Ishak sangat terkejut dan berkata, “Siapakah gerangan dia, yang memburu binatang itu dan yang telah membawanya kepadaku?…” (Kejadian 27:33a)
Kita sering mendengar berita tentang kejahatan terhadap para lansia. Salah satu contohnya adalah ketika seorang lansia diminta mengalihkan kepemilikan sertifikat rumah atas namanya menjadi atas nama anaknya. Namun, setelah itu, sang lansia justru hidup terlunta-lunta. Kisah- kisah seperti itu dapat membuat kita merasa ngeri dan enggan menghadapi masa tua, bukan?
Kisah kejahatan terhadap lansia sudah terjadi sejak zaman Perjanjian Lama. Dalam Kejadian 27:1 disebutkan bahwa “Ishak sudah tua, dan matanya rabun, sehingga ia tidak dapat melihat lagi.” Ribka, istrinya, dan Yakub, anak bungsunya, bekerja sama untuk memperdayainya. Ishak baru menyadari hal itu kemudian, dan ia merasa sangat terkejut. Reaksi Ishak memang tidak dijelaskan lebih lanjut. Namun, jika kita berada di posisi Ishak, kita dapat membayangkan betapa kecewa dan terlukanya perasaan dibohongi oleh istri dan anak sendiri.
Kisah “kekacauan” dalam keluarga Ishak adalah bagian dari sejarah umat Israel. Kisah keluarga yang tidak ideal ini dicatat dalam Alkitab sebagai penegasan bahwa Allah tetap dapat berkarya melampaui kekacauan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Tentu saja, hal ini bukanlah pembenaran atas tindakan Ribka dan Yakub terhadap Ishak. Jadi, jangan pernah coba-coba memperdaya lansia dengan menjadikan kisah ini sebagai pembenaran, ya! [Pdt. Timur Citra Sari]
REFLEKSI:
Allah terus berkarya melampaui kekacauan hidup manusia.
Ayat Pendukung: Kej. 27:30-38; Mzm. 40:1-11; Kis. 1:1-5
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.