Kehadiran Yang Setia

Matius 5:13-16

Belum ada komentar 54 Views

Setelah lebih dari 2 tahun dunia dilanda badai pandemik, semua sisi kehidupan mulai beradaptasi dan melakukan berbagai perubahan (adaptif dan reformatif). Situasi ini tentu saja menantang Gereja untuk terus menerus menghadirkan diri dengan setia mendampingi situasi dunia yang rapuh dan mulai nampak tidak berdaya dan kehilangan asa.

Bacaan Firman Tuhan kita hari ini memberikan cipratan yang menyadarkan kembali kehadiran Gereja Tuhan dalam situasi pandemic tanpa batas ini.

Teks bacaan kita muncul sesudah Tuhan Yesus membicarakan tentang penganiayaan (ayat 10-12). Artinya jemaat Tuhan saat itu dihadapkan pada situasi yang tidak mudah, dan menakutkan, sebab mengandung resiko.

Bacaan kita ini, nampaknya dengan sengaja disisipkan sebelum Tuhan Yesus menuntut agar kesalehan kita melebihi legalisme orang-orang Farisi terhadap Taurat (khusus ayat 20 menyinggung “hidup keagamaan” = kesalehan). Sisipan ini memberikan pesan khusus bagi para pembacanya bahwa kehidupan kita tidak lepas dari sorotan orang lain, sekaligus sebagai bahan pembanding atas keperayaan yang lain.

Sekedar mengingatkan saja, sadarkah kita, ketika kita saat ini hidup dalam berbagai kemudahan saja, masih sering mengalami kegagalan memainkan peran sebagai garam dan terang, apalagi pada mereka yang dituntut untuk menunjukkan “hidup sebagai garam terang di tengah-tengah penganiayaan dan tekanan? Mampukah kita sebagai Gereja Tuhan menghadirkan keteladanan yang nyata dari sebuah kekristenan.

Metafora garam dan terang menyiratkan sesuatu yang terus-menerus diperlukan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak membutuhkan “Garam dan Terang”. Setiap hari orang membutuhkan garam untuk memasak. Setiap hari orang membutuhkan terang pada waktu malam hari. Jadi, meskipun Gereja sedang berada dalam situasi penganiayaan dan tekanan, perannya sebagai garam dan terang berlaku terus menerus tanpa ada batas apa pun.

Tidak jarang kita mendengar ungkapan “kita harus menjadi garam dan terang dunia”. Tapi Tuhan Yesus mengajarkan hal yang berbeda “kita adalah garam dan terang”. Bukankah pernyataan ini lebih sebagai sebuah identitas, ketimbang hanya sekedar peran ?”

Persoalan yang muncul saat pandemik berlangsung, memang bukan karena tidak ada garam dan terang. Melainkan garam itu telah menjadi tawar dan terang itu telah ditutupi oleh gantang.

Bagaimana dengan kita sebagai Gereja? apakah masih setia untuk menghadirkan diri dalam situasi yang tidak mudah ini? atau duduk dalam keputusasaan dan tidak lagi bisa berbuat apa-apa.

Semoga Tuhan berbelas kasihan dan menolong kita. Amin

(TT)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Bertobatlah!
    Matius 3:1-12
    Adven adalah moment yang mengingatkan kita untuk menanti kedatangan Kristus Kembali. Ada beragam cara untuk memersiapkan diri. Namun semua...
  • Bersiaplah
    Matius 24: 36 – 44
    Tersembunyinya waktu dan tidak terduganya kedatangan Tuhan Yesus, menyebabkan orang percaya mengalami kesulitan dalam mempersiapkan diri. Kita sebagai orang...
  • Mencintai dalam kerapuhan
    Filipi 2:5-11
    “Rendah hati” merupakan kata kunci tulisan Rasul Paulus pada jemaat di gereja Filipi, nilai tersebut diikuti dengan contoh konkret...
  • MENGHADIRKAN ALLAH SANG CINTA
    1Yohanes 4:8-16 (10)
    Di dalam diri Tuhan Yesus, kita mengenal Allah dan kasih-Nya. Alih alih mengajar dan berbicara tentang kasih, Ia menghidupi...
  • Keluarga yang Bergaul Dengan Firman
    Ada seorang anak berusia 10 tahun asal Amerika Serikat yang hatinya begitu lembut, namanya adalah Liam Hannon. Setiap Minggu,...