… dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut….(Lukas 1:74b)
Kita yang hidup di negeri ini terbiasa mengaitkan rasa takut dalam beribadah dengan larangan mendirikan gereja, gangguan saat umat tengah beribadah, atau intimidasi terhadap jemaat dalam berbagai kesempatan. Beragam bentuk gangguan tersebut antara lain berupa pemasangan spanduk penolakan, demonstrasi di depan gereja, pemutaran musik dengan volume nyaring hingga mengganggu jalannya ibadah, bahkan ada pula orang- orang yang masuk ke gereja sambil berteriak-teriak.
Namun, selain dari luar, gangguan juga bisa datang dari dalam. Gangguan jenis ini membuat kita tidak dapat menikmati ibadah, sekalipun gedung gereja tidak dilempari batu dan jemaat duduk dengan tenang. Gangguan itu berasal dari dalam diri kita sendiri. Ia mengundang keresahan dan menghadirkan rasa takut. Biasanya, hal ini berawal dari kesalahan atau dosa yang tidak ditangani dengan baik. Bisa jadi kita memberikan pembenaran atau berusaha menutupinya rapat-rapat. Meskipun tidak ada orang yang tahu, Roh Kudus di dalam diri kita mengetahuinya. Roh Kudus menolak sikap kita yang membiarkan kesalahan atau dosa tersebut.
Semakin lama kita membiarkan kesalahan atau dosa bercokol dalam diri, semakin besar pula keresahan yang kita rasakan tanpa ujung. Daripada terus merasakannya, mengapa tidak segera kita bereskan dengan membawanya kepada Sang Pengampun? [Pdt. Timur Citra Sari]
REFLEKSI:
Sebagaimana kita mencari jalan keluar untuk mengatasi gangguan dari luar, bereskan juga gangguan dari dalam diri sendiri.
Ayat Pendukung: Kej. 49:1-2, 8-13, 21-26; Mzm. 27:7-14; Luk. 1:67-79
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.



Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.