memberi

Memberi di tengah dunia yang serakah

Belum ada komentar 101 Views

Mahatma Gandhi pernah berujar, “Bumi menyediakan cukup untuk memenuhi kebutuhan (need) setiap orang, namun tak cukup untuk keserakahan (greed) setiap orang.” Antara kebutuhan dan keserakahan, need dan greed, kerap terdapat batas yang sangat tipis. Krisis ekonomi global belakangan secara teknis muncul karena kasus subprime mortgage di Amerika Serikat; secara moral dan teologis penyebab utamanya adalah keserakahan. Uang tentulah menjadi simbol utama keserakahan. Voltaire suatu saat pernah menulis secara sarkastis, “Ketika uang dipersoalkan, maka setiap orang memeluk agama yang sama.” Saya kuatir kita bakal gagal membuktikan bahwa Voltaire keliru, karena sekalipun Alkitab penuh dengan pengajaran yang sangat berlawanan dengan pandangan Voltaire, praktik hidup tak jarang menunjukkan kebenaran ucapannya.

Itu sebabnya juga Paulus sangat serius mendukung komitmen jemaat Korintus dalam membantu jemaat Yerusalem. Ia memberi landasan teologis yang mendalam bagi jemaat yang tengah berlatih untuk memberi itu. Pertama, Paulus membalik konsep kaya yang lazim dianut di dunia (semakin banyak memperoleh dan memiliki) menjadi “kaya dalam pelayanan kasih” (ay. 7). Kedua, Kristuslah alasan utama mengapa kita memberi, yaitu karena “Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (ay. 9). Ketiga, keinginan memberi belum sama dengan memberi, karena keinginan tersebut harus dibuktikan hingga selesai (ay. 10-11) Keempat, seni memberi akan menjadi beban jika kerelaan raib (ay. 11-12). Akhirnya, yang kelima, pemberian dilabuhkan pada visi keseimbangan (ay. 13-14).

Kisah soal keserakahan yang paling menawan saya muncul dari pena Leo Tolstoy, dengan judul, “How Much Land Does a Man Need?” Anda wajib membacanya? Jika berminat, Anda bisa memperolehnya di sini:

ja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Berjumpa SANG RAJA dalam Kehinaan
    Yehezkiel 34:11-16, 20-24; Mazmur 95:1-7; Efesus 1:15-23; Matius 25: 31-46
    Skenarionya, bukan saya mengerti apa yang saya lakukan, melainkan saya melakukan suatu perbuatan itu -baik atau jahat- sebagai sesuatu...
  • Kepercayaan Dan Tanggung Jawab
    MATIUS 25: 14-30
    “Wenn Gott einmal bei der Arbeit erwischt hat, dem schickt er zur Strafe immer wieder neue.” (Sekali Tuhan mendapati...
  • Allah itu Besar Kita itu Kecil
    I Tesalonika 4: 13-18
    Setelah manusia mati, kemana? Konsep Surga atau Rumah Bapa menjadi misteri bagi banyak orang di Tesalonika, yang sebagian berasal...
  • Keadilan Tuhan Dinyatakan
    Mikha 3:5-12; Mazmur 43; 1 Tesalonika 2:9-13; Matius 23:1-12
    Mengapa Tuhan Yesus pada akhir hidup-Nya di Kayu Salib berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa...
  • Luka di Hati, Bukan Prasasti
    Imamat 19:1-2, 15-18; Mazmur 1; 1 Tesalonika 2:1-8; Matius 22:34-46
    Siapa yang tidak tahu tentang luka? Kerusakan yang terjadi pada diri sendiri dan seringkali akan menimbulkan rasa sakit. Rasa...
Kegiatan