Bawalah Anak kepada Tuhan

Bawalah Anak kepada Tuhan

1 Komentar 3560 Views

“… berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan … Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.” (Mat. 19:1, 13)

Salah satu alasan mengapa kita harus membawa anak-anak kita kepada Allah adalah karena Allah sendiri yang mendatangi mereka. Allah tidak pernah menanti manusia untuk datang kepada-Nya, jika manusia menghendaki     kehidupan. Allahlah yang mendatangi manusia di dalam ketidakmampuan mereka untuk datang kepada Allah. Kesediaan Allah di dalam Yesus untuk mendatangi manusia ternyata tidak mensyaratkan dari pihak manusia pemahaman atau iman pada tingkat tertentu. Semua orang didatangi Yesus: dewasa     maupun anak, orang kaya maupun orang miskin, laki maupun perempuan, orang pandai maupun orang dengan keterbatasan mental, dan seterusnya.

Gereja yang menyadari kebenaran ini haruslah bergumul terus-menerus untuk mengevaluasi pelayanan dan pendampingannya bagi anak-anak muda. Saya hendak memberikan beberapa contoh praktis. Pertama, gereja kita  sudah tuntas dalam menggumuli masalah sakramen baptis anak, namun  belum    selesai dalam menyikapi pertanyaan, apakah anak-anak diizinkan  mengikuti sakramen perjamuan kudus. Jika perjamuan kudus mengikuti   baptisan, maka dengan mengizinkan anak-anak menerima baptisan kudus, sewajarnya jika kita pun mempertimbangkan dengan serius untuk memberi ruang bagi anak-anak dalam menikmati roti dan anggur yang melambangkan tubuh dan darah     Kristus, yang di dalam nama-Nya mereka dibaptis. Kedua sakramen ini didasari oleh perjanjian anugerah Allah, bukan iman atau pemahaman manusia.

Kedua, gereja kita perlu juga secara serius mempertimbangkan keterlibatan anak-anak dalam ibadah umum. Ibadah umum kita telah salah nama karena ternyata yang menghadirinya “tidak umum,” namun hanya orang dewasa. Anak-anak dikhususkan di ibadah anak-anak. Mungkin, jika memang kita belum mampu mengintegrasikan anak-anak ke dalam ibadah umum, maka nama ibadah umumlah yang perlu diganti namanya menjadi ibadah dewasa.

Kedua kasus di atas merupakan contoh bagimana kita perlu menggumuli tugas gereja dan orangtua untuk membawa anak-anak kepada Tuhan. Dan dalam pergumulan itu, ingatlah selalu nasihat Yesus, sahabat anak-anak itu, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku …” (Mat. 19:14).

JA



1 Comment

  1. timoty.shores

    Terimakasih kepada pak Joas Adiprasetya sudah menyadari kekliruan gereja,bahwa perjamuan kudus bisa diiikuti atau diberikan kepada anak,namun masih banyak hal yang tidak Alkitabiah yang dilakukan oleh gereja seperti contohnya:
    Baptis percik seharusnya Selam sesuai dengan arti kata “Baptis”itu sendiri
    Baptis Anak seharusnya penyerahan Anak (1.Sam2:28)
    Hari-hari Raya Kristen yang sekarang tidak berdasarkan Alkitab,mis;natal 25 Desember,Paskah telur(easter);kenaikkan Tuhan Yesus..dsb..seharusnya seperti pada Imamat 23(hari-hari Raya Tuhan)
    pengagungan hari Minggu seharusnya Sabat,penggunaan nama Allah seharusnya Elohim
    ..dsb
    Memang untuk perubahan seperti itu membutuhkan waktu yang lama dan resistensi yang kuat namun dengan tulisan pak Joas ini merupakan awal yang baik bagi perubahan dalam pengajaran gereja,biarlah Roh Kudus sendiri akan membukakan lagi hal-hal yang masih terselubung bagi gereja,sekali lagi terimakasih pak Joas,..Tuhan Yesus memberkati!!

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Schooling Fish
    Yesaya 45:1-7; Mazmur 96:1-9; 1 Tesalonika 1:1-10; Matius 22:15-22
    Bayangkan saja kalau kita menjadi seekor ikan kecil. Kalau saja kita diberikan pilihan untuk hidup di akuarium atau di...
  • Rasa Haus
    Air menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan. Banyak hal membutuhkan air. Mulai dari tubuh manusia sebagian besar terdiri...
  • Apa yang kita letakkan pertama?
    Yesaya 5:1-7; Mazmur 80:8-16; Filipi 3:4-14; Matius 21:33-46
    “Selalu ada yang pertama untuk segalanya.” Apa anda pernah mendengar kalimat tersebut? Ya, sebagian besar dari kita tentu akan...
  • Hidup Dalam Keramahan Dan Cinta
    Yehezkiel 18: 1-4, 25-32 Mazmur 25: 1-9 Filipi 2: 1-13. Matius 21: 23-32
    Perubahan ke arah yang lebih baik adalah dambaan semua orang. Saya yakin dan percaya bahwa semua orang, tanpa kecuali...
  • Yang Terdahulu Dan Yang Terkemudian
    Yunus 3:10 ‐ 4:11. Mazmur 145: 1‐8. Filipi 1: 21‐30. Matius 20: 1‐16
    Siapakah orang jahat menurut kita? Para perampok, perusuh, pembunuh, koruptor, perusak alam, penyiksa binatang, dan pelaku kejahatan lainnya. Ya...
Kegiatan