Hidup Kudus Bagi Sesama

Imamat 19:9-18

Belum ada komentar 248 Views

Dalam dunia Perjanjian Lama, hidup dalam kekudusan Allah, adalah hidup yang dipisahkan, dikhususkan untuk suatu misi tertentu, demikian juga ketika diterjemahkan dalam dunia Perjanjian Baru mempunyai makna yang sama. Karena itu, tidak sedikit orang yang menafsirkan bahwa hidup dalam kekudusan Allah berarti hidup yang memisahkan diri dari masyarakat umum, dari kehidupan ‘dunia yang cemar’ ini dan tindakannya cenderung mengasingkan diri.

Menarik untuk memerhatikan kenyataan hidup dalam kekudusan yang dipaparkan dalam kitab Imamat. Pengertian menguduskan Allah berarti memilih hanya Allah lah yang patut dikhususkan untuk disembah, dimuliakan. Ketika seseorang menguduskan Allah maka dengan sendirinya ia akan berusaha menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah, dengan demikian ia akan memiliki hubungan yang baik dengan Allah, karena selalu berusaha untuk menyenangkan hati Tuhan.

Hidup yang dikuduskan oleh Allah adalah hidup yang melanjutkan misi Allah untuk hidup di tengah-tengah masyarakat dan menyatakan kepeduliannya, seperti memelihara orang-orang miskin, menjauhi kebohongan, tidak mengutuki dan mencelakakan orang-orang yang berkebutuhan khusus (tuli dan buta) serta tidak berbuat curang dalam peradilan, selain itu juga, tidak membenci saudaranya, melainkan mengasihi mereka, sebagaimana Tuhan juga mengasihi semua manusia tanpa membeda-bedakan.

Jadi jelas, bahwa perintah hidup kudus sangat erat kaitannya dengan melakukan tindakan kasih. Orang yang mengasihi atau menguduskan Allah harus memberlakukan kasih Tuhan. Allah adalah “Kasih”, tanpa memberlakukan kasih, mustahil manusia dapat hidup kudus di hadapan Allah.

Berusaha untuk keluar dari lingkaran “kenyamanan” dan masuk dalam pergumulan bersama masyarakat, untuk menyatakan kasih, kepedulian dengan mengungkap kebenaran dan keadilan adalah bagian dari belajar hidup dalam kekudusan Allah.

(tt)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Berjumpa SANG RAJA dalam Kehinaan
    Yehezkiel 34:11-16, 20-24; Mazmur 95:1-7; Efesus 1:15-23; Matius 25: 31-46
    Skenarionya, bukan saya mengerti apa yang saya lakukan, melainkan saya melakukan suatu perbuatan itu -baik atau jahat- sebagai sesuatu...
  • Kepercayaan Dan Tanggung Jawab
    MATIUS 25: 14-30
    “Wenn Gott einmal bei der Arbeit erwischt hat, dem schickt er zur Strafe immer wieder neue.” (Sekali Tuhan mendapati...
  • Allah itu Besar Kita itu Kecil
    I Tesalonika 4: 13-18
    Setelah manusia mati, kemana? Konsep Surga atau Rumah Bapa menjadi misteri bagi banyak orang di Tesalonika, yang sebagian berasal...
  • Keadilan Tuhan Dinyatakan
    Mikha 3:5-12; Mazmur 43; 1 Tesalonika 2:9-13; Matius 23:1-12
    Mengapa Tuhan Yesus pada akhir hidup-Nya di Kayu Salib berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa...
  • Luka di Hati, Bukan Prasasti
    Imamat 19:1-2, 15-18; Mazmur 1; 1 Tesalonika 2:1-8; Matius 22:34-46
    Siapa yang tidak tahu tentang luka? Kerusakan yang terjadi pada diri sendiri dan seringkali akan menimbulkan rasa sakit. Rasa...
Kegiatan