Hidup Otentik

1 Samuel 15:34-16:13

Belum ada komentar 188 Views

Menurut kamus dictionary.com, cosmetic berarti “alat-alat superfisial untuk membuat sesuatu tampak lebih baik, lebih menarik, atau lebih mengesankan. ” Dengan definisi ini dapatlah kita berkata bahwa kita hidup di dalam sebuah budaya kosmetik (a cosmetic culture). Segala sesuatu dihias agar tampak baik dan tampak mengesankan. Apa yang terlihat lebih penting dari apa yang sesungguhnya. Hidup beragama pun kerap mengalami kosmetikisasi. Tidak sungguh-sungguh beriman tidak masalah, asal tampak beragama.

Kisah pemilihan Daud sebagai raja Israel tampaknya menggugat budaya kosmetik ini. Dibandingkan semua saudaranya, Daud tampak tidak menjanjikan sebagai seorang calon raja. Sebab “ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok” (ay. 12). Seluruh gambaran ini tidak ingin menegaskan keelokan Daud, malah sebaliknya. Ia tampak kurang gagah, kurang jantan, kurang macho dalam ukuran sosial saat itu. Sebab, “bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Klaim ini merupakan sebuah budaya tandingan (counter-culture) terhadap budaya kosmetik. Apa yang sesungguhnya ada di dalam hati lebih penting dari apa yang kaulihat.

Pesannya bagi kita sungguh dalam, sekaligus sederhana. Pertama, jangan merasa rendah diri hanya karena Anda tak terlihat OK dalam ukuran sosial. Sebaliknya, kedua, jangan merasa sombong jika Anda terlihat OK dalam ukuran sosial. Ketiga, hal yang sama perlu kita terapkan ketika kita berhadapan dengan orang lain. Jangan pernah menilai orang lain dari apa yang Anda lihat, sebab tak seorang pun, selain Allah, mampu menilai hati seseorang. Ketika ketiga prinsip ini kita pegang, maka kita akan berada di jalur yang tepat, yaitu kehidupan yang otentik.

ja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Ini Aku, Jangan Takut
    Semua orang memiliki rasa takut. Rasa takut bisa disebabkan oleh berbagai penyebab dan faktor. Wajarkah manusia merasa takut? Tentu...
  • Menjadi Gembala, Membangun Relasi Dengan Sesama
    Yeremia 23:1-6; Mazmur23; Efesus 2:11-22; Markus 6:30-34, 53-56
    Sang Gembala Agung itu Allah, la membimbing kita dengan begitu baik adanya. Allah juga melibatkan kita untuk menjadi gembala-gembala...
  • Harga Dari Sebuah Kebenaran
    Amos 7:7-15; Mazmur 85:9-14; Efesus 1:3-14; Markus 6:14-29
    Apakah mengatakan hal yang benar itu mudah? Sangat tidak mudah? Apa yang membuatnya menjadi begitu sulit untuk diwujudkan? Resikonya!...
  • Allah Yang Hadir Dalam Kelemahan Dan Keterbatasan
    Yehezkiel 2:1-5; Mazmur 123; 2 Korintus 12:2-10; Markus 6:1-13
    Membicarakan kelemahan bukanlah hal mudah bagi kita karena kita terbiasa menyim- pan atau menutupi kelemahan dengan berbagai cara dan...
  • Iman Menembus Batas Ketakutan
    Markus 5:21-43
    Perikop ini berisi dua kisah yang dijalin bersamaan. Kisah pertama tentang Yairus, seorang kepala rumah ibadat, yang meminta Yesus...