-sejahtera Kristus. Oleh karena itu model penyelesaian konflik selalu dilandaskan pada kasih dan pengampunan Kristus. (Yak 3:13-18)

Hidup yang dilandasi oleh hikmat dari atas, yaitu dari Allah selalu bersifat membebaskan dan membangun. Oleh sebab itu kedudukan yang mulia bukan karena seseorang berhasil memerintah dan memaksa orang lain untuk melayani dia, tetapi sebaliknya apabila dia mampu menunjukkan kemampuan untuk memberikan pelayanan yang terbaik  bagi sesamanya.

Atas hikmat yang manakah kita telah membangun kehidupan saat ini ?

(TT)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Ini Aku, Jangan Takut
    Semua orang memiliki rasa takut. Rasa takut bisa disebabkan oleh berbagai penyebab dan faktor. Wajarkah manusia merasa takut? Tentu...
  • Menjadi Gembala, Membangun Relasi Dengan Sesama
    Yeremia 23:1-6; Mazmur23; Efesus 2:11-22; Markus 6:30-34, 53-56
    Sang Gembala Agung itu Allah, la membimbing kita dengan begitu baik adanya. Allah juga melibatkan kita untuk menjadi gembala-gembala...
  • Harga Dari Sebuah Kebenaran
    Amos 7:7-15; Mazmur 85:9-14; Efesus 1:3-14; Markus 6:14-29
    Apakah mengatakan hal yang benar itu mudah? Sangat tidak mudah? Apa yang membuatnya menjadi begitu sulit untuk diwujudkan? Resikonya!...
  • Allah Yang Hadir Dalam Kelemahan Dan Keterbatasan
    Yehezkiel 2:1-5; Mazmur 123; 2 Korintus 12:2-10; Markus 6:1-13
    Membicarakan kelemahan bukanlah hal mudah bagi kita karena kita terbiasa menyim- pan atau menutupi kelemahan dengan berbagai cara dan...
  • Iman Menembus Batas Ketakutan
    Markus 5:21-43
    Perikop ini berisi dua kisah yang dijalin bersamaan. Kisah pertama tentang Yairus, seorang kepala rumah ibadat, yang meminta Yesus...