Dipotong atau Dibersihkan? Atau bukan keduanya?

Dipotong atau Dibersihkan? Atau bukan keduanya?

Belum ada komentar 139 Views

Kita sering membaca ayat 2, “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya” dalam terang ayat 6, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Atas dasar itu, kita menyimpulkan bahwa jika seorang Kristen tidak berbuah, ia akan dipotong (ay. 2), lalu terjadilah apa yang digambarkan di dalam ayat 6: dibuang, dicampakkan ke dalam api, lalu dibakar.

Namun, kita lupa, bahwa ayat 2 dan ayat 6 berbicara tentang dua jenis ranting yang sama-sekali berbeda. Yang membedakan adalah, yang satu hidup di dalam Kristus (“pada-Ku”, ay. 2), yang lain “tidak tinggal di dalam” Kristus (ay. 6). Keduanya sungguh tak sama.

Jika demikian, jangan-jangan memang sebuah ranting yang ada di dalam Kristus yang tidak berbuah akan dipotong, sehingga ia menjadi tidak tinggal di dalam Kristus? Penafsiran semacam ini kok tampak berlawanan dengan prinsip “diam di dalam Kristus” yang menyiratkan anugerah Allah. Kita diam di dalam Kristus bukan karena kita berbuah atau tidak, namun karena memang anugerah Allah. Kalau demikian, mengapa “dipotong” (ay. 2)?

Mungkin masalahnya ada pada terjemahannya. Di dalam ayat 2, kata “dipotong” (airō) memiliki akar kata yang sama dengan “dibersihkan” (kathairō). Tetapi, kata airō bisa juga berarti “mengangkat” dan ternyata arti ini yang lebih banyak dipergunakan di dalam Injil. Misalnya:

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil (airō, bukan memotong) mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. (Mat. 14:12)

Agaknya terhadap ranting yang tak berbuah di ayat 2, lebih tepat diperlakukan “pengangkatan” bukan “pemotongan.” Joseph Dillow pernah menulis bahwa di Palestina, ranting-ranting yang jatuh dan tak bisa berbuah “diangkat dengan perhatian yang sangat besar dan diberi waktu untuk sembuh … sebuah ranting yang tak berbuah diangkat dan diletakkan pada posisi yang membuatnya dapat memberi buah.” Agaknya penafsiran ini lebih tepat, sekaligus menyediakan sebuah teologi yang lebih sehat.

[J.A]

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • KESALAHAN DALAM KESALEHAN
    Apakah orang saleh tidak pernah salah? Apakah orang saleh tidak boleh salah? Pertanyaan ini menjadi sangat penting dalam memahami...
  • Berbagi Kisah Perbuatan Ajaib Tuhan
    Mazmur 78:1-7
    Salah satu kata kunci dalam Mazmur 78 adalah “menceritakan.” Cerita yang dimaksud adalah tindakan kasih Allah bagi anak-anak-Nya. Ketika...
  • Mempersaksikan Kristus
    Yohanes 1:29-42
    Yesus pernah berkata bahwa Yohanes Pembaptis adalah yang terbesar “di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan” (Mat. 11:11; Luk....
  • Melangkah di dalam Ketaatan
    Matius 3:13-17
    Pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis menandai kemunculan Yesus untuk kali pertama di hadapan publik. Kesediaan Yesus dibaptis oleh Yohanes...
  • Pakailah Kami!
    Matius 25:31-46
    Ibadah tahun baru ini unik, sebab kita memulai awal tahun ini dengan teks yang justru berbicara mengenai penghakiman akhir....