Bukan Basa-Basi

Wahyu 3:7-13

1 Komentar 27 Views

Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Aku pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi. (Why. 3:10)

Tahun 2018, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games XVIII. Saat itu, pemerintah Indonesia menjanjikan bonus uang sebesar satu setengah milyar rupiah untuk setiap medali emas yang diraih atlet Indonesia. Janji itu bukan basa-basi. Janji itu ditepati. Tiga puluh satu pahlawan medali emas Indonesia yang tekun dan setia saat berlatih telah menerima dan menikmati janji tersebut. Kalau manusia bisa menepati janji, apalagi Allah.

Bacaan Alkitab hari ini berbicara tentang janji Allah kepada jemaat di Filadelfia. Allah berjanji untuk melindungi mereka dari masa kesusahan. Janji itu disampaikan karena mereka setia menaati perintah Allah dan tekun menantikan Dia. Allah tahu betul apa yang mereka lakukan. Allah tahu kekuatan jemaat Filadelfia tidak seberapa. Jumlahnya sedikit dan mereka mengalami tekanan dari beberapa pendusta jemaat Iblis yang menyangkal Tuhan. Namun, iman mereka teguh kepada Kristus. Karena itu, Allah berpihak pada mereka. Janji Allah nyata menghibur, menguatkan, memelihara, dan melindungi mereka walau dalam pencobaan.

Pergumulan, kesulitan, masalah, bahkan keterbatasan apa pun, bukanlah alasan untuk menyangsikan janji penyertaan Allah. Sebagaimana kepada jemaat Filadelfia, Dia berjanji segera datang, janji itu berlaku juga bagi setiap orang percaya. Cukup taat melakukan perintah-Nya, tekun, dan sabar menantikan Dia, maka pertolongan-Nya akan kita alami. Janji Allah tidak pernah mengecewakan. [Pdt. Norita Yudiet Tompah]

REFLEKSI:
Allah tidak pernah basa-basi menepati janji-Nya, karena itu percayalah pada janji penyertaan Allah dengan tidak basa-basi.

Ayat Pendukung: Mzm. 83:1-4, 13-18; Kel. 5:1-6:13; Why. 3:7-13
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.

1 Comment

  1. Lula Bagus

    Saya baru pertama kali memaksakan diri membuka ibadah on-line GKI PI. Karena secara pribadi saya memang orang yang lebih senang ibadah dalam perjumpaan bersama orang lain di dalam ruangan gereja.

    Pagi ini pk 04.00 WIB saya mencobanya untuk mengalahkan pikiran saya. Tetap kurang rasanya tidak ada tatap muka langsung dan terasa jadi ibadah nyambi ngetik di WA. Terus terang. Jadi tidak khusuk.

    Saya berdoa semoga apa yang dituliskan dalam kitab Habakuk 3, tentang penyakit sampar dan demam yang sudah nyata ada pada zaman itu bahkan saat ini kita mengalaminya dengan C19 ini. Bukanlah membuat kita manusia menjadi kecil hati dan bahkan takuuuut bergerak untuk membuka gedung gereja sebagai tempat ibadah tanpa jam ibadah.

    Usul, biarkan gedung gereja terbuka bagi umat yang ingin menggunakannya untuk berdoa pribadi. Anggap saja, kita berpikiran positif, bahwa gedung gereja sama manfaatnya seperti rumah sakit, mesjid atau pun mushola yang membuat orang untuk lebih merasa nyaman beribadah tanpa jam ibadah sehari 4 x pada hari minggu.

    AC dimatikan, jendela dibuka.

    Sangguhkah?

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan Harian
  • Pikiran Yang Terbuka
    Lukas 24:36-48
    Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. (Luk. 24:45) Beberapa tahun lalu, ketika hendak melakukan sebuah...
  • Lebih Daripada Yang Diharapkan
    Kisah Para Rasul 3:1-10
    Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus,...
  • Tenteram Di Malam Hari
    Mazmur 4
    Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan...
  • Mengaku Dosa
    Daniel 9:1-19
    Maka aku memohon kepada TUHAN, Allahku, dan mengaku dosaku …. (Dan. 9:4) Setiap hari Minggu, di dalam ibadah, kita...
  • Memuji Tuhan
    Mazmur 135
    TUHAN melakukan apa yang dikehendaki-Nya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya …. (Mzm....