Membangun Persekutuan dalam Kuasa Roh Kudus

Membangun Persekutuan dalam Kuasa Roh Kudus

Belum ada komentar 343 Views

Banyak gereja menjadi gusar dengan jumlah anggotanya yang semakin hari semakin menurun. Kegelisahan itu juga muncul pada saat apa yang tercatat dengan yang real hadir dalam kehidupan jemaat ternyata berbanding terbalik. Banyak gereja mencoba untuk “memasarkan” gereja dengan segala bentuk program yang trend atau sedang digemari banyak orang, termasuk dengan mengundang orang-orang populer seperti artis. Bahkan disadari atau tidak, kita membuat tolok ukur keberhasilan sebuah pelayanan atau kegiatan dari berapa banyak orang yang hadir? Jika banyak yang hadir dianggap berhasil dan jika sedikit yang hadir dianggap gagal.

Jemaat perdana mengalami penambahan jumlah pengikut secara significant, dikatakan di ayat 47 bahwa setiap hari (bukan setiap tahun) jumlah mereka ditambahkan Tuhan. Bagaimana jumlah mereka bisa terus mengalami peningkatan? Program apa yang sedang mereka lakukan yang begitu menarik perhatian orang banyak di zaman itu? Ternyata yang mereka lakukan adalah dengan membangun relasi. Kehidupan jemaat perdana yang paling menonjol justru terletak pada jalinan relasi yang dekat dan peduli. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul dan doa. Mereka mendekatkan diri satu dengan yang lain (berkumpul untuk memecah roti dan berdoa). Mereka tidak ragu-ragu memberikan pertolongan kepada mereka yang memerlukannya (ayat 45). Begitu guyub dan satunya kehidupan jemaat perdana sehingga mereka menjadi kesaksian yang indah di tengah dunia yang penuh dengan keegoisan.

Pertambahan anggota jemaat adalah sebuah berkat tetapi sekaligus sebuah tanggungjawab. Tentunya kita rindu semakin banyak orang mengenal dan bertumbuh di dalam Kristus. Tidak ada yang salah dari keinginan untuk memiliki banyak anggota. Tetapi yang perlu kita renungkan adalah apakah pertambahan itu sebagai bentuk dari pertumbuhan iman di dalam Tuhan atau sekedar tercatat tetapi tidak kita kenali dan mengerti bagaimana mereka hidup? Hal yang berbeda terjadi dalam kehidupan jemaat perdana, mereka bertambah karena kualitas relasi mereka yang begitu hangat dan peduli. Kualitas relasi inilah yang menjadi kesaksian yang menyejukkan di tengah dunia yang penuh dengan keegoisan. Bagaimana dengan jemaat kita yang besar ini?

Kita bersyukur bahwa secara data kita memiliki jumlah anggota (4000 jiwa lebih) tetapi apa yang terjadi dalam persekutuan kita ini? Sudahkah tercipta persekutuan yang hangat, peduli atau persekutuan yang kaku dan acuh? Bagaimana kita hidup di tengah persekutuan ini adalah bentuk kesaksian kita bagi dunia. Allah memberi Roh Kudus untuk menjadi penolong kita. Roh kudus yang menyatukan kita. Kuasa Roh Kudus mendorong kita untuk menempatkan sesama sebagai saudara dan memperlakukan mereka di dalam kasih untuk saling menguatkan. Mari kita membangun persekutuan kita dalam kuasa Roh Kudus.

dva

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Filipus dan Natanael
    Yohanes 1:43-51
    Injil Yohanes dalam bacaan minggu ini menunjukkan dua tipe orang beriman. Filipus yang merujuk pada Musa dan kitab Taurat,...
  • TOHU WABOHU
    Kejadian 1:1-5 dan Markus 1:4-11
    Dengan apik penulis Injil Markus menuliskan sebuah keterangan bahwa seruan pertobatan Yohanes Pembaptis justru disampaikan di tengah padang gurun...
  • Sang Kekal Diam Bersama Kita
    Yohanes 1:14
    Seorang sastrawan bernama Goenawan Moehamad menulis sebuah catatan, “Selalu ada yang bisa mengerikan dalam hubungan dengan sejarah. Tapi pada...
  • Simeon: Siap Mati dan Berani Hidup
    Lukas 2:29-30
    Salah satu sisi kelam dari pandemi Covid-19 yang paling mendukakan kita semua adalah terenggutnya kehidupan orang-orang yang kita kasihi...
  • Beroleh Kasih Karunia Allah
    Beroleh Kasih Karunia Allah
    Lukas 1:30
    ”Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (Luk. 1:30). Demikian ujar malaikat saat menjumpai...