Melampaui Stigma, Mencipta Persahabatan

Belum ada komentar 5 Views

Setiap perjumpaan selalu melahirkan kesan baik yang positif maupun negatif. Kesan-kesan itu berkumpul, berkelindan, dan melekat sedemikian rupa sehingga menciptakan satu kesimpulan kuat mengenai seseorang atau sekelompok orang. Contohnya seorang ibu berjumpa seorang anak muda bernama Budi. Si Budi selalu tersenyum saat berjumpa dengannya. Hari demi hari dan bulan demi bulan perjumpaan mereka itu membuat si ibu mengambil kesimpulan si Budi adalah orang yang ramah.

Lain lagi (contoh saja), seorang dari luar negeri berkesempatan tinggal di Jogja selama 4 bulan. Dia bertemu dengan beberapa orang Jawa yang selalu membantunya. Lalu di akhir perjumpaan ia mengambil kesimpulan bahwa orang Jawa itu senang membantu.

Contoh di atas adalah contoh positif. Tidak jarang bahwa seseorang kemudian membentuk stigma (tanda) terhadap orang lain atau sekelompok orang bahkan dirinya sendiri secara negatif. Bahkan stigma yang dimiliki banyak orang membentuk generalisasi dan stereotyping. Dan sigma model ini membangun benteng kuat yang menghambat persahabatan.

Bukankah setiap orang ada positifnya yang harus diapresiasi dan punya kekurangan yang harus diterima? Bukankah setiap kelompok ada beragam orang yang berbeda-beda pemikiran dan selalu ada black swan (angsa hitam) yang membuktikan stereotyping itu adalah sebuah ilusi? Apakah stigma yang Saudara buat bagi orang lain? Sebenarnya stigma itu bukan hanya mengganggu persahabatan tetapi juga menyiksa diri sendiri dengan menyuburkan pikiran negatif di dalam jiwa kita. Bersahabatlah!

#Beyond
#Adven4
#Natal21

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Kerajaan Allah: Bukan Lokasi dan Situasi
    Lukas 4:16-21, Lukas 11:11-13
    Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Lk. 4:21) Kerajaan Allah...
  • Kembali ke Kilometer Nol
    Yeremia 6:16, Yohanes 3:5-8
    Beginilah firman TUHAN: “Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik,...
  • (Tak) ‘Ku Tahu ‘Kan Hari Esok
    1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52
    Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan...
  • Melampaui Usia, Menggugah Karya
    1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52
    Tahukah Saudara arti kata ageisme? Ageisme atau ageism (dibaca : agis) adalah diskriminasi berdasarkan usia. Mungkin kita tidak familier...
  • Melampaui Ritualisme, Membangun Makna
    Ritualisme secara sederhana dapat diartikan mengerjakan rutinitasnya tetapi kehilangan tujuan dan maknanya. Seseorang memiliki kecenderungan membangun pola perilaku yang...