Jangan Menyakiti Anak, Sayangilah…

Jangan Menyakiti Anak, Sayangilah…

1 Komentar 12 Views

Puji syukur, karena kita sudah memiliki visi misi yang baru untuk 2011-2021: “Sebuah jemaat yang hidup, terbuka, partisipatif dan peduli”. Dalam visi-misi ini kita masih menekankan aspek ‘kepedulian’. Rasanya kepedulian tak akan pernah lekang dimakan jaman, karena rahmat Allah memang selalu mewujud pada kepedulian pada siapapun.

Nah, membuka bulan peduli GKIPI tahun ini, kita akan banyak merenungkan tentang kepedulian yang kita wujudkan kepada anak. Salah satu bentuk kepedulian kita kepada anak adalah, tidak menyakiti (hati) anak, atau dalam bahasa Efesus 6:4, jangan bangkitkan amarah di dalam hati anak. Amarah adalah respon manusiawi ketika seseorang hatinya tersakiti. Jadi, tidak menyakiti hati anak, bukan sekedar tidak memukul, tetapi tidak melakukan apapun yang dapat menyakiti hati anak.

Di sinilah, paling tidak kita lalu belajar tiga kesalahan yang seringkali dibuat orang dewasa dalam relasinya dengan anak:

  1. Mengartikan tidak menyakiti hanya dalam pemahaman tidak memukul. Padahal banyak sekali hal lain yang dapat menyakiti hati anak. Misalnya tidak memenuhi kebutuhan afeksinya, dan hanya memenuhi kebutuhan fisiknya. Hal ini banyak dilakukan oleh Pasutri yang sibuk bekerja, hanya menyediakan fasilitas hidup (mungkin sampai berkelimpahan) tetapi yang dibutuhkan anak sesungguhnya bukan itu. Mereka butuh kasih dan perhatian. Ketika kebutuhan afeksi anak tidak terpenuhi, maka anak akan tersakiti!
  2. Mempertentangkan antara ‘tidak menyakiti’ dengan ‘mengajarkan disiplin’. Padahal keduanya dapat sejalan. Mengajarkan disiplin memang mengandung hukuman buat anak yang melanggar, tetapi asalkan hukuman itu disepakati bersama, maka hukuman itu tidak menyakiti anak, malahan menimbulkan pemahaman bahwa orangtua memperhatikan mereka dan mengasihi mereka. Bukankah Firman Tuhan mengatakan: “Jika kamu harus menanggung ganjaran, Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” (Ibrani 12:7)
  3. Hukuman harus dalam bentuk memukul di bagian tertentu yang tidak membahayakan anak (spanking). Padahal ada banyak bentuk hukuman lain yang tanpa harus memukul anak. Jika kita bisa tidak memukul, kenapa harus memilih untuk memukul? Biar bagaimanapun, ‘memukul’ betapapun ringannya adalah sebuah perilaku agresif yang cenderung ditiru oleh anak.

Marilah kita belajar untuk menyayangi anak-anak.

RDj.

1 Comment

  1. pargodungan™

    Dari sisi ini memang kelihatan penekanan terhadap apa yang mesti diperhatikan sebagai orangtua (ay. 4). Namun di sisi anak (ay. 1-3) ada juga tiga tekanan di dalam teks tersebut:
    1. Bentuk ketaatan anak terhadap orang tua di dalam Allah.
    2. Bentuk penghormatan anak kepada orangtua.
    3. Janji Tuhan atas ketaatan dan penghormatan terhadap orang tua.

    Salam.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Filipus dan Natanael
    Yohanes 1:43-51
    Injil Yohanes dalam bacaan minggu ini menunjukkan dua tipe orang beriman. Filipus yang merujuk pada Musa dan kitab Taurat,...
  • TOHU WABOHU
    Kejadian 1:1-5 dan Markus 1:4-11
    Dengan apik penulis Injil Markus menuliskan sebuah keterangan bahwa seruan pertobatan Yohanes Pembaptis justru disampaikan di tengah padang gurun...
  • Sang Kekal Diam Bersama Kita
    Yohanes 1:14
    Seorang sastrawan bernama Goenawan Moehamad menulis sebuah catatan, “Selalu ada yang bisa mengerikan dalam hubungan dengan sejarah. Tapi pada...
  • Simeon: Siap Mati dan Berani Hidup
    Lukas 2:29-30
    Salah satu sisi kelam dari pandemi Covid-19 yang paling mendukakan kita semua adalah terenggutnya kehidupan orang-orang yang kita kasihi...
  • Beroleh Kasih Karunia Allah
    Beroleh Kasih Karunia Allah
    Lukas 1:30
    ”Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (Luk. 1:30). Demikian ujar malaikat saat menjumpai...