Spiritualitas Yohanes Pembaptis adalah spiritualitas penunjuk. Tujuan hidupnya hanya satu, yaitu mempersiapkan jalan bagi kedatangan Mesias. Karyanya didedikasikan untuk menunjuk pada Yesus Kristus, agar semakin banyak orang dituntun menuju Sang Juruselamat. Dan ia melakukannya dengan sangat konsisten. Dua kali dalam bacaan Injil diperlihatkan seruan Yohanes Pembaptis: Ecce Agnus Dei, “Lihatlah Anak Domba Allah” (ay. 29 & 36).
Demi menunaikan tugasnya ini, Yohanes Pembaptis sadar bahwa ia tak boleh mengikat para pengikutnya untuk dirinya sendiri. Ia justru menuntun mereka kepada Kristus Salah satu muridnya adalah Andreas, yang akhirnya menjadi pengikut Kristus. Bahkan Andreas pulalah yang memperkenalkan Simon Petrus kepada Yesus, sampai akhirnya Simon Petrus pun menjadi pengikut Kristus.
Betapa indahnya jika setiap orang Kristen menghidupi spiritualitas penunjuk ini. Kita diundang untuk menghidupi sebuah tujuan yang jelas, yaitu memperlihatkan kepada orang lain siapa yang harus mereka ikuti. Tujuan hidup semacam ini jelas tak mudah sebab kita dituntut untuk menjadi tidak populer. Kita diundang untuk sungguh-sungguh menyadari bahwa bukan kitalah yang menjadi pusat dunia ini, melainkan Kristus Semesta tidak berputar mengelilingi diri kita. Sebab, kita hanya berada di tepian, dan dari sana kita mendorong sebanyak mungkin orang untuk berjumpa dengan Sang Anak Domba Allah itu.
Begitu konsistennya Yohanes Pembaptis dalam mempersaksikan Kristus sampai-sampai St. Augustinus menafsirkan Lukas 1:41 secara menarik, yaitu ketika janin Yohanes “melonjak” ketika ibu mereka saling bersua. Augustinus berujar “Sebagai wakil dari masa lalu, ia lahir dari orang tua yang sudah lanjut usia; sebaga pembawa berita yang baru, ia dinyatakan sebagai nabi, sejak masih dalam kandungan ibunya.” (JA)

Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.