Allah Yang Memulihkan

Allah Yang Memulihkan

Yehezkiel 37:1-14 (PRA PASKA 5)

Belum ada komentar 629 Views

Pada saat tubuh menjadi lemah, kita mengharapkan pemulihan agar tubuh dikuatkan dan disegarkan kembali. Ketika keluarga menjadi retak dan tercerai berai, kita juga mengharapkan pemulihan agar kesatuan dan kesehatian hadir dalam keluarga. Dengan kata lain pada saat kondisi damai sejahtera jauh dari kenyataan maka pengharapan akan pemulihan makin menguat mengiringi segala perjuangan dan usaha kita. Setiap orang menginginkan kelegaan dari himpitan, kemerdekaan dari penindasan, kesukacitaan dari kesedihan.

Setelah 10 tahun lamanya menjadi tawanan di negeri Babel, mereka menerima kabar bahwa Bait Allah dihancurkan musuh. Israel telah kalah secara politik, ekonomi dan spiritual. Kesulitan, kekalahan dan penderitaan bertubi-tubi mereka alami, mengeringkan pengharapan, mematahkan semangat. Apa yang diharapkan dari hari esok jika di hari ini yang nampak hanyalah puing-puing kehancuran.

Di tengah situasi seperti itulah Yehezkiel menyapa umat. Sapaan yang bukan saja menghibur dan menguatkan tetapi juga sapaan yang mengajak umat hidup dalam pertobatan. Yehezkiel mengajak umat untuk memaknai setiap peristiwa yang menimpa mereka sebagai sebuah proses pembentukan Allah. Memproses mereka untuk mengevaluasi hidup dan bersikap rendah hati di hadapan Allah. Kerendahan hati yang diikuti dengan kemauan hidup dalam pertobatan dan mengikuti kehendak Allah di dalam ketaatan. Pemulihan bukanlah sebuah impian tetapi kenyataan yang akan direngkuh dan dinikmati oleh umat. Tulang yang kering dan berserakan akan dikumpulkan dan dipulihkan Allah. Masa depan baru penuh harapan tersedia di depan, mengajak umat untuk menyongsongnya dengan sikap pertobatan dan ketaatan.

Demikian pula dalam hidup kita di masa sekarang ketika kesulitan, penderitaan silih berganti menghampiri kehidupan. Harapan kita mungkin telah pupus. Kekuatan dan daya juang mengendor. Menatap dengan apatis akan datangnya pemulihan. Dalam situasi demikian, Allah mengulurkan tangan-Nya untuk memulihkan kita. Sambutlah. Sambutlah bukan saja dengan sikap sukacita tetapi sikap taat pada kehendak-Nya. Pada saat kita melangkah setapak demi setapak di dalam tuntunan kasih-Nya, kita akan melihat dan membuktikan karya pemulihan-Nya dinyatakan dalam kehidupan ini. Biarlah dalam masa pra paska kelima ini kita semakin menghayati panggilan pertobatan untuk menyambut pemulihan-Nya.

dva

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • The Power of Empathy
    Seorang profesor di sebuah universitas di hari pertama perkualiahan, berdiri dengan tegak di depan mahasiswanya dan memberikan sebuah pendahuluan...
  • Harta Paling Berharga
    Pada umumnya orang merasa bahwa harta yang paling berharga adalah uang. Dengan uang, mereka akan dapat membeli apa pun...
  • Bebaskan Aku Dari Yang Tidak Kusadari
    Bilangan 11:4-6,10-16,24-29
    Kesadaran adalah hal yang biasa kita dengar. Namun biasa didengar bukan berarti mudah untuk dilakukan. Kerapkali dalam melakukan hal...
  • Tidak Mengerti Namun Segan Menanyakannya
    Markus 9:30-37
    Bertanya adalah bagian dari proses belajar. Dengan bertanya kita membuka ruang untuk berdialog, membagi dan mendapat pengertian yang baru....
  • Memilih Menyuarakan Kebenaran
    Markus 8:27-38
    Siapa sih di dunia ini yang ingin mendengarkan kebohongan atau mendengarkan sesuatu yang tidak sebenarnya? Rasanya setiap kita ingin...