Luka di Hati, Bukan Prasasti

Imamat 19:1-2, 15-18; Mazmur 1; 1 Tesalonika 2:1-8; Matius 22:34-46

Belum ada komentar 70 Views

Siapa yang tidak tahu tentang luka? Kerusakan yang terjadi pada diri sendiri dan seringkali akan menimbulkan rasa sakit. Rasa sakit seringkali memicu emosi dalam bentuk menangis bahkan marah. Seorang ibu yang melihat anaknya terbentur meja, biasanya akan berkata “Huh! Jahat mejanya. Sini mama pukul!” Atau ketika kepala kita terbentur sesuatu, entah mengapa muncul perasaan marah dan kesal yang sebenarnya tidak jelas marahnya kepada siapa. Luka selalu menimbulkan reaksi, entah apa pun bentuknya.

Lalu bagaimana dengan luka di hati? Sayangnya luka di hati tidak semudah luka fisik untuk ditemukan. Tidak terlihat bekas luka hati secara langsung. Luka yang bahkan sudah tertimbun di tumpukkan masa lalu dan kita menjadi sangat kesulitan untuk menyembuhkannya. Apalagi ternyata setalah luka itu kita gali, dan kita menemukan luka hati sebagai prasasti. Menjadi sangat tidak mudah untuk dilupakan bahkan rasanya ingin kita bawa mati.

Bagaimana kekristenan melihat hal ini? Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk memiliki kasih. Kasih terhadap sesama dan diri sendiri. Matius 22:39 berkata “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kalau saja kita selalu menyimpan luka hati dalam bentuk prasasti, maka bagaimana kita bisa menjalani kehidupan bersama dengan orang lain dengan baik? Bagaimana kita bisa mengasihi orang lain, kalau kita juga di saat yang bersamaan membiarkan kita membusuk bersama luka yang kita simpan?

Luka di hati bukanlah prasasti yang harus disimpan terus menerus. Hati kita bukanlah batu yang menyimpan setiap goresan masa lalu. Jadikanlah hati kita seperti air, yang dihujam pisau berkali-kali akan kembali reda sendiri. Dikarenakan kita mampu menerima apa yang terjadi meski hati kita akan bergelombang beberapa saat, tetapi mampu menyembuhkan diri sendiri.

-BSS-
#BerdamaiDenganMasaLalu #BerelasiTanpaLuka

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Berjumpa SANG RAJA dalam Kehinaan
    Yehezkiel 34:11-16, 20-24; Mazmur 95:1-7; Efesus 1:15-23; Matius 25: 31-46
    Skenarionya, bukan saya mengerti apa yang saya lakukan, melainkan saya melakukan suatu perbuatan itu -baik atau jahat- sebagai sesuatu...
  • Kepercayaan Dan Tanggung Jawab
    MATIUS 25: 14-30
    “Wenn Gott einmal bei der Arbeit erwischt hat, dem schickt er zur Strafe immer wieder neue.” (Sekali Tuhan mendapati...
  • Allah itu Besar Kita itu Kecil
    I Tesalonika 4: 13-18
    Setelah manusia mati, kemana? Konsep Surga atau Rumah Bapa menjadi misteri bagi banyak orang di Tesalonika, yang sebagian berasal...
  • Keadilan Tuhan Dinyatakan
    Mikha 3:5-12; Mazmur 43; 1 Tesalonika 2:9-13; Matius 23:1-12
    Mengapa Tuhan Yesus pada akhir hidup-Nya di Kayu Salib berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa...
  • Schooling Fish
    Yesaya 45:1-7; Mazmur 96:1-9; 1 Tesalonika 1:1-10; Matius 22:15-22
    Bayangkan saja kalau kita menjadi seekor ikan kecil. Kalau saja kita diberikan pilihan untuk hidup di akuarium atau di...
Kegiatan