Menegur seseorang sebagai saudara sepersekutuan sangat berbeda dengan menegur seorang rekan kerja di kantor. Di kantor, dengan mudah dapat mengacu kepada aturan yang berlaku yang tertulis dan sudah ditanda tangani oleh yang bersangkutan. Tujuan peneguran yang dilakukanpun biasanya semata hanya untuk membuat pekerjaan tetap dapat berjalan dengan baik. Orang yang ditegur karena tindakannya yang salah dengan melanggar peraturan juga biasanya lebih mudah memahami, menerima konsekuensi, dan melanjutkan pekerjaannya. Tidak demikian halnya saat di gereja. Saat seseorang ditegur, penegur perlu memiliki ‘hati’ yang penuh kasih saat melakukannya. Bahkan sekalipun sudah dilakukan dengan ‘hati’ yang penuh kasih plus ‘hati-hati’ seringkali hasilnya tidak sesuai harapan. Hati retak Gereja retak.
Injil Matius memberikan pengajaran tentang menjaga keharmonisan suatu relasi, antar individu dalam jemaat, tanpa membiarkan sesuatu yang salah terus berjalan. Pertama, seseorang yang mengetahui sesuatu yang salah, perlu memiliki kematangan di dalam menanganinya. la bisa memanggil dan berbicara empat mata dengan yang bersangkutan dengan tujuan pertobatan. Akhir yang diharapkan adalah engkau mendapatkannya kembali. Kalau tidak berhasil, jangan membicarakannya di luar tujuan awal. Melainkan dibahas di ruang terbatas, dua atau tiga orang, supaya kesalahan itu nyata bukan hanya di mata satu orang, sembari menjaga muka orang tersebut. Tahap ini memang bisa jadi makin tidak nyaman, sebab bisa jadi menimbulkan perasaan seolah diadili, apalagi kalau sudah ke tahap akhir, melibatkan jemaat -misalnya pengurus atau majelis- di dalam menyampaikan teguran. Sampai tahap inipun, Matius memberikan kemungkinan terpahit, bahwa seseorang itu tak berubah. Saat itulah biasanya ada perasaan yang membuat semua gelisah. Urusan memperbaiki yang salah, bisa melebar sampai kemana-mana, dan keutuhan persekutuan dipertaruhkan.
Tentu kita selalu berharap, kasih Kristus cukup. Cukup untuk membuat yang menegur dan yang ditegur bahkan orang-orang lainnya memiliki kerendahan hati dan cinta kasih yang memulihkan. Memulihkan hati saudaranya dan hatinya yang terluka. Dalam proses ini, hati yang retak sangat mungkin dialami oleh penegur dan yang ditegur, apalagi sampai ada perkataan-perkataan yang saling melukai. Di tiap gereja, hal ini sangat mungkin terjadi. Bersiaplah memliki hati yang betul-betul murni, di posisi apa pun kita.
Matius 18:20 dengan sangat manis, menuliskan sebuah keadaan yang baik, yakni “Sebab, dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Mengapa ini terdengar manis? Saya membayangkan, orang yang bersitegang itu menaruh egonya dan mengadakan perjumpaan, percakapan yang sulit itu, tegur menegur itu, di dalam nama Tuhan Yesus. Jika itu yang kita lakukan, kata-kata kita pasti terjaga, dan kalaupun terlanjur terluka dan melukai, hati yang retak, gereja yang retak, dibawa kepada-Nya. Tuhan sangat mampu pulihkan. Saya bahkan membayangkan, konflik itu malah mentransformasi relasi sebelumnya, mengubahkan semakin baik. Semakin saling mengenal. Semakin saling mendoakan. Semakin saling peduli. Sebab teguran dan pemulihan, semua dilakukan di dalam nama-Nya.
Dalam persekutuan, dalam kerjasama dengan saudara sepelayanan, menegur dan ditegur adalah hal yang biasa, lakukanlah di dalam nama-Nya dengan penuh kasih. Tuhan memberkati anak-anak-Nya, Tuhan memberkati gereja-Nya. Amin (DM)




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.