Kerahiman Allah, Rumah Sejati

Yohanes 3:1–17

Belum ada komentar 0 View

Saya membayangkan Nikodemus berjalan cepat malam itu. Jubahnya mungkin sedikit terangkat supaya tidak terseret debu. Ia seorang guru. Ia terbiasa memberi jawaban. Malam itu berbeda, ia justru datang membawa pertanyaan.

Informasi bahwa ia datang malam hari itu menarik. Kalau ia yakin, mengapa tidak siang saja? Atau mungkin justru karena ia tidak yakin? Saya mengenali bagian itu. Ada musim ketika kita tetap melayani, tetap berbicara tentang Tuhan, tetapi di dalam hati ada simpul kecil yang tidak terurai. Ada banyak pertanyaan, tetapi kita tidak tahu harus bertanya kepada siapa.

Malam itu, Yesus tidak memberi penjelasan sistematis kepada Nikodemus. Ia justru berkata tentang lahir kembali. Tentang dilahirkan dari atas. Jawaban yang membingungkan bagi Nikodemus yang mendengarnya secara harfiah. Jujur saja, saya pun mungkin akan begitu. Kita ini sering terlalu literal ketika hati sedang cemas.

Dilahirkan kembali. Kembali ke rahim Allah. Rahim itu gelap. Rahim itu ruang sunyi yang menyadarkan kita bahwa kita tidak berdaya di dalamnya, dan sepenuhnya menggantungkan diri pada Sang Pemilik Rahim

Saya bisa memahami bahwa gagasan kembali ke dalam rahim tidak selalu nyaman di telinga banyak orang. Kembali berarti mengakui bahwa kita tidak sekuat yang kita kira. Bahwa iman kita kadang hanya rutinitas. Namun mungkin pulang memang seperti itu. Masuk lagi ke dalam kasih yang tidak bisa kita kendalikan. Mengakui betul bahwa pada mulanya dan pada dasarnya kita tidak berdaya. Mengakui betul bahwa kita bergantung penuh pada Sang Pemilik Rahim Kehidupan.

Maka mungkin, Nikodemus tidak langsung berubah malam itu. Ceritanya tidak ditutup dengan tepuk tangan. Tetapi ia justru pulang dengan membawa kalimat yang belum selesai. Dan mungkin itu cukup.

Adakah bagian dalam hidup Anda yang sebenarnya sudah lama ingin Anda bawa kepada Allah, tetapi Anda masih menundanya karena takut terlihat rapuh? Kesalahan? Penyesalan? Apapun. Percayalah, IA adalah rumah sejati yang tak pernah menolak kepulangan Anda dan saya. (ASC)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu