allah menyesal

Allah Menyesal

Yun. 3:10-4:11; Mzm. 145:1-8; Flp. 1:21-30; Mat. 20:1-16

Belum ada komentar 138 Views

Apabila ada salah seorang dari saudara kita yang berdosa kemudian bertobat dan Tuhan mengampuninya, bagaimana kah sikap kita, senang kah ? atau justru kecewa dan marah seperti sikap yang ditunjukkan oleh Yunus ? bukan kah seharusnya kita bersukacita jika Tuhan memberikan kesempatan lagi bagi saudara kita untuk menerima pengampunan dan diselamatkan ?

Yunus yang telah berlelah-lelah menyuarakan pesan Tuhan, menghendaki agar Tuhan konsisten terhadap keputusan yang telah dibuatnya, bahwa Tuhan akan mendatangkan hukuman kepada Niniwe atas kejahatan mereka. Tetapi yang terjadi sebaliknya, Allah “menyesal” merancangkan hukuman bagi mereka, karena pertobatan orang-orang Niniwe. Padahal Yunus sudah keluar dari kota itu untuk menantikan apa yang akan terjadi di sana (ay. 5).

Bagi Yunus, muncul pertentangan antara kasih Allah dengan hakikat keadilan, bahwa orang-orang Niniwe harusnya dihukum walaupun mereka telah bertobat. Dia mengharapkan keadilan Allah, sebab bagaimana mungkin kejahatan mereka yang begitu besarnya dapat diampuni dalam sekejap mata hanya dengan berkabung dan berpuasa. Seharusnya Allah memberikan hukuman yang setimpal atas kejahatan mereka dan barulah Tuhan memberikan keselamatan yang setimpal dengan pertobatannya. Yunus memang mengharapkan adanya keringanan hukuman sebab mereka telah bertobat, tapi bukan pembatalan hukuman.

Allah yang menyesal, menggambarkan belas kasih Allah, lebih besar daripada penghakiman-Nya. Sebab belas kasih yang diwujudkan dalam pengampunan akan menjadi perekat, yang mempersatukan kehidupan dalam komunitas. Tidak ada komunitas yang dapat bertahan tanpa ada kesediaan untuk saling mengampuni. Pengampunan ini lah yang memberikan ikatan dalam situasi yang baik atau tidak baik, sehingga melaluinya akan berkembang hidup yang saling mengasihi.

Namun sebagaimana yang ditunjukkan dalam kisah Yunus, kepentingan-kepentingan pribadi kita terus-menerus menghalangi keinginan kita untuk hadir satu bagi yang lain, tanpa syarat. Kasih kita selalu dibatasi oleh syarat-syarat yang terungkap maupun yang tak terungkap.

Tidak ada sekecil apapun dosa yang luput dari hukuman Allah dan tidak ada sebesar apapun dosa yang tidak diampuni oleh Allah. Ini adalah kasih dan keadilan Allah.

Kita harus saling mengampuni, karena kita bukan Allah yang dapat menentukan harus diampuni atau dihakimi. Lakukanlah !!!

(tt)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Kerajaan Allah: Bukan Lokasi dan Situasi
    Lukas 4:16-21, Lukas 11:11-13
    Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Lk. 4:21) Kerajaan Allah...
  • Kembali ke Kilometer Nol
    Yeremia 6:16, Yohanes 3:5-8
    Beginilah firman TUHAN: “Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik,...
  • (Tak) ‘Ku Tahu ‘Kan Hari Esok
    1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52
    Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan...
  • Melampaui Usia, Menggugah Karya
    1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52
    Tahukah Saudara arti kata ageisme? Ageisme atau ageism (dibaca : agis) adalah diskriminasi berdasarkan usia. Mungkin kita tidak familier...
  • Melampaui Stigma, Mencipta Persahabatan
    Setiap perjumpaan selalu melahirkan kesan baik yang positif maupun negatif. Kesan-kesan itu berkumpul, berkelindan, dan melekat sedemikian rupa sehingga...