Jangan Lelah menabur

Belum ada komentar 103 Views

Panggilan orang percaya adalah menjadi penabur. Maka tidak mengherankan kata penabur menjadi kata yang sering dipakai dalam pembicaraan, tema acara, bahkan lembaga-lembaga tertentu. 

Bahasa penabur adalah bahasa yang lahir dalam budaya agraris. Tentu harapan dari sang penabur adalah benih yg ditaburnya tumbuh subur dan produktif menghasilkan buah yang baik. 

Penulis, tidak ingin menyoroti tentang kita yang diumpakan sebagai tanah. Penulis ingin menyoroti bagaimana kita bisa menjadi penabur-penabur kebaikan dan kebenaran di dunia ini guna menjawab panggilan orang percaya. Oleh karenanya apa yang harus disiapkan oleh seorang penabur menjadi penting, bukan?

Pertama, penabur harus mengenal ladangnya. Ladang seperti apakah yang akan ditaburinya? Persiapan ladang sangat penting. Dalam hal kehidupan ini, pengenalan akan komunitas dan lingkungan yang akan kita taburi kebaikan dan kebenaran sangat vital. Bagaimana cara komunikasi dengan orang yang ada di sana, bahasa yang digunakan, waktu yang tepat, dan beragam assessment agar benih kebaikan dan kebenaran itu tumbuh perlu diteliti terlebih dahulu. 

Kedua, tentang jenih benih. Dari pengenalan akan ladang, benih yg perlu ditaburkan juga harus dipilih. Paulus pernah berbicara tentang makanan lunak dan makanan keras. Apakah ‘ladang’ yg kita akan taburi benih siap dengan sesuatu yang kompleks atau mulai dari hal yang sederhana?

Ketiga, tentang perawatan. Ladang yang telah ditaburi benih perlu dirawat. Apakah kita model penabur yang ‘hit and run’ atau kita model penabur yang merawat? Tentu diharapkan benih itu disiram dan disiangi (membuang tanaman oengganggu) oleh sang penabur. 

Keempat, mempercayakan pertumbuhan pada Allah. Monitoring dan evaluasi amat diperlukan tetapi yang memberi pertumbuhan adalah Allah sendiri melalui Roh Kudusnya. Keadaan belum berhasil bukan berarti menyurutkan semangat penabur. Justru dengan keadaan itu penabur mendapatkan pengalaman untuk memperbaiki pelayanannya dan meyakini bukan kekuatannya yang membuat pertumbuhan itu berhasil, tetapi kehendak Allah.

Kelima, penabur perlu menjaga ritme pekerjaan. Setiap petani sadar kapan ia harus mundur dari beristirahat dari ladangnya untuk bekerja kembali keesokan harinya. Apalah artinya memiliki mental ‘sprint’ tetapi kelelahan dan akhirnya semua berantakan. Mengatur diri, retret, refleksi, dan jenis istirahat lain, sangat diperlukan kita sebagai penabur-penabur kehendak dan karya Allah dalam dunia. 

Selamat menjadi penabur. Allah menolong kita semua

BA

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Peace Maker or Peace Lover
    Saudara, ada banyak peristiwa yang terjadi belakangan ini. Berbagai bencana alam yang baru-baru saja terjadi seolah menambah rangkaian permasalahan...
  • Ketika Iman Menuntut Bukti
    Kisah Para Rasul 4:32-35; Mazmur 133; 1 Yohanes 1:1 -2:2: Yohanes 20:19-31
    Saudara, manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup tanpa rasa percaya. Setiap hal yang kita lakukan, selalu berdasar pada...
  • Kebangkitan
    Yohanes 20:1-18
    Para murid dalam duka mendalam setelah melihat Sang Guru mati disalibkan, memilih jalan masing-masing, menyibukan diri demi menghilangkan rasa...
  • Pengosongan Diri
    Filipi 2:5-11, Markus 11:1-11
    Yesus memasuki Yerusalem dengan kesadarannya akan jalan sengsara-Nya, menyambut sengsara itu dengan tangan terbuka. Kesaksian penulis injil Markus, menunjukan...
  • Pemberitaan
    Yeremia 31:31-34; Mazmur 51:2-13; Ibrani 5:5-10; Yohanes 12:20-33
    Pemberitaan apa yang menurut Saudara paling heboh akhir-akhir ini? Vaksin? Varian baru Covid 19? Atau berita tentang KLB Partai...