Berbahagia walau….

Lukas 6: 17-26

Belum ada komentar 61 Views

Ungkapan “berbahagialah” mengingatkan kita pada pengajaran Tuhan Yesus tentang “Kotbah di Bukit”.

Sebutan berbahagialah mereka yang miskin, yang lapar dan yang menangis diparalelkan dengan celakalah mereka yang kaya, yang kenyang dan yang tertawa. Paralel ini bukan berarti hitam putih, yang kaya, kenyang dan tertawa pasti akan menderita, atau yang miskin, lapar dan menangis pasti akan bergembira dan bersukacita.

Semua hal di atas sebenarnya terkait dengan apa yang ada di dalam hati manusia, ketimbang yang nampak, karena orang yang tampak kaya, kenyang dan tertawa, bisa saja hanya kelihatannya seperti itu namun dalam kehidupannya sendiri banyak mengalami kekurangan, kelaparan dan tangisan karena permasalahan yang dihadapi.

Oleh sebab itu kata kunci pada ayat 22 sangat penting untuk dipahami: apabila oleh karena Anak Manusia, kamu dibenci, dikucilkan, dicela dan ditolak, maka berbahagialah, dan bahkan lebih jauh lagi pada ayat 23 dikatakan “bersukacitalah dan bergembiralah” karena upahmu besar di Sorga.

Suasana kebahagiaan dalam kehidupan seseorang, menurut Tuhan bukan dilandaskan pada kenyamanan yang diperolehnya karena keberhasilannya, tapi justru sebaliknya, seseorang akan mengalami kebahagiaan ketika ia melakukan seperti yang dikehendaki oleh Tuhan yaitu ketika ia menyatakan apa yang benar, apa yang adil, dan apa yang sesuai dengan sabda atau firman Tuhan.

Tapi yang seringkali terjadi, banyak orang memposisikan diri sebagai orang yang hanya menyenangkan orang lain, meskipun ia melakukan ketidakadilan, penindasan dan merugikan orang lain. Orang lebih memilih menyenangkan orang lain, ketimbang menyenangkan Tuhan. Tindakan seperti ini lah yang dilakukan oleh nabi-nabi palsu, yaitu orang lebih suka memilih aman, ketimbang harus menegur kesalahan orang lain. Nabi palsu tidak punya keberanian untuk menegur orang lain, karena ia juga merasa mempunyai kesalahan.

Hati-hati potensi untuk menjadi nabi palsu juga ada pada kita, dan karena itu hidup kita di dalam Tuhan tidak berbahagia.

tt

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Luka di Hati, Bukan Prasasti
    Imamat 19:1-2, 15-18; Mazmur 1; 1 Tesalonika 2:1-8; Matius 22:34-46
    Siapa yang tidak tahu tentang luka? Kerusakan yang terjadi pada diri sendiri dan seringkali akan menimbulkan rasa sakit. Rasa...
  • Schooling Fish
    Yesaya 45:1-7; Mazmur 96:1-9; 1 Tesalonika 1:1-10; Matius 22:15-22
    Bayangkan saja kalau kita menjadi seekor ikan kecil. Kalau saja kita diberikan pilihan untuk hidup di akuarium atau di...
  • Rasa Haus
    Air menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan. Banyak hal membutuhkan air. Mulai dari tubuh manusia sebagian besar terdiri...
  • Apa yang kita letakkan pertama?
    Yesaya 5:1-7; Mazmur 80:8-16; Filipi 3:4-14; Matius 21:33-46
    “Selalu ada yang pertama untuk segalanya.” Apa anda pernah mendengar kalimat tersebut? Ya, sebagian besar dari kita tentu akan...
  • Hidup Dalam Keramahan Dan Cinta
    Yehezkiel 18: 1-4, 25-32 Mazmur 25: 1-9 Filipi 2: 1-13. Matius 21: 23-32
    Perubahan ke arah yang lebih baik adalah dambaan semua orang. Saya yakin dan percaya bahwa semua orang, tanpa kecuali...
Kegiatan